Suku Lauje, Penabung Uang di Atas Pohon

Suku Lauje, Penabung Uang di Atas Pohon

Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu

SHNet – Di Sulawesi Tengah (Sulteng) ada banyak komunitas (suku) adat terpencil. Dikatakan terpencil karena banyak di antaranya masih tinggal di hutan, agak tertutup dengan dunia luar, dan yang paling utama karena kurang terjangkau administrasi negara.

Di antaranya komunitas Suku Da’a Kaili yang banyak pedalaman Kabupaten Sigi dan Donggala, serta komunitas Suku Lauje di Kabupaten Parigi Moutong. “Saya ini orang Lauje. Tapi orang Lauje ini dianggap aneh di zaman modern. Dibilang mereka miskin, tapi itu hanya karena masalah administrasi saja, sebab mereka pendapatannya per bulan kira-kira Rp 10 juta,” kata Bupati Kabupaten Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu kepada SHNet di Parigi, Sulteng beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, komunitas Suku Lauje banyak menempati wilayah pegunungan dan daerah aliran sungai di Kabupaten Parigi. Tetapi mereka tidak mau memiliki rumah. Apalagi rumah dengan atap sink dan genteng. Alasan mereka, rumah membatasi ruang gerak, tidak bebas dan merdeka. Rumah dengan atap sink, akan berisik ketika terjadi hujan, sementara genteng berbahaya kalau bagian-bagiannya jatuh ketika rumah mendayu-dayu ditiup angin.

Bunyi butiran hujan yang melengking mengenai sink bagi mereka seperti suara musuh yang datang menyerang. Mereka mendirikan rumah-rumah di atas pohon dengan atap dedaunan. “Sensasinya, rumah itu bisa goyang-goyang kalau ditiup angin, seperti ayunan saja,” kata mantan perwira TNI AD tersebut. Orang komunitas suku Lauje, pandai menanam coklat dan cengkeh. Bahkan mereka ada adalah pemasok coklat terbesar untuk Parigi Moutong, yang sekarang menjadi penghasil coklat terbesar untuk Indonesia.

“Makanya mereka pendapatannya besar. Saat harga cengkeh dan coklat bagus, kaya mereka. Mana mereka miskin? Tapi uangnya tidak mereka simpan di bank. Mereka gantung di atas pohon,” kata Samsurizal.

Mereka bisa membeli barang-barang elektronik yang mahal dan fiturnya lengkap. Tapi, tidak bisa menggunakannya dengan maksimal. Handphone yang mereka gunakan anroid terbaru, tapi hanya dipakai untuk mendengar music atau nonton video.

Komunitas Suku Lauje juga senang hidup di sepanjang daerah aliran sungai. Itu bukan tanpa alasan. Mereka tidak ingin ada aroma hajat tercium oleh siapapun. Nah, cara paling cocok dengan prinsip itu adalah membuang hajat di aliran sungai. “Mereka belum terbiasa membuang hajat di toilet. Ketika kita beri pengertian, mereka akan selau punya alasan sendiri,” kata Samsurizal.

Tidak Teradminstrasi

Mantan pengawal Megawati Soekarnoputri saat menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut Wakil Presiden itu menuturkan, Suku Lauje adalah bagian dari Suku Kaili, suku terbesar di Parigi Moutong. Selain suku Kaili dan Lauje, di Parigi Moutong juga ada suku Taijo, Tilao, Bugis, Makasssar, Jawa dan Bali. Suku Lauje sendiri berjumlah sekitar 30.000 jiwa dari total jumlah penduduk di Parigi Moutong sebanyak 457.000 jiwa.

Pengungsi Suku Da’a di Dusun Padena, Desa Bangga, Sigi, Sulawesi Tengah

Seperti umumnya komunitas adat terpencil lainnya, Suku Lauje ini suka hidup berpindah-pindah dan berkelompok. Mereka akan berpindah lokasi jika ada anggota kelompoknya yang meninggal. Mereka sangat takut dengan orang yang meninggal, sekalipun mereka biasa hidup di alam terbuka. Orang yang telah meninggal dikuburkan jauh-jauh dari tempat tinggal. Inilah penyebab, mengapa mereka tidak teradministrasi dengan baik. Ketidakterjangkauan secara administrasi negara mengakibatkan banyak hak-hak mereka yang harusnya didapat dari negara menjadi tidak didapat.

Meski demikian, kata Samsurizal, pihaknya tidak akan lelah mendekati komunitas ini agar bisa adaptif dengan kehidupan modern. Akses pendidikan terus dilakukan. Rata-rata Suku Lauje hanya merasakan pendidikan hingga tingkat sekolah dasar. Selain akibat dari hidup berpindah-pindah, banyak anak usia sekolah harus putus sekolah karena ikut orang tuanya berkebun.

“Ada juga pemahaman mereka, sekolah nanti untuk cari uang. Kalau bisa cari uang sekarang, kenapa tunggu nanti. Kalau sekarang bisa tanam coklat dan cengkeh untuk dapat uang, kenapa harus sekolah dulu,” katanya.

Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Parigi Moutong sendiri memiliki program memberi beasiswa kepada siswa-siswi terbaiknya ke tingkat perguruan tinggi. Hingga saat ini sudah ada 261 orang yang diberi beasiswa oleh kabupaten tersebut dengan menggunakan dana APBD. Beberapa di antaranya dari Suku Lauje. “Ada yang sekolah, tapi sedikit sekali. Kalau mereka lulus, saya tidak wajibkan mereka pulang ke sini. Biarkan mereka mengabdi di manapun di negeri ini,” kata Samsurizal.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Parigi Moutong, Nelson Metubun, mengatakan keberadaan Suku Lauje melengkapi keahlian suku-suku lain dalam berkebun dan bertani di daerah tersebut. Mayoritas penduduk Parigi Moutong bekerja sebagai petani. Namun, ia mengklaim petani di daerahnya itu petani-petani unggul. Alasanya, ada keahlian bertani di Jawa yang di bawa oleh Suku, demikian juga keahlian yang dimiliki Suku Bali, Makassar, Bugis dan Flores.

“Ini kabupaten yang penduduknya paling majemuk dan saling mengisi kekurangan satu dengan yang lain. Makanya kami termasuk penghasil beras terbesar di Sulteng. Beras kami dijual ke daerah lain. Orang Bali dengan subaknya dia bawa, orang nusa tenggara dengan kerja kerasnya ada di sini,” jelas Nelson.

Apalagi saat ini, akses antara satu desa ke desa lain sudah sangat baik, tidak hanya mulus tetapi juga lebih lebar. (Inno Jemabut)