Tergulungnya Dusun Padena Suku Da’a Kaili di Sigi

Tergulungnya Dusun Padena Suku Da’a Kaili di Sigi

Pengungsi di Dusun Padena, Desa Bangga, Sigi, Sulawesi Tengah

SHNet, SIGI – Hujan gerimis di Dusun Padena, Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Sabtu (13/10) jam 11.30 siang. Puluhan orang berkumpul di bawah salah satu tenda darurat beratap daun tembikar. Tenda yang tidak besar,    hanya seukuran kira-kira 4×6 meter. Atapnya banyak bolong. Gerimis dalam waktu tidak cukup lama saja, atap tenda itu bocor.

Orang-orang itu memandang satu demi satu siapapun yang datang mendekat. Tidak mengeluarkan kata-kata sapaan sekalipun. Bahkan tersenyumpun tidak. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan perempuan. Hanya beberapa lelaki dewasa, yang beberapa diantaranya lengkap dengan parang bersarung diikat dipinggang.

Saat mantan Camat Dolo Selatan, Anwar, keluar dari dalam mobil, salah seorang warga berlari dan menyapa. “Pak camat, pak camat.” Ia belakangan diketahui sebagai Kepala Dusun Padena. Namanya Adrianus. Almarhum orang tuanya dulu kenal dekat dengan Anwar. Adrianus memanggil warga lain, namun mereka menunggu hingga Anwar yang kini menjabat Kepala Dinas Bina Pemerintahan Desa Kabupaten Sigi, tiba di tenda darurat untuk saling bertegur sapa.

Mereka adalah warga Suku Da’a, salah satu komunitas adat terpencil (KAT) yang mendapat pendampingan dan pembinaan dari Kementerian Sosial di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng). Saat berkumpul di salah satu tenda darurat, mereka sedang mendapat pengarahan dari tokoh adat, Alia, tentang cara mereka harus bertahan hidup dalam situasi sulit sekaligus mendata semua warga yang ada di lokasi pengungsian.

Adrianus lalu memperkenalkan perangkat pemerintah Suku Da’a kepada Tim Lapangan Pendamping Pemulihan Penyelenggaraan Pemerintahan Propinsi Sulteng Kementerian Dalam Negeri yang dipimpin Aferi S Fudail. Di antaranya Ketua RT Nur Alla dan salah satu tokoh masyarakat Edi Palu. Anwar adalah bagian dari Tim Kementerian Dalam Negeri tersebut.

Dusun Padena, Desa Bangga adalah salah satu dusun terpencil dan terluar di Kabupaten Sigi. Seperti umumnya di Kabupaten Sigi, dampak gempa dan tsunami Palu amat memukul kehidupan masyarakat dusun ini. Rumah-rumah mereka hancur lebur. Sekolah, tempat ibadah, sarana air bersih dan puskesmas desa yang dibangun oleh Kementerian Sosial tidak ada yang bisa digunakan lagi.

“Kami ada 102 kepala keluarga, 426 jiwa. Sekarang kami semua turun mengungsi,” kata Adrianus. Ia menunjuk Dusun Padena yang terletak di atas bukit, di kelilingi hutan. Yang terlihat hanya sink berwarna biru. “Itu sink bekas sekolah SMP Satu Atap. Itu sudah rubuh. Bangunannya terbelah. Tergulung dusun kami,” katanya.

Saat terjadi bencana, kata Nur Alla, Dusun Padena terbelah menjadi beberapa bagian dalam sekejap. Permukaan tanah sebagian menurun dan sebagian lainnya naik. Mereka kebingungan, apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri, selain berlari. “Kami semua turun berlari. Kami ada yang cedera, karena kena air panas, tapi tidak ada yang meninggal,” katanya. Rupanya ada seorang ibu yang saat terjadi gempa sedang memegang panci berisi air panas.

Di tempat yang agak rata, warga Suku Da’a membuat belasan tenda darurat. Hanya dua di antaranya yang beratap terpal. Selebihnya ditutup dengan tembikar dan berbagai macam dedaunan. Di tengah-tengah belasan tenda, mereka membntuk rumah ibadah sementara, yang hanya sedikit atapnya ditutup tembikar. Selebihnya masih terbuka. “Ya, untuk ibadah hari minggu besok. Kami tetap harus berdoa,” kata Paiiji, remaja pria yang baru lulus SMP.

Suku Pasif

Semenjak mengungsi, Suku Da’a ini tidak pernah aktif mencari bantuan pihak lain. Hanya menunggu. Alhasil, tidak banyak terlihat tumpukan bantuan seperti jamak terlihat di lokasi pengungsian lainnya. Menurut Anwar, karakter Suku Da’a unik dan sangat menjaga harga diri mereka. Mereka tidak pernah dan tidak ingin meminta-minta, sekalipun dalam situasi sulit, seperti sekarang. Mereka akan menerima jika bantuan diberikan. Selama menjabat sebagai camat Dolo Selatan, Anwar mengaku memiliki perhatian dan perlakukan khusus terhadap salah satu suku terasing ini.

Suku Da’a sebelumnya termasuk nomaden, suka berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain dalam berladang. Mereka umumnya menanam umbi-umbian, jagung dan merica. “Rumah-rumah mereka tadinya di atas pohon. Mereka tidak mau menetap. Mereka bertahan di satu lokasi hingga musim panen atas tanaman mereka atau hingga ada orang dari kelompoknya yang meninggal dunia. Kalau ada yang meninggal mereka akan langsung pindah ke lokasi lain karena beranggapan mereka telah ditolak oleh alam di situ,” kata Anwar.

Tenda pengungsi warga Dusun Paneda, Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Sigi, Sulawesi Tengah

Kelompok Suku Da’a seperti juga Suku Ado, yang banyak tersebar di Kabupaten Sigi dan Donggala, tidak ingin tidurnya terganggu karena ada bunyi-bunyian yang tidak biasa di dengarnya di alam bebas. Itu pulalah yang menjadi alasan mengapa tidak ingin memiliki rumah beratap sink karena ketika hujan rumahnya menjadi berisik. Berbeda dengan atap dedaunan.

Mereka sangat tertutup terhadap dunia luar. Selalu ingin mempertahankan hidup berkelompok. Kawin-mawin juga hanya terjadi antara sesamanya. Tidak mudah untuk melakukan pendekatan dan bersosialisasi dengan mereka, hingga mereka bisa mengenal orang dengan baik.

Tahun 1996, melalui berbagai pendekatan kehidupan Suku Da’a pelahan-lahan berubah. Di daerah Marawola, mereka terbiasa menebang hutan untuk membuat ladang seturut yang mereka inginkan. Dampaknya, tidak saja hutan gundul, kadang terjadi longsor. Hampir 10 tahun dilakukan pendekatan, mereka akhirnya bersedia menetap di Dusun Padena

“Awalnya sangat sulit. Tahun 2003 sudah dibangun rumah, tapi mereka tidak mau tempati rumah itu. Tapi mereka tetap mengklaim bahwa rumah yang ada itu rumah mereka. Mereka punya rumah lain di pohon-pohon. Rumah bantuan itu semacam rumah cadangan saja bagi mereka,” kata Anwar yang menjadi camat Dolo Selatan 2010-2015.

Makan Umbi-Umbian

Ia menjelaskan, setelah menetap Suku Da’a perlahan-lahan paham bertransaksi ekonomi dengan pihak lain. Masuk ke pasar, menjual hasil bumi yang mereka miliki dan membeli pakaian. Mereka menanam umbi-umbian, jagung dan merica. Makanan utama mereka adalah umbi-umbian dan jagung. Mereka menanam padi di ladang, tapi hasilnya bahkan tidak cukup untuk kebutuhkan mereka sendiri. Selain itu mereka kesulitan mengolahnya.

Pemerintah membangun sekolah dan mereka bersekolah. Umumnya, generasi remaja mereka lulusan SD dan beberapa di antaranya hingga SMP. Hanya saja pendekatan belajar dengan mereka memerlukan ketrampilan khusus.

Anwar mengaku selama menjabat jadi camat di wilayah itu, ia kagum dengan semangat pengajar di SD dan SMP Satu Atap Padena. Berangkat ke sekolah jam 5.00 pagi dengan jalan kaki mendaki kaki bukit. Sesampai di ruang kelas, tak jarang siswa hanya tiga orang dari harusnya 15 orang. Hal itu terutama terjadi saat musim tanam karena anak-anak usia sekolah memilih ikut orang tuanya bertanam di kebun. Namun, guru-guru itu tetap melakukan kegiatan belajar-mengajar.

Jalan akses menuju dusun itu juga sempat dilakukan pengerasan sehingga mobil bisa menjangkau. Namun kini kondisinya sudah rusak. Nur Alla mengaku tidak tahu dan belum memikirkan lagi bagimana anak-anak mereka bisa bersekolah lagi di Dusun Padena. “Kami serahkan ke pemerintah saja. Kalau bisa kami juga dikasi penerangan di sana,” katanya. Semenjak menetap, mereka belum pernah merasakan cahaya listrik di malam hari.

Aferi S Fudail mengaku senang bisa sampai ke tempat pengungsian Suku Da’a di Dusun Padena tersebut. Di situ Feri membagikan bantuan korban bencana dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Tak lupa ia mengambil video korban dan berjanji akan menyampaikan kepada rekannya yang aktif di Komunitas Adat Terpencil Kementerian Sosial. “Pak Dirjen, ini situasi Suku Da’a yang ikut program KAT. Semoga kita bisa sama-sama membantu mereka,” kata Aferi sambil membuat video. (inno jemabut)