Akhiri Konflik, Warga Lakukan Upacara Belah Kayu Doli

Akhiri Konflik, Warga Lakukan Upacara Belah Kayu Doli

Acara damai belah kayu doli, simbol perdamaian dua kelompok yang berseteru di Puncak Jaya, Papua

SHNet, KALOME – Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya melakukan acara belah kayu doli di Distrik Kalome sebagai tanda perdamaian sekaligus menyudahi pertikaian pasca pelantikan kepala kampung di Distrik Ilu. Acara belah kayu dilaksanakan untuk menindaklanjuti kesepekatan damai yang dilakukan warga sebelumnya.

Rombangan pemerintah kabupaten yang ikut dalam kesepakatan damai itu adalah Bupati Puncak Jaya Yuni Wonda, Wakil Ketua II DPRD Mendi Wonerengga, Wakil Bupati Puncak Jaya Deinas Geley, Kapolres Puncak Jaya AKBP. Ary Purwanto, Dandim 1714/PJ Letkol Inf. Akmil Satria Martayuda Darmawi, Plt. Sekda Tumiran, Sekwan Daud Wendamili, Plt. Kepala BPBD Matius Kiwo, Kepala Satpol PP Herman D. Wanma.

Sebagai syarat adat, belah kayu doli dilakukan di jalan poros Tingginambut-Kalome. Kedua pihak, yakni Kalome dan Tingginambut masing-masing menunjukkan keseriusan untuk berdamai dengan secara bersama-sama membuat gerbang kayu doli yang merupakan simbol perdamaian. Gerbang perdamaian itu dilewati oleh kedua pihak yang bertika secara bersama-sama.

Sesaat sebelum upacara perdamaian, warga dari kedua belah pihak bergerak menuju tempat dilangsungkannya acara damai dengan tarian adat perang. Hal yang membuat pihak pemerintah daerah terkejut. Namun, dijelaskan oleh Sekwan Puncak Jaya, Daud Wendamili, bahwa itu adalah hal yang biasa untuk menunjukkan keseriusan dari keduanya untuk mengakhiri perang.

Seusai acara belah kayu doli, proses perdamaian masih akan diikuti oleh prosesi patah panah, bakar batu perdamaian, dan rangkaian acara adat lainnya. Saat acara berlangsung, masing-masing perwakilan bernampilan awam (melabur wajah dengan arang, memakai bulu kasuari, membawa panah dan berkalung taring babi). Sementara anak babi menjadi syarat seserahan masing-masing pihak yang bermusuhan.

Acara belah kayu doli di Puncak Jaya, Papua. (Foto: Humas Pemda Kabupaten Puncak Jaya)

Waktu yang ditunggu dan magis adalah saat kedua pihak memanah anak babi sembari di lempar ke arah kubu lawan. Penembakan dilakukan oleh masing-masing kepala parang. Ini adalah waktu puncak, simbol terjadinya komitmen bersama untuk menjaga perdamaian. Sebelum acara puncak itu dilakukan masing-masing warga dari kedua belah pihak tidak boleh berdekatan, karena tidak diperkanankan mengganggu apalagi mentervensi juru runding atau kepala perang masing-masing.

Acara belah kayu doli itu diikuti dengan penandatangan secara administrasi agar memiliki kekuatan hukum di luar hukum adat. Adapun yang membubuhkan tanda tangan kesepakatan damai adalah Terban Wonda, Pinggirnuwer Wanimbo, Gawan Wenda, Tekian Kogoya, Esman Kogoya dari Kalome dan Yotius Gire, Tenakir Gire, Dei Walia, Tekiles Tabuni, Mailes Wonda dari Tingginambut.

Ganti Busur dengan Skop

Kapolres Puncak Jaya AKBP Ary Purwanto, berharap acara belah kayu doli bisa menyelesaikan konflik antara kampung dan antara suku di Papua. “Kita telah menyaksikan satu momentum sejarah di mana hari ini Tuhan menunjukan kuasa-Nya. Selama ini kita bertikai hingga menimbulkan korban material sudah selesai, tidak ada lagi amarah, benci dan dendam. Mari kita sama-sama bergandengan tangan antara pemerintah dan masyarakat mengawal pembangunan. Tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan,” kata Ary.

Hal serupa disampaikan Dandim 1714/PJ Akmil Satria Martayuda Darmawi. Ia berharap tidak ada lagi busur dan panah yang mengakibatkan korban jiwa. “Mari kita gantikan busur dan panah itu dengan skop dan linggis untuk menanam buah merah, markisa, nenas dan lainnya. Apabila masih ada kelompok yang masih kurang paham akan kami tangani. Damai itu indah,” katanya.

Foto: Humas Pemda Kabupaten Puncak Jaya

Akibat konflik di Kalome dan Tingginambut, pemalangan jalur transportasi Wamena – Mulia kerap terjadi. Bupati Yuni Wonda mengatakan pembangunan terhenti jika situasi keamanan tidak dijaga dengan baik. Pemerintahan tidak bisa memberi pelayanan dengan maksimal. Padahal perkembangan dunia terus berjalan dan anak cucu akan terus menunggu apa yang dilakukan kakek-neneknya saat ini. “Saya mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga keamanan di Kabupaten Puncak Jaya bahwa pengangkatan dan pemberhentikan kepala kampung adalah kewenangan dan tanggungjawab Bupati. Jangan mudah terpengaruh/terprovikasi oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab,” kata Yuni Wonda.

Terhadap permasalahan yang ada, ia menjelaskan proses hukum sudah berjalan. Lagipula mengganti kepala kampung oleh bupati berdasarkan kinerja dengan tetap memperhatikan ketentuan yang ada. “Masalah pengangkatan dan pemberhentian kepala kampung sementara dalam proses hukum di PTUN Jayapura. Kemungkinan akan naik banding, kasasi selama proses itu butuh waktu cukup lama,” katanya.

Semengtara Wakil Bupati Puncak Jaya, Deinas Geley, mengatakan kepala daerah sangat netral dalam menangangi masalah ini. PIhaknya tidak akan membeda-bedakan siapapun dalam mewujukan Kabupaten Puncak Jaya yang sejahtera dan makmur. Kini, pihak pemerintah kabupaten menunggu realisasi kesepakatan damai tersebut.

Hal yang pasti adalah acara patah panah/lepas busur, bakar batu akan dilakukan selama tiga hari dan direncanakan pada tanggal 12-15 November 2018. Acara ini akan berlangsung dari Distrik Ilu, Nioga, Kalome hingga Distrik Tingginambut.