Dana Desa untuk Inovasi Desa

Dana Desa untuk Inovasi Desa

Alat pengusir burung sawah aeromodeling dengan bahan bekas. Inovasi Sugeng Riyanto dari Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. (Foto: SHNet)

SHNet, JAKARTA – Dana desa yang digelontorkan oleh pemerintah tidak harus digunakan untuk pembangunan infrastruktur desa. Dana desa juga bisa digunakan untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pengembangan inovasi ekonomi yang dibutuhkan masyarakat.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat melakukan sosialisasi dana desa kepada sejumlah kepala desa serta pendamping desa kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Minggu (4/11) mengatakan dana desa akan segera digeser untuk pemberdayaan ekonomi dan inovasi desa.

“Kami ingin dana desa tidak hanya urusan infrastruktur saja, tapi ke pemberdayaan ekonomi masyarakat desa, menggeser ‘grek’ masuk ke pemberdayaan ekonomi dan inovasi desa,” kata Kepala Negara.

Penggunaan dana desa ke depan bisa kerja sama dengan industri sehingga pemanfaatan dana desa benar-benar mengurangi kemiskinan di desa. Dengan bekerja sama dengan industri, produk pertanian tidak ada yang terbuang karena tidak ada pasar yang menampungnya. Kolaborasi antara desa dengan industry, dengan perusahaan-perusahaan sangat dibutuhkan agar pemanfaatan dana makin efektif dan efisien ke depan.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kemendes PDTT, M Fachri, beberapa waktu lalu mengungkapkan pemanfaatan dana desa harus mampu melahirkan inovasi yang dapat menjadi ladang penghasilan bagi desa. Hal itu sudah dilakukan oleh sejumlah desa dan hasilnya sangat positif. Misalnya dilakukan oleh Kepala Desa Cisayong, Tasikmalaya, yang membangun lapangan sepakbola bertaraf internasional.

“Ketika saya tanya beliau, apa manfaatnya menghabiskan dana besar untuk lapangan tersebut, Pak Kades menjelaskan bahwa lapangannya disewakan kepada klub-klub yang mau bermain. Tiap hari ada dua klub menyewa dengan biaya Rp 500.000. Sekarang sudah waiting list sampai dua bulan. Artinya, desa itu mendapat income Rp 1 juta per hari,” katanya.

Penggunaan dana desa akan makin efektif jika memiliki spesifikasi bidang usaha. Karena itu, kata M Fachri, kepala desa tidak perlu terpaku pada kebijakan umum penggunaan dana desa, tetapi harus lebih inovatif dan kreatif. Kepala desa tidak boleh berhenti berinovasi dan tidak perlu takut, asalkan dana desa tidak digunakan untuk kepentingan pribadi.

Semenjak keberadaan UU No 6/2014 tentang Desa, setiap desa mendapat alokasi dana desa dari APBN yang besarannya selalu bertambah. Pada tahun 2018 misalnya, rata-rata setiap desa mendapat alokasi dana desa sebesar Rp 800 juta. Tahun 2019 diperkirakan setiap desa sudah mendapat alokasi dana sebesar Rp 1 miliar/desa, sesuai dengan ketentuan dalam UU tersebut.

Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memiliki Program Pekan Inovasi Desa dan Kelurahan (PINDesKel) yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kapasitas desa dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa yg berkualitas. Tahun 2018, PINDesKel berlangsung di Bali.

Direktur Evaluasi Perkembangan Desa, Kemendagri, Eko Prasetyanto mengatakan tingkat inovasi desa sangat penting untuk mengetahui capaian hasil perkembangan sebuah desa. Tingkat inovasi desa akan menjadi bagian evaluasi perkembangan desa, apa yang sudah dicapai dan apa yang perlu ditingkatkan.

Membangun desa dengan meningkatkan kemampuannya dalam berinovasi sejalan dengan program kerja Presiden Jokowi, yakni membangun Indonesia dari pinggiran. Dengan makin meningkatnya inovasi dan kreativitas masyarakat desa, upaya mengurangi urbanisasi makin mudah. Mayarakat pedesaan tidak akan kalah dari masyarakat kota. Desa bukan lagi hanya penopang masyarakat perkotaan. Sebaliknya kota dan desa ada dalam jajaran yang sama.

Menurut Mendes PDTT, Eko Putro Sandjojo, setidaknya ada 30.000 inovasi desa saat ini yang terdokumentasi, baik tertulis maupun video. Jika inovasi desa tersebut bisa di-sharing satu dengan yang lain akan sangat bagus. Desa-desa bisa saling belajar satu dengan yang lain dalam menggembangkan desanya.

Karena itu peran teknologi informasi menjadi sangat penting bagi pembangunan desa. Teknologi tidak hanya mempermudah administrasi desa, tetapi juga wahana untuk bisa belajar lebih cepat dari tempat lain.  (Inno Jemabut)