Sahang, si Kecil Pedas Andalan Babel yang Bernilai Bagai Emas

Sahang, si Kecil Pedas Andalan Babel yang Bernilai Bagai Emas

Miniatur alat pencuci lada yang dikembangkan oleh Suripto / SHNET

SHNet, Denpasar – Kegiatan Temu Karya Nasional, Gelar Teknologi Tepat Guna XX di Kabupaten Badung, Bali, selama 3 hari semakin ramai dengan diadakannya pameran produk-produk andalan serta inovasi teknologi yang dikembangkan untuk masing-masing daerah. Banyak hasil karya pengrajin dari desa-desa seluruh nusantara dipajang untuk memikat pengunjung, seperti makanan khas daerah, kain, asesoris unik dan menarik yang lebih ramai dilihat dibanding stan-stan yang menampilkan inovasi teknologi sederhana.

Tapi dipojok belakang sana ternyata ada sebuah stan daerah yang mampu menarik minat para pengunjung bukan dengan keindahan perhiasan atau keanggunan sebuah pakaian dan kainnya, tapi karena terbayang oleh rasanya. Barangnya meski berupa butiran-butiran kecil sebenarnya cuma dipajang dalam kemasan plastik bersama botol-botol minyak sereh tapi yang melihatnya tidak segan untuk membelinya. Itulah sisi unik yang membedakan stan provinsi Bangka Belitung dengan stan lainnya.

“Sahang jika dijemur dengan terik matahari yang pas selama 4 hari, bisa bertahan sampai dengan 10 tahun dan tetap berkualitas,” ujar Suripto. “Ibarat emas bila disimpan dengan benar barang ini bisa sangat bernilai, tinggal mengikuti pergerakan harga pasar saja,” lanjutnya.

Sahang atau lada memang menjadi komoditas unggulan di Bangka Belitung yang sampai saat ini masih dikembangkan oleh para petaninya. Tapi salah satu masalah yang dihadapi mayarakat petani lada di Bangka Belitung khusunya di kabupaten Bangka adalah kegiatan mencuci sahang ini yang masih menggunakan cara tradisional. Biasanya lada yang masih melekat ditangkai sehabis dipetik dari kebun langsung dimasukkan ke dalam karung sampai terisi padat untuk kemudian dibawa ke sungai yang tidak jauh dari perkebunan. Karung-karung tersebut kemudian direndam ke aliran sungai yang bisa memakan waktu hingga 2 minggu untuk memisahkan butiran lada dari tangkai-tangkainya dan juga memudahkan pemisahan dari kulit lada itu sendiri.

Namun lewat kegiatan TKN Gelar Teknologi Tepat Guna XX ini, Kabupaten Bangka ingin menunjukkan bahwa masalah tersebut ternyata bisa diatasi dengan sebuah inovasi sederhana yang mampu memberi solusi serta lapangan pekerjaan baru bagi masyarakatnya. Suripto ternyata punya ide cemerlang, dengan membuat sebuah perangkat pencuci tangkai lada. Diberi nama ACIDA atau Alat pencuCI laDA, karya dari Suripto ini pada prinsipnya menggunakan energi air yang disuplai dari tenaga pompa sebagai pengganti aliran arus di sungai sehingga mudah digunakan kapan pun dan dimana saja.

Selain itu pembuatan alat ini diharapkan dapat memberi lapangan pekerjaan baru sehingga secara tidak langsung ACIDA memiliki nilai tambah (value added) bagi masyarakat desa meski mereka tidak mempunyai kebun lada sendiri.
“Dengan alat ini mereka sebenarnya tidak hanya bisa mengolah lada sendiri, tapi dapat juga menerima jasa pesanan untuk mencuci lada milik orang lain,” terang Suripto, yang tidak menamatkan pendidikan SD. “Taruh harga jasa 1000 per kilogram, nah berapa jika pesanan mencuci hingga mencapau 2 ton,” katanya meyakinkan.

Pria kelahiran Lampung yang sudah lama menetap di Bangka tersebut mengatakan bahwa satu unit perangkat yang dibuatnya itu harganya berkisar 1,7 juta rupiah dan laku empat unit sebelum acara pameran di sini.
“Satu di Belitung, lalu satu di Bukit Layang, kemudian di Kampung Cetaling, dan satu juga di Koba. Selesai pameran ini sudah menunggu 17 pesanan dari berbagai daerah untuk dibuatkan alat tersebut,” kata Suripto bangga.

Indonesia sendiri merupakan negara di urutan kedua setelah Vietnam sebagai produsen lada putih. Namun sahang atau lada dari Bangka punya rasa pedas tersendiri yang tidak kalah mutunya dengan lada asal Vietnam. Suripto bersama Dinas Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) di Provinsi Babel telah menunjukkan sebuah inovasi bermutu dan bisa mengangkat perekonomian masyarakat, dengan meraih juara 1 dalam kategori alat di ajang Gelar Teknologi Tepat Guna XX ini. Tapi pe-er besar masih menanti pemerintah baik pusat dan daerah, bagaimana menjaga harga pasar lada tidak anjlok terus di pasaran, apalagi kondisi dolar AS yang saat ini sedang menguat seharusnya harga lada seperti juga emas bisa ikut naik. (TJE)