Pemerintah Siapkan 1.200 Huntara untuk Pengungsi Sulteng

Pemerintah Siapkan 1.200 Huntara untuk Pengungsi Sulteng

Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita. (Dok. Humas Kemensos)

 

SHNet, Batam– Pemerintah sudah menyiapkan 1.200 hunian sementara (huntara) untuk para pengungsi di Sulawesi Tengah.

“Hunian sementara di sini bisa dikatakan seperti barak. Pemerintah sudah mendirikan 1.200 barak dimana satu barak bisa dihuni 12 keluarga. Sehingga bila satu keluarga misalnya ada lima orang, maka satu barak bisa menampung 60 orang. Kalau 1.200 barak, bisa dihitung berapa banyak pengungsi yang bisa mendapatkan hunian sementara,” kata Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita, di Batam, kemarin.

Pada kompleks barak ini, juga disediakan sarana penunjang, seperti sekolah sementara dan fasilitas kesehatan. “Untuk bantuan lain, pasti pemerintah menyiapkan. Namun berapa nilainya, masih dalam penghitungan,” katanya.

Mensos juga menjelaskan, mengapa penanganan korban bencana di Sulteng lebih rumit daripada di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Sulteng jenis bencananya berbeda. Di Sulteng terjadi likuifaksi yang mengakibatkan hilangnya satu RW.

“Masyatakat yang kehilangan tempat tinggal perlu direlokasi karena tidak mungkin membangun kembali tempat tinggal mereka di atasnya. Ini akan sangat berbahaya. Jadi dengan memperhitungkan banyak hal, membuat penanganan pengungsi tidak bisa secepat di Lombok,” katanya.

Mensos menilai kehidupan masyarakat di Sulawesi Tengah sudah pulih 100 persen. Ia mengajak pengungsi di luar daerah, agar kembali ke tempat asal masing-masing.

“Saya mengajak masyarakat Sulawesi Tengah yang berada di luar agar kembali ke kampung halaman. Sebab kondisi di sini sudah pulih 100 persen. Mari kita bangun kembali Sulteng secara bersama-sama,” kata Mensos.

Penilaian Agus didapat dari pengamatan terhadap kondisi Palu dalam empat kali kunjungan ke kawasan ini. Diakui Mensos, pada tiga empat hari pasca bencana gempa bumi dan tsunami, aktivitas ekonomi masih tersendat. “Masyarakat masih mengkhawatirkan kondisi keamanan yang kurang kondusif,” ujarnya.

Namun setelah itu, secara bertahap upaya pemulihan aktivitas masyarakat termasuk ekonomi, terus bergerak maju. Menurut Mensos, dalam waktu kurang dari dua minggu semua sistem dalam pengelolaan bencana dapat berjalan secara sinergis. “Tidak heran penanganan bencana di Palu mendapat pujian dunia internasional,” katanya.

Upaya keras pemerintah menyediakan prasana dasar seperti listrik, BBM dan juga upaya menciptakan rasa aman, memberi kontribusi signifikan terhadap pemulihan aktivitas masyarakat termasuk berputarnya kembali roda ekonomi.

Pemulihan kamtibmas mendapat perhtian serius pemerintah karena signifikan memulihkan kondisi. Menurut Mensos, tidak kurang dari 6.000 personel keamanan bersiaga di sejumlah titik rawan.

“Keberadaan aparat mampu menciptakan rasa aman bagi masyarakat sehingga mereka yang memiliki usaha ekonomi misalnya toko atau warung bisa mulai beroperasi tanpa rasa was-was,” kata Mensos.

Yang tak kalah penting, bersamaan dengan itu pemerintah juga terus bekerja membangun kembali jaringan listrik dan mengatasi kelangkaan pasokan BBM dan gas.

“Empat kali datang ke Palu, saya melihat progres yang menggembirakan. Misalnya masyarakat yang membutuhkan BBM, pada kunjungan saya kedua dan ketiga masih ada antrian mengular. Sekarang tidak ada lagi. Dapat saya simpulkan, kondisi Palu sekarang sudah pulih 100 persen,” katanya. (Stevani Elisabeth)