Perwakilan Guru Malaysia Serahkan Donasi untuk Sulteng

Perwakilan Guru Malaysia Serahkan Donasi untuk Sulteng

Johari bin Ahmed dari Malaysia menyerahkan secara simbolis bantuan para guru Malaysia untuk korban bencana Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, kepada Ketua Umum PGRI, Unifah (kiri), di Gedung PGRI di Jakarta, Minggu (14/10).

SHNet, Jakarta – Pengurus Kesatuan Perkhidmatan Perguruan Kebangsaan Cawangan Kelantan, Johari bin Ahmed, menyerahkan bantuan untuk korban bencana alam gempa bumi dan tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng), dari organisasinya yang juga disebut sebagai National Union of the Teaching Profession (NUTP), Malaysia.

Johari menyerahkan bantuan tersebut secara simbolis kepada Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah di Gedung PGRI, sesaat setelah kunjungannya bersama sejumlah perwakilan guru dari beberapa negara ASEAN ke Kantor Pusat PGRI tersebut, Minggu (14/10) malam.

“Ini adalah ungkapan rasa simpati dan empati kami para guru di Malaysia, antara lain dari kami para guru di Kelantan,” kata Johari kepada SHNet, sesaat setelah acara penyerahan bantuan.

Menurut Johari, para guru mengumpulkan dana untuk Sulawesi Tengah, karena terdorong perasaan simpati dan empati kepada para korban bencana di daerah tersebut.

“Bencana di Sulawesi Tengah merupakan tragedi yang menyayat hati kami,” kata Johari.

Menurutnya, warga Malaysia memang ada kalanya mengalami bencana, namun tidak pernah mengalami bencana yang parah, seperti tsunami atau gempa yang berkekuatan besar.

“Kami mungkin mengalami banjir, mungkin juga banjir besar, tapi tidak pernah separah yang terjadi di Palu dan Donggala atau yang terjadi di Indonesia pada tahun 2004 lalu,” kata Johari.

Ia meminta agar bantuan yang diserahkannya tidak dilihat dari segi jumlahnya, melainkan dilihat sebagai bentuk ungkapan turut berduka dari para guru di Malaysia.

“Tolong jangan disebutkan angkanya, tapi lihat ini sebagai bentuk simpati dan empati kami para guru di Malaysia,” kata Johari.

Simpati Guru ASEAN
Ketua Umum PGRI Unifah mengatakan, dirinya menyambut baik bantuan untuk para korban bencana di Sulawesi Tengah dari para sejawatnya di luar Indonesia, antara lain dari perwakilan para guru dari Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Menurut Unifah, Indonesia merupakan bagian dari asosiasi guru di tingkat ASEAN, yakni ASEAN Council of Teachers (ACT). Organisasi ini beranggotakan para guru dari sejumlah negara, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Laos.

Perwakilan guru dari Malaysia, Thailand, dan Singapura berfoto bersama dengan Ketua Umum PGRI Unifah (tengah) dan para pengurus PGRI, saat mengunjungi Gedung PGRI di Jakarta, Minggu (14/10).

Menurut Unifah, sejak terjadi bencana di Palu, dirinya acap kali melaporkan perkembangan kejadian tersebut ke ACT. Laporan tersebut rupanya mendapat tanggapan berupa tindakan simpati dari anggota organisasi guru di tingkat regional tersebut.

“Sebenarnya, ada perwakilan organisasi guru dari 10 negara yang akan datang ke PGRI untuk menyerahkan bantuan. Malah ada 11 negara, karena ada 10 negara anggota ACT masih ditambah satu negara lagi, yakni Korea Selatan, yang disebut sebagai ACT Plus One,” kata Unifah.

Tapi, menurutnya, untuk tingkat ASEAN hanya ada empat negara yang boleh menjadi perwakilan ACT, yakni Singapura, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

“Jadi, yang datang dari ACT kali ini adalah dari tiga negara perwakilan ACT Plus One, yakni Singapura, Thailand, dan Malaysia,” kata Unifah.

Simpati dari Organisasi Guru di Tingkat Global
Unifah menuturkan, selain datang dari organisasi guru di tingkat regional, pernyataan simpati juga datang dari organisasi guru di tingkat global. Pernyataan simpati tersebut menurutnya datang dalam bentuk surat-surat yang ditujukan kepada PGRI.

“David Edwards, General Secretary of Education International yang berkedudukan di Belgia, menuliskan sangat detail apa yang saya laporkan kepada beliau tentang Sulteng di masa-masa awal bencana,” kata Unifah.

Menurut Unifah, menindaklanjuti suratnya, David pun membuat tulisan solidaritas untuk para guru di tingkat global. Hasilnya, surat-surat simpati pun berdatangan dari para guru di berbagai negara ke PGRI terkait bencana di Palu dan Donggala, Sulteng.

“Bukan hanya surat simpati, para guru di tingkat global pun mengumpulkan donasi, yang rencananya akan diberikan juga kepada Sulteng melalui PGRI,” kata Unifah. (whm)