Toraja Utara Swasembada Cabai Dengan Dana Desa

Toraja Utara Swasembada Cabai Dengan Dana Desa

Ist

SHNet, Jakarta – Apa jadinya jika harga cabai mencapai Rp 100.000 perkilogram seperti yang lalu-lalu? Tentu saja, semua orang pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak! cabai buat sebagian besar masyarakat Indonesia tak ubahnya seperti makanan pokok. Apapun yang dimakan harus ada rasa pedasnya.

Jadi kenaikan harga cabai otomatis akan menambah pengeluaran belanja, baik di kalangan ibu-ibu rumah tangga ataupun pedagang. Jika harga cabai melambung, harga makanan yang dijual di warung-warung makan juga ikut naik. Atau jika harga makanan tidak dinaikkan, porsi sambal akan dikurangi dan akibatnya makanan berasa hambar. Tapi, cerita seperti itu tidak berlaku buat masyarakat di Kabupaten Toraja Utara.

Masyarakat di sana tidak pernah mengalami kenaikan harga cabai yang sebegitu fantastis. Mau tahu mengapa? Ini alasannya. Kabupetan Toraja Utara swasembada sayur-sayuran, utamanya cabai dan tomat. Bupati Toraja Utara Kalatiku Paimbonan dalam wawancara dengan SHNet, di sela-sela seminar internasional “Optimalisasi Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Guna Mewujudkan Desa Sejahtera”, di Jakarta, Senin (1/10) mengatakan, dana desa yang dikucurkan pemerintah selama ini digunakan untuk meningkatkan kemandirian dan partisipasi warga.

Dana desa di sana dipergunakan untuk meningkatkan sektor perkebunan masyarakat. Saat ia menjabat sebagai Bupati Toraja Utara pada 2015, ia memiliki program 100 hari menanam cabai dan tomat. “Hasilnya, tidak ada cerita orang kesulitan beli cabai di sana,” katanya. Menurutnya, jika harga cabai naik, petani di Toraja Utara justru senang karena pendapatan mereka naik. “Saya alergi dengan orang beli cabai dan tomat. Mereka harus tanam sendiri,” ujarnya.

Selain untuk sektor perkebunan, kata Kalatiku, dana desa juga digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Toraja Utara saat ini memiliki ukiran dan tenun. (Tutut Herlina)