Perbatasan Jabar – Jateng Jadi Fokus Gerakan ISIS di Indonesia

Perbatasan Jabar – Jateng Jadi Fokus Gerakan ISIS di Indonesia

Ist

SHNet, JAKARTA – Sidney Jones, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), mengingatkan otoritas berwenang di Indonesia, bahwa ancaman kelompok teroris seperti Jamaah Ansharud Daullah (JAD) yang berafiliasi dengan The Islamic State of the Iraq and Syria (ISIS), akan tetap eksis di Indonesia.

Menurut analisis Sidney Jones, gerakan teroris berafiliasi ISIS di Indonesia, sudah mulai beralih dari wilayah Jawa Timur ke perbatasan wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Barat.

“Penangkapan terhadap pelaku teror bom di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Mei 2018, kemudian dilanjutnya dengan aksi pengebom markas polisi di Riau, akan melahirkan kelompok baru, karena keinginan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia, tetap ada,” kata Sidney Jones, dalam keterangan persnya, Jumat (19/10).

Pemboman sejumlah Gereja di Surabaya, mengarah pada dikeluarkannya undang-undang anti-terorisme baru yang pada gilirannya memungkinkan penumpahan besar-besaran tersangka teroris tepat ketika Indonesia bersiap-siap menjadi tuan rumah Asian Games – yang pada akhirnya berjalan dengan lancar.

“Pelajaran utama untuk menarik dari pemboman Surabaya bukanlah bahwa penggunaan anak-anak adalah modus operandi yang baru atau bahwa para teroris telah semakin mahir. Ini agaknya adalah kekalahan ISIS di Timur Tengah tidak melemahkan penentuan para pendukung ISIS untuk berperang di rumah karena mereka tidak bisa lagi ke Suriah,” kata Sidney Jones

“Sel JAD cenderung bertindak sendiri, jika dan kapan mereka memiliki kesempatan atau sumber daya untuk melakukannya,” katanya.

Anggota JAD Jawa Timur telah menerima dorongan umum untuk melakukan serangan bunuh diri terhadap orang-orang yang tidak percaya (kafir) dan penindas murtad (thaghut), terutama polisi, tetapi keluarga Surabaya merencanakan serangan itu sendiri tanpa mengacu pada kepemimpinan pusat.

Laporan baru memiliki rincian baru tentang bagaimana JAD muncul pada 2014 dan bagaimana penangkapan pemimpin dan anggota sel telah mengubah dinamika internal organisasi. Ini mencatat bahwa tidak seperti Jemaah Islamiyah (JI), yang cenderung menghindari mantan narapidana sebagai pemimpin karena mereka sudah terpapar, JAD lebih memilih membebaskan tahanan karena mereka terlihat telah diuji.

“Pemerintah perlu memberi perhatian khusus kepada anggota JAD yang akan atau telah dibebaskan, karena ini adalah kolam tempat para pemimpin baru akan ditarik,” kata Sidney Jones.

Laporan tersebut mencatat bahwa dengan cabang Jawa Timur yang dihancurkan oleh penangkapan setelah pemboman Surabaya, fokus kegiatan JAD bisa bergeser ke daerah perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. (Aju)