Reverse Osmosis Water System Kunci Utama RenalTeam

Reverse Osmosis Water System Kunci Utama RenalTeam

Mesin hemodialisa yang ada di RenalTeam. Klinik hemodialisa ini mengutamakan reverse osmosis water system. (Ist)

 

SHNet, Jakarta- Klinik cuci darah atau yang dikenal dengan klinik hemodialisa memang sudah mulai berkembang di Indonesia. Di Jakarta sendiri, sudah ada beberapa klinik hemodialisa.

Saat ini, ada salah satu klinik hemodialisa yang lebih menekankan pada reverse osmosis water system. Presiden Direktur RenalTeam Clinic Chan Wai Chuen menjelaskan, klinik hemodialisa diperuntukan bagi orang-orang yang menderita gagal ginjal.

Menurutnya, air adalah faktor utama dan dibutuhkan dalam jumlah yang besar. Oleh sebab itu, kualitas air menjadi sangat penting. Di klinik hemodialisa air yang digunakan berkualitas baik bebas dari kuman, bakteri ataupun bahan-bahan kimia lainnya.

Chuen menambahkan, pasien gagal ginjal dengan masalah kesehatan tambahan seperti diabetes, hipertensi dan kardiovaskular sangat rentan terhadap kualitas air yang buruk.

“Klinik hemodialisa ini pertama di Indonesia yang menggunakan reverse osmosis (RO) water system dari Swedia untuk memastikan kualitas air yang baik bagi seluruh proses cuci darah di klinik kami. RO water system memiliki membran khusus yang didesain untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi dalam air sehingga menghasilkan perawatan yang lebih baik bagi pasien,” tuturnya kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (23/10).

Menurutnya, untuk satu kali hemodialisa selama 4 jam, dibutuhkan 120 liter air. Dia menjelaskan, klinik hemodialisa yang terletak di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan tersebut dilengkapi dengan 22 mesin untuk hemodialisa. Dalam sehari, klinik ini melayani 44 pasien.

Sementara itu HD Internist, dr Okki Ramadian Sp.PD mengatakan, pasien RenalTeam didorong untuk memahami dan berpartisipasi aktif dalam kelangsungan kesehatan mereka melalui aplikasi mobile khusus pasien RenalView.

Menurutnya, Renalview memberikan akses kepada pasien dan keluarga untuk melihat catatan kesehatan mereka kapan saja dan dimana saja, sehingga diharapkan secara psikologis dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada pasien dan membantu kondisi kesehatan mereka secara keseluruhan. (Stevani Elisabeth)