Penghinaan Adalah Lebih Dalam Daripada Permusuhan

Ketua MPRS Jenderal Nasution :

Penghinaan Adalah Lebih Dalam Daripada Permusuhan

Sinar Harapan, 21 Oktober 1968 – Ketua MPRS Jenderal AH Nasution menyatakan bahwa kita peringati Isra’ Miraj sekarang ini dalam suasana duka cita seluruh umat, bangsa dan republik kita, atas gugurnya dua orang prajurit utama kita di tiang gantungan penjara Changi, Singapura, penjara yang sejak dulu menjadi tugu kekuasaan kolonialisme.

Kedua korban itu adalah Harun dan Usman pengorbanannya tidak dapat dan tidak boleh kita sia-siakan. Republik kita, bahkan 115 juta rakyat Indonesia, tersayat hatinya, hati keadilannya.

Keadilan yang bukan sekedar hukum tetapi keadilan sebagai sumber dan dasar hukum. Rakyat Indonesia terluka hatinya, tegasnya terhina. Penghinaan adalah lebih dalam daripada permusuhan karena hal itu didalami lagi dengan perasaan.

Demikian dikemukakan oleh Jenderal Nasution dalam sambutannya tertulisnya pada upacara peringatan Isra Miraj, Jum’at malam di gedung Lembaga Administrasi Negara yang diselenggarakan oleh Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU) Jakarta.

Jenderal Nasution mengatakan bahwa umat diajari oleh agama untuk membela jiwa, harta dan kehormatan. Orang takkan berjiwa, kalau tak membela jiwanya. Orang takkan berharga kalau tak membela hartanya dan orang takkan berkehormatan kalau tak membela kehormatannya.

Namun demikian agama menganjurkan bahwa kita tak boleh melebihkan. Maka itu dalam mengambil tindakan tegas demi kehormatan kita yang dihina itu, haruslah dipikir matang-matang isi dan bentuk tindakan itu, untuk mana pemerintah yang menentukan dengan dorongan serta dukungan rakyat melalui lembaga perwakilannya, demikian Jenderal Nasution.

Dikatakannya, bahwa tindakan tegas dan tepat perlu dan segera. Dalam hal kehormatan tidak boleh perhitungan dagang menjadi imbangan karena kehormatan itu tidak dapat dikompromikan.