Pembangunan Manusiawi Adalah Titik Sentral

Dr. Abdul Haris Nasution

Pembangunan Manusiawi Adalah Titik Sentral

Jakarta, 19 Oktober 1974 – Dr. Abdul Haris Nasution dalam khutbahnya yang disampaikan dalam sholat Idul Fitri 1 Syawal 1394 H di lapangan Jenderal Urip Sumohardjo Kamis pagi menandaskan bahwa pembangunan manusiawi adalah titik sentral pembangunan yang murni. “Janganlah sekali-kali sampai terbalik, gedung bertambah besar tetapi manusianya bejat”, katanya.

Ia berpendapat bahwa umat islam memiliki dua segi tanggung jawab yang harus dipikul dan dilakukannya sekaligus yakni kepada kehidupan sekarang dimana pemerintah terus mencanangkan pembangunan dan kepada Tuhan yang menuntut mereka berbuat kebajikan.

Dalam hubungan ini Nasution menyerukan agar pembangunan haruslah untuk manusia, kehidupannya, kepribadiannya, budi pekertinya, akhlak dan kemuliaannya.

Katanya, “kita membangun demi mengangkat derajat manusiawi kita ketingkat yang lebih tinggi. Ilmu dan teknologi, kemajuan materiil hanyalah alat bukan tujuan. Rakyat di desa yang hidup dengan gubuk bambu dengan lumbung padi yang padat, rukun damai tentram sehat wal afiat, adalah lebih baik dari kehidupan di gedung pencakar langit yang berisi lacur, dusta fitnah dan ancaman tiada putus”.

Koreksi total
Sebelumnya Dr. Abdul Haris Nasution menyinggung bahwa dalam bulan puasa yang lalu telah diperingati Hapsak ke IX terhadap pengkhianatan G30S.

Suatu pengkhianatan yang menurut pengalaman dan kesaksian kita hanyalah dengan pertolongan Tuhan dapat kita gagalkan sehingga melahirkan tekad kita membangun Orde Baru, menegakka keadilan dan kebenaran mempersyaratkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi setiap pejabat negara, dalam rangka koreksi total yang berintikan koreksi mental yang kini sudah jarang terdengar.

Dan dilanjutkannya “Memelihara kemurnian Orde Baru untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, menegakkan hukum dan demokrasi merupakan amanah yang wajib kita ingat, kita pikul dan kita laksanakan terus”.

Nasution menekankan betapa pentingnya membangun kepribadian sebagai seorang muslim sebagai suatu masyarakat yang merupakan tugas yang paling mendesak. Katanya “Pemurnian kepribadian ini adalah titik sentral dari segala pembaharuan dan perbaikan” serta menekankan bahwa islam bukanlah sekedar mengatur kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan tapi juga mengatur kehidupan pribadi, kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat bernegara, satu-satunya jalan untuk kebahagian yang hakiki dunia dan akhirat.

Harga bangsa kita
Dr. Abdul Haris Nasution dalam khutbahnya tersebut menekankan juga soal harga suatu umat atau bangsa yang terletak dalam kemampuan mereka untuk memegang identitas mereka. Harga umat islam ialah selama mereka memegang moralitas agamanya. Harga bangsa kita yang ber-Pancasila tergantung selama mereka mengamalkannya secara konsekwen dan bukan sekedar buah bibir. Harga seorang pejabat tergantung selama ia mampu memegang amanah dan janji sumpah jabatannya yang diikrarkannya.

Menurut Nasution amalan atas agama dengan jujur, tidak memperjual-belikannya dan tidak mudah tergadai oleh kursi atau harta adalah suatu kebanggaan sejarah kita. Inilah yang menjadi tekad kita dengan mensyukuri pertolongan Tuhan kepada kita membasmi pengkhianatan G30S tahun yang lalu, koreksi mental dengan menegakkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kedudukan umat islam
Dalam khutbahnya yang berlangsung selama 25 menit itu dan yang menekankan pentingnya landasan moral pribadi dan bangsa, Dr. Nasution juga menyinggung soal kedudukan umat islam dalam kancah perkembangan dunia masa kini.
Ia minta perhatian bahwa dalam perkembangan dunia pada dasawarsa 70-an ini, umat islam semakin tampil bukan saja dalam arti kehidupan spritual tapi lebih lagi sebagai kekuatan dunia yang baru.

Hal itu nampak menurut Nasution baik di bidang politik dengan konferensi negara islam yang semakin konkret yang merupakan ¼ dari jumlah keanggotaan PBB (136 negara) maupun di bidang ekonomi dengan kekayaan hasil minyak yang dapat semakin mendominasi tata keuangan dunia serta di bidang militer di Timur Tengah. Maka sebagai akibatnya dapat kita saksikan perubahan dalam sikap politik negara super, Eropa Barat serta Jepang yang semakin memperhitungkan dan menyeganinya.

Membangun hari esok
Dr. AH. Nasution mengakhiri khutbah Idul Fitri tersebut dengan seruan bahwa merayakan Lebaran antara lain berarti memulai semangat baru yang segar dan bersih untuk membangun hari esok yang kita cita-citakan.

Ia tandaskan untuk itu mutlak diperlukan tiga hal :
Tertegaknya generasi baru yang berpendirian, berkepribadian : Tertegaknya prinsip kehidupan bermasyarakat, berekonomi, bernegara yang sehat dan tertegaknya muslim yang berwatak, berakhlak yang menjalankan ajaran islam dengan iman, taqwa dalam sikap, perkataan dan tindak laku.

Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1394 H di Lapangan Jenderal Urip Sumohardjo (Jatinegara) itu diselenggarakan oleh Panitia Hari Besar Islam Jakarta Timur yang diketuai oleh M. Dja’far Hasyimi dan ditaksir diikuti oleh sekitar 10.000 manusia. (SH)