Tunjukkan Dunia bahwa Kita Bermoral Pancasila

Menlu Tentang Reaksi Masyarakat Terhadap Singapura :

Tunjukkan Dunia bahwa Kita Bermoral Pancasila

Perwakilan Asing Di Jakarta Protes Pengrusakkan Gedung Kedutaan

Jakarta, 21 Oktober 1968 – Menlu Adam Malik menyatakan hari Senin siang di Deplu bahwa kita boleh marah terhadap Singapura yang telah menghukum mati 2 anggota KKO-ALRI tetapi harus mengingat batas hukum yang berlaku dan moral Pancasila.

Atas pertanyaan pers apakah hubungan diplomatik RI – Singapura akan diputuskan, Adam Malik menjawab : “Jadi maksud saudara harus konfrontasi lagi dan panggil Soekarno kembali ?”.

Menlu menyatakan bahwa persoalan ini harus kita hadapi dengan kepala dingin dan masyarakat hendaknya mempercayakan penyelesaian kepada pemerintah.

Tunjukkanlah kepada dunia bahwa kita ini bukan barbar. Kalau kita menyatakan menolak cara bertindak ala PKI mengapa di jaman Orde Baru masih ada yang melakukan pengrusakan.

Adam Malik mengungkapkan bahwa Senin pagi ini Duta Besar Thailand selaku ketua dari Kepala Perwakilan Asing di Indonesia telah menyampaikan surat protes kepada Menlu berhubung dengan penyerbuan terhadap bangunan Kedutaan Besar Singapura di Jakarta dan meminta agar pemerintah RI menjamin keamanan jiwa dan milik anggota Corps diplomatik.

Atas pertanyaan Menlu mengulangi bahwa tindakan Singapura jelas kita anggap tidak wajar dan ini sudah diprotes sedang kedua prajurit ABRI tersebut oleh pemerintah telah diangkat jadi pahlawan nasional tetapi dalam menentukan sikap selanjutnya kita harus berpegang kepada hukum internasional dan dasar Pancasila.

Adam Malik menambahkan bahwa ia sudah sejak 2 tahun yang lalu mengambil tindakan pembelaan terhadap Usman dan Harun antara lain dengan mengirim advokat ke Singapura untuk mendampingi mereka.

Aksi boikot
Aksi boikot telah mulai dijalankan di Jakarta atas kepentingan Singapura. Kapal Indonesia sejak Jum’at lalu telah membatalkan semua pelayarannya ke Singapura. Kapal itu membawa barang hasil bumi dan barang dagangan lainnya untuk Singapura. Kapal itu akhirnya memutuskan hanya akan melayani trayek Jakarta – Tanjung Pinang dan Belawan.

Buruh pelabuhan Indonesia juga telah memutuskan melakukan pemboikotan atas kapal Singapura.
Di Tokyo sejumlah mahasiswa Indonesia telah mengadakan aksi demonstrasi mendatangi Guest House Kedutaan Besar Singapura di kota itu, dimana PM Singapura Lee Kuan Yew menginap.

Mahasiswa Indonesia yang hendak menyampaikan protes keras kepada Lee tidak berhasil menemui karena menginapnya dijaga keras oleh polisi Jepang.

Lee tiba di Tokyo awal minggu yang lalu untuk kunjungan pribadi. Selama di Tokyo Lee dikawal dengan keras ia berada di Jepang dua hari sebelum pelaksanaan hukuman gantung tersebut untuk sengaja menghindarkan diri dari kunjungan pejabat Indonesia yang berusaha untuk meminta peringanan hukuman atas diri dua sukarelawan.

Sampai Senin pagi ini, pemerintah Indonesia masih tetap berhati-hati dalam menentukan sikap selanjutnya terhadap Singapura karena dikhawatikan eksploitasi peristiwa hukuman mati itu dapat mengeruhkan kembali suasana politik di Asia Tenggara. (SH)