Semua Bangsa Gunakan Teknologi untuk Kuasai Bangsa Lain

Semua Bangsa Gunakan Teknologi untuk Kuasai Bangsa Lain

Diskusi Panel Serial (DPS) dengan tema ATHG Dari Luar Negeri (Perkembangan Teknologi) di Jakarta, Sabtu (6/10). (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta- Pembina Yayasan Suluh Bhakti Nuswantara (YSBN) Pontjo Sutowo mengatakan, saat ini semua bangsa menggunakan teknologinya untuk menguasai bangsa lain.

“Teknologi mempengaruhi perang. Semua bangsa menggunakan teknologinya untuk menguasai bangsa lain. Teknologi juga merupakan salah satu yang menentukan apakah ketahanan nasional masih ada atau tidak,” ungkapnya dalam Diskusi Panel Serial (DPS) dengan tema ATHG Dari Luar Negeri (Perkembangan Teknologi) di Jakarta, Sabtu (6/10).

Sayangnya, penguasaan teknologi masyarakat Indonesia masih rendah. “Sumber daya alam kit masih tekgantung pada teknologi asing,” kata Pontjo.

Menurut dia, rendahnya penguasaan teknologi Indonesia pada dasarnya terjadi karena banyak faktor. Seperti misalnya, lemahnya sinergi kebijakan Iptek. Masih terbatasnya sumber daya Iptek terutama anggaran penelitian dan pengembangan. Belum optimalnya mekanisme intermediasi Iptek yang menjembatani interaksi antara kapasitas penyedia Iptek dengan kebutuhan pengguna. Adanya permasalahan difusi atau penyerapan teknologi. Terakhir, inovasi teknologi justru berkembang di masyarakat industri, bukan dari lembaga riset dan Litbang yang dimiliki bangsa ini.

Dengan rendahnya penguasaan teknologi tersebut, Indonesia menjadi sangat rentan terhadap serangan cyber. Seperti misalnya serangan “Ransomware WannaCry” tahun 2017. Sangat dimungkinkan akan terjadi serangan lanjutan yang lebih berdampak lebih sistemik. Untuk itu Indonesia perlu segera membangun kemandirian teknologi Cyber.

“Indonesia kini sangat urgen memerlukan kemandirian teknologi Cyber. Kemandirian ini dapat terbentuk jika Indonesia mampu melakukan perbaikan doktrin ‘Keamanan Nasional’ yang sudah ada dan menata kelembagaan dengan kerangka regulasi yang jelas. Dan jika dapat terbentuk kemandirian teknologi, Indonesia akan dapat menjaga keamanan diberikan dengan optimal”, kata Pontjo.

Indonesia berdasar indeks yang dikeluarkan oleh Internasional Telecommunication Union (ITU) pada tahun 2017 berada diposisi 111 dari 176 negara dengan indeks sebesar 4,34. Demikian pula dalam indeks daya saing global 2017-2018 yang dikeluarkan World Economic Forum terkait kesiapan teknologi, Indonesia berada pada rangking 80 dari 137 negara.

Staf Pengajar Strategi Perang Asimetrik Universitas Pertahanan Yono Reaksi Prodjo menyatakan jika tendensi perang masa depan telah berubah. Dimana perang tersebut dimungkinkan berjalan singkat dan memungkinkan terselubung. Menyebabkan kelumpuhan yang mematikan. Membunuh orang secara spesifik. Terakhir, tidak merusak landmark. Perang itu diantaranya dapat melalui perang informasi.

Secara garis besar, perang informasi tersebut dilakukan melalui tiga cara. Penipuan, pengalihan dan pembelahan. Dan sasaran utama cyber attacks tersebut ternyata bukan di sektor pertahanan dan keamanan. Serangan cyber lebih ditujukan kepada Business Sector (204: 89.5%). Diplomatic Sector (7: 3.1%). Governmental Sector (3: 1.3%). Defense & Security Sector (2: 0.8%). Other (12: 5.3%).

Sekalipun Indonesia telah memiliki proteksi guna menghadapi perang informasi, seperti adanya UU ITE 2008 dan Perpres 53/2017 yaitu BSSN misalnya, masing-masing masih bergerak sendiri-sendiri. Padahal perang informasi harus dilakukan secara bersinergi. Karena itu negara Indonesia perlu melakukan kerjasama guna menghadapi hal tersebut.

“Dalam menghadapi perang informasi, yang perlu dilakukan adalah sinergitas antar instansi. Selain itu juga perlu adanya upaya untuk membangun Manajemen Persepsi guna meminimalisir hal tersebut”, kata Yono. (Stevani Elisabeth)