Rencana Pemkot Bandung Kembangkan Pariwisata

Rencana Pemkot Bandung Kembangkan Pariwisata

Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Dewi Kaniasari tengah memaparkan rencana pengembangan pariwisata Kota Bandung di Road To Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2018, di STP Bandung, Rabu (10/10). (Ist)

 

SHNet, Bandung– Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota bandung Dewi Kaniasari mengatakan perkembangan pariwisata di kota Bandung dalam tiga tahun belakangan ini mengalami peningkatan.

“Kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara ke Kota Bandung rata-rata 6 jutaan. Tahun depan, ditargetka ada 8 juta wisatawan,” ujarnya dalam Road To Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2018-Prospek dan Tantangan Pariwisata Indonesia yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Pariwisata, di STP Bandung, Rabu (10/10)

Dengan perkembangan pariwisata di Bandung yang terus meningkat, maka kota dengan julukan Paris van Java ini menghadapi masalah kemacetan. Menurut Kenny panggilan akrab Dewi Kaniasari, penyebab kemacetan di kot Bandung adalah tidak adanya kantong parkir.

“Setiap ada destinasi wisata yang diresmikan, tidak ada kantong parkir. Apalagi rata-rata per hari 75 ribu kendaraan masuk melalui Pasteur ditambah 1 juta kendaraan yang berada di Kota Bandung. Inilah yang menyebabkan kemacetan di Kota Bandung,” ungkapnya. Ke depan, perlu dibuat kantong-kantong parkir.

Dari segi trasportasi massal, lanjut dia, belum terintegrasi dengan baik. Pemerintah Kota Bandung ke depan akan membangun LRT dan trem di dalam kota sehingga menjadi daya tarik wisata baru kota Bandung.

Rencana pengembangan dalam dua bulan ke depan yakni prototipe akan ada wisata halal dan distrik wisata yakni budaya dan kreatif. Di mana kecamatan sumur Bandung atau tepatnya di Braga karena sudah menjadi branding, di sana akan dilakukan pemberdayaan masyarakat sehingga menjadi berbasis komunitas.

Kenny menambahkan, berdasarkan Perda 01/2013 ada 6 kawasan strategis yakni Bandung Utara di Dago Utara berupa kawasan ekowisata, Ganesha – gedung sate (kawasan pariwisata pendidikan dan sejarah), jalan Riau (kuliner dan belanja) lalu ada pula alun-alun (kawasan pariwisata warisan budaya) dan kawasan pariwisata budaya tradisional (Ujungberung) serta kawasan pariwisata konvensi dan olahraga (Gedebage) selain itu terdapat 15 kawasan yang ditetapkan menjadi rencana kawasan pengembangan pariwisata daerah. (Stevani Elisabeth)