Menpar Dorong Wisata Belanja dan Nomadic Tourism di Atambua

Menpar Dorong Wisata Belanja dan Nomadic Tourism di Atambua

Menteri Pariwisata Arief Yahya berkunjung ke Atambua, NTT, daerah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, Kamis (4/10). (Dok. Humas kemenpar)

SHNet, Atambua– Menteri Pariwisata Arief Yahya mendorong pemerintah Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengembangkan atraksi di daerah perbatasan guna menarik kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) dari Timor Leste.

Salah satu atraksi yang bisa dikembangkan adalah wisata belanja di Atambua. Menurutnya, PLBN Motoain bisa dijadikan lokasi wisata belanja. Di sini kita bisa menjaual barang-barang lebih lengkap dan lebih murah dari yang ada di Timor Leste. Seperti halnya yang ada di Bandara Changi Singapura, dimana bandara tersebut dibangun tidak hanya sebagai pintu masuk wisatawan, tapi juga sebagai destinasi wisata. Maka tidak heran jika masyarakat Singapura banyak membawa anak dan keluarganya untuk jalan-jalan di akhir pekan.

“Sekali kita disini lebih lengkap, maka orang Timor Leste akan selalu belanja disini. Saya yakin disini juga bisa jadi atraksi wisata untuk akhir pekan. Tidak hanya dari Timor Leste tapi juga dari Belu. Semakin banyak crowd yang datang dari dua negara maka akan semakin bagus. Jadikanlah pasar itu hidup disini, dan itu akan menjadi daya tarik tersendiri untuk tetangga sebelah,” kata Arief Yahya saat melakukan kunjungan kerja di Atambua, Kabupaten Belu, NTT, Kamis (4/10).

Menpar Arief Yahya juga mendorong agar event-event besar digelar di Atambua untuk bisa menarik kunjungan wisman, mulai dari event musik, budaya, ataupun event-event yang memaksimalkan potensi sumber daya alam atau keindahan alam yang ada di Atambua, dan NTT pada umumnya.

“Kita sudah dapat aksesnya (PLBN), yang belum atraksinya, maka saya dengan mudah kalau rekan-rekan Kemenpar minimal membuat empat atraksi besar di Aatambua, saya akan langsung setuju. Karena cara paling mudah untuk menjaring ribuan wisman adalah melalui overland (Border Tourism),” kata Menpar.

Di lokasi ini Menpar melihat langsung keberadaan pos lintas batas yang dibangun dengan begitu megah oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai bagian dari Nawacita Presiden untuk membangun mulai dari daerah terluar. Menpar Arief Yahya juga melihat bagaimana layanan imigrasi dan bea cukai yang baik terhadap wisatawan dari Timor Leste yang masuk ke Indonesia. Keberadaan PLBN Motoain dan layanannya yang baik sangat penting dalam mengembangkan wisata perbatasan.

“Kesan pertama saya ketika sampai di Pos Lintas Batas Negara ini adalah keren sekali. Jadi benar bahwa kita memiliki kebanggaan atas kedaulatan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan, pariwisata perbatasan atau border tourism jumlahnya sangat besar di dunia, contohnya negara-negara di Eropa yang jumlah kunjungan wisatawannya besar karena ditunjang dengan border tourism.

Jumlah wisman di Prancis setiap tahunnya mencapi 80 juta wisman, atau Spanyol yang mencapai 85 juta wisman. Begitu juga dengan negara-negara kecil di Eropa yang memiliki jumlah wisatawan mencapai 10 juta karena ditopang oleh wisatawan perbatasan (border tourism) yang baik. Karena itu Kemenpar terus mengembangkan pariwisata perbatasan yang saat ini baru memberikan kontribusi sebesar 18% di Indonesia.

“Pariwisata perbatasan saat ini yang berjalan baru ada di Kepri (Kepulauan Riau) dan berhasil. Tapi kenapa hanya di Kepri? Padahal kita punya banyak titik sentuh dengan negara lain seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan di NTT, khususnya di Belu atau Atambua ini,” ujar Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya juga mendorong agar event-event besar digelar di Atambua untuk bisa menarik kunjungan wisman, mulai dari event musik, budaya, ataupun event-event yang memaksimalkan potensi sumber daya alam atau keindahan alam yang ada di Atambua, dan NTT pada umumnya.

Menpar juga tidak terlalu khawatir untuk amenitas. Dengan konsep Nomadic Tourism yang terus digalakkan Kemenpar, maka hal-hal penting dalam menjaring wisatawan sudah dapat teratasi. “Yang paling bagus adalah nomadic tourism. Nomor satu adalah karavan, kedua kemah. Pilihlah spot-spot terindah di Belu untuk menjadi lokasi. Atau juga homepod. Intinya adalah buat amenitas yang mudah untuk berpindah-pindah dan tidak harus mahal. Silakan buat dan nanti akan kita undang investor untuk mengembangkan nomadic tourism disini,” kata Menpar Arief Yahya.

Di sepanjang hari pertama ini, selain meninjau PLBN Motoain, Menpar juga akan mengunjungi sejumlah destinasi yang ada di Atambua, mulai dari Kawasan Wisata Mangrove Desa Dilawan, Pantai Berluli dan mengikuti Ritual Penyucian kembali Rumah Adat Suku Atok Bau Uma Meo.

Di hari kedua, Jumat (05/10), Menpar Arief Yahya akan menghadiri festival Fulan Fehan serta mengunjungi Pantai Pasir Putih Desa Kenebibi. Di Pantai Pasir Putih ini, Menpar akan meresmikan Destinasi Digital dan pembukaan Festival Wonderful Indonesia. Pasar ini akan menjadi pasar digital ke-24 yang didirikan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) setelah sebelumnya Menpar meresmikan pasar digital Pasar Berbatik Cikadu di Pandeglang, Banten.

Malam harinya Menpar akan hadir di konser Cross Boder di lapangan umum Simpang Lima. Konser ini akan menghadirkan bintang tamu Maria Simorangkir yang merupakan jebolan Indonesian Idol 2017, selain penampilan band-band lokal serta band asal Timor Leste, serta pertunjukan seni budaya.

Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar, Ni Wayan Giri Adnyani mengatakan, di pekan ini memang ada banyak kegiatan yang didukung Kemenpar. Mulai dari festival Konser Musik Cross Border Atambua 4-5 Oktober dan Festival Wonderful Indonesia 4-5 Oktober dan Festival Fulan Fehan yang masuk dalam top 100 Calender of Event Kemenpar yang akan digelar pada 6 Oktober 2018.

“Festival Crossboder Atambua 2018 adalah agenda tahunan Kemenpar yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Provinsi NTT dan Dinas Pariwisata Kabupaten Belu,” ujar Giri Adnyani.

NTT tahun ini memang ditargetkan sebagai penyumbang wsiman crossborder area kedua setelah Kepulauan Riau (Kepri). NTT ditargetkan menyumbang wisman sebesar 1.635.354 pada 2018, satu tingkat lebih kecil dibawah Kepri yang tahun ini ditargetkan menyumbang wisman sebesar 2.187.000. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, wisman Timor Leste pada periode Januari hingga Juli 2018 sudah mencapai 1.005.600. Naik 89,16% atau 531.600 wisman dibanding periode yang sama di tahun lalu. (Stevani Elisabeth)