SKM Mengandung 50% Gula, Irma Handayani: Peran Gula Untuk Anti-Bacterial Agent

SKM Mengandung 50% Gula, Irma Handayani: Peran Gula Untuk Anti-Bacterial Agent

JAKARTA – Kehebohan mengenai kandungan yang terdapat dalam SKM memang sedikit demi sedikit mulai mereda. Namun sebenarnya masih banyak pertanyaan di masyarakat yang belum terjawab dan menjadi pekerjaan rumah tidak hanya bagi pihak terkait baik produsen tetapi instansi pemerintah. Hal tersebut sebenarnya bisa diselesaikan jika semua pihak saling bekerja sama.

Terkait kandungan gula yang dipermasalahkan selama ini, pada kenyataannya memang lebih tinggi dibandingkan dengan susunya itu sendiri dalam 1 kaleng SKM. Kita sebenarnya tidak bisa langsung menyalahkan produsen begitu saja mengenai permasalahan kandungan gula dalam SKM.

Secara ilmiah mengenai hal tersebut sebenarnya bisa dijelaskan. Seorang peneliti asal Indonesia yang saat ini menetap di Amerika, Irma Hidayani, M.P.H. sempat menerangkan apa saja yang terkandung dalam sekaleng SKM.

Penjelasan kandungan sebenarnya sudah disertakan produsen SKM, seperti protein, karbohidrat, lemak dan lainnya. Gula yang memang masuk dalam kategori karbohidrat bisa dikatakan jauh lebih besar dari protein itu sendiri dalam hal ini adalah susu. Presentase yang cukup jauh ini dikarenakan peranan gula yang jumlah mencapai lebih dari 50% sebenarnya menjaga kualitas susu sekaligus mencegah terjadi kerusakan selama berada dalam kaleng kemasan.

“Kandungan yang presentase paling gede adalah karbohidrat. Gula itu termasuk karbohidrat ada disitu. Gula itu harus 50% lebih karena kalau tidak susu dalam kaleng akan rusak. Kenapa SKM tahan lama, tetap bagus dan masih aman untuk di konsumsi karena kandungan gula yang tinggi. Gula itu sebagai anti-bacterial agent,” jelas Irma Handayani, Peneliti dan Pemerhati Dampak Industri Terhadap Kesehatan Bayi Dan Anak.

Terkait konsumsi SKM di Indonesia dengan negara lain. Istri dari vokalis salah satu band indie tanah air Efek Rumah Kaca mengatakan sangat jauh berbeda. Negara maju seperti Amerika, negara-negara Eropa, sebagian di Timur Tengah dan Afrika sudah peduli akan bahayanya mengkonsumsi gula yang melebihi kebutuhan tubuhnya perhari. Masyarakat di negara maju sangat gencar dan aktif dalam pencanangan pola hidup sehat. Mereka peduli akan kesehatan dan sadar akan hal tersebut.

“Disini (Amerika) perdebatan dan penggunaan SKM tidak seheboh di Indonesia. Disini iklan terkait produk SKM pun hampir tidak ada. Disini orang itu konsumsi gulanya juga tinggi, orang suka makanan manis. Tapi kampanye gizi seimbang, makanan sayur dan buah juga gencar,” tambah Irma Handayani.

Irma juga menambahkan perbedaan culture terkait makanan memang menjadi salah satu faktor penting di setiap negara. Negara berkembang seperti Indonesia diketahui memang masih menjadi negara konsumtif. Jika harus membandingkan dengan negara maju seperti Amerika rasanya memang tidak adil. Hanya saja akan kesadaran dan peranan pemerintah dalam menekan angka kesehatan masyarakat menjadi tinggi bisa jadi bahan pembelajaran bagi negara berkembang, terlebih Indonesia.

Dirinya juga mengapresiasi Badan POM yang sempat mengeluarkan surat edaran terkait SKM. Menurutnya itu adalah langka tepat dan cepat dari pemerintah menangani permasalahan pangan yang bisa mempengaruhi kesehatan masyarakat. Beberapa produsen SKM pun mulai terlihat merubah segala hal terkait produk mereka, baik sampul pada kaleng, cara penyajian hingga iklan.

Hal tersebut pastinya akan berdampak dengan jumlah produksi serta konsumsi SKM dipasaran. Bukan untuk menghentikan tetapi mengurangi resiko penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, hipertensi dan lainnya yang dipengaruhi dengan konsumsi gula berlebihan dalam jangka waktu tertentu.

Bahkan sebuah penilitian menemukan jumlah penderita penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, hipertensi dan lainnya justru pada usia produktif. Keadaan ini pastinya sangat mengkhawatirkan sekali. Walau resiko lain terkait makanan baik tradisional Indonesia maupun impor dengan kadar gula tinggi sedikit banyak ikut berperan saat kita mengkonsumsinya. Jalan terbaik kampanye mengenai pola hidup sehat dengan diimbangi sayur dan buah mulai gencar dicanangkan. (Kurnia)