Apa Pentingnya Bangun Bendungan?

Apa Pentingnya Bangun Bendungan?

Bendungan Way Sekampung

SHNet, LAMPUNG – Puluhan bendungan telah dibangun oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) saat ini. Setidaknya 65 bendungan menjadi total target pembangunan bendungan oleh pemerintahan sekarang, 2014-2019. Ada yang merupakan bendungan baru, yakni 49 unit dan sisanya 16 unit adalah lanjutan dari pembangunan era pemerintahan yang telah berlalu.

Dalam pertemuan dengan para petani di Dusun Pelayangan, Desa Pujodadi, Kecamatan Pardasuk, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Presiden Jokowi mengatakan ketersediaan air merupakan salah satu faktor penting dalam bidang pertanian, terutama untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Indonesia memang memiliki curah hujan cukup tinggi, terutama saat musim hujan. Namun, hal tersebut tidak menjamin ketersediaan air untuk irigasi serta merta terpenuhi. Banyak daerah masih mengalami kekeringan di musim kemarau. “Masalah di pertanian kita ini apa sih? Yang paling utama adalah air. Bukan hanya di Lampung saja, juga di NTB, NTT, dan provinsi yang lain. Kenapa air? Padahal kita musim hujan sering sekali hujan banyak, tapi waduk kita ini kurang,” kata Kepala Negara, Sabtu (24/11) lalu.

Dengan wilayah yang sangat luas, jumlah bendungan di Indonesia masih sangat sedikit. Dari semenjak Indonesia merdeka hingga tahun 2014 lalu, waduk dan bendungan yang dimiliki hanya 231 buah. Padahal di Tiongkok terdapat 11.000 waduk dan bendungan, India memiliki 1.500 waduk, Amerika Serikat 6.100 waduk, dan Jepang memiliki sekitar 3.000-an.

Padahal areal pertanian Indonesia sangat luas dan Indonesia adalah negara agraris. “Inilah pekerjaan besar kita, bagaimana menyediakan air untuk para petani, menyediakan irigasi ke sawah-sawah kita. Tanpa itu, lupakan yang namanya ketahanan pangan,” tegas Presiden Jokowi.

Bendungan Way Sekampung

Di Lampung, saat ini sedang dibangun dua buah bendungan. Salah satunya adalah Bendungan Way Sekampung di Kabupaten Pringsewu. Diharapkan bendungan ini bisa mengairi kebutuhan pertanian di daerah tersebut. Lahan persawahan bisa memanen hingga dua kali dengan hasil yang lebih baik.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuldjono, mengatakan progress pembangunan Bendungan Way Sekampung berjalan cukup baik. “Progres fisiknya kini sudah mencapai 42 persen. InsyaAllah,  pada Desember 2019 kita bisa selesaikan, lebih dini dari target semula tahun 2020,” kata Basuki.

Ia menjelaskan salah satu upaya yang dilakukan untuk percepatan pembangunan bendungan tersebut adalah dengan penggunaan metode blasting yang bisa menghasilkan 4.000 m3 galian untuk setiap kali ledakan. Cara itu lebih efektif dibandingkan menggunakan alat berat. Batunya pun bisa digunakan sebagai material bendungan.

Bendungan Way Sekampung memiliki kapasitas tampung 68 juta m3. Airnya nanti akan dimanfaatkan menambah areal irigasi seluas 15.000 hektar dalam Sekampung System sehingga menjadi total seluas 70.000 hektar. Targetnya, air dari bendungan ini akan meningkatkan intensitas tanam menjadi 260 persen, terutama untuk Kabupaten Pringsewu.

Bendungan juga akan menyediakan air baku untuk Kota Bandar Lampung, Kota Metro dan Kabupaten Lampung Selatan sebesar 2,48 m3/detik. Potensi listrik 5,4 MW, mereduksi banjir sebesar 185 m3/detik serta menjadi objek wisata di Kabupaten Pringsewu.

Menjadikannya sebagai ssalah satu objek wisata bukan tanpa alasan. Menurut Basuki, pekerjaan bendungan itu sangat rapi, dan untuk penanganan longsoran tebing dilakukan dengan penanaman tumbuhan, seperti yang diterapkan di Bendungan Leuwikeris di Kabupaten Tasikmalaya.

Bendungan lain di Lampung adalah Bendungan Margatiga yang ditargetkan memiliki kapasitas tampung 65 juta m3 di hilir Sungai Way Sekampung. Bendungan di Lampung Timur ini akan mengairi lahan irigasi seluas 10.950 Ha, sumber air baku 800 liter/detik. Konstruksi bendungannya dikerjakan oleh PT. Waskita Karya dengan nilai kontrak Rp 813 miliar.

Modernisasi Peralatan

Sedangkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, terus berupaya memodernisasi peralatan pertanian selama ia memimpin sector tersebut. Penyediaan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) terus digenjot dalam upaya tingkatkan efisiensi dan efektifitas budidaya pertanian.

Menurut Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Pending Dadih Permana, pemanfaatan alsintan mampu tingkatkan efisiensi usaha tani antara 35 hingga 48 persen.

“Saat ini ada kecenderungan secara global, tidak hanya di Indonesia, tenaga kerja pertanian berkurang, minat generasi muda juga semakin menurun. Karena itu, tentunya kita harus genjot modernisasi pertanian,” katanya Pending.

Setidaknya pihaknya telah menyalurkan bantuan alsintan sekitar 350.000 unit dalam empat tahun terakhir. Bantuan tersebut terdiri dari traktor roda dua, traktor roda empat, pompa air, rice transplanter, chopper, cultivator, excavator, hand sprayer, implemen alat tanam jagung, dan alat tanam jagung semi manual. (inno jemabut)