Masyarakat Minta Pemerintah Tegaskan Situasi Palu Aman

Masyarakat Minta Pemerintah Tegaskan Situasi Palu Aman

Warga menerima bantuan di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Sigi

SHNet, PALU – Sekalipun ribuan warga masih tinggal di tenda-tenda pengungsian, situasi dan kondisi di Palu, Sigi, Donggala dan Parigi berangsur-angsur normal. Di Parigi Moutong, aktivitas kehidupan warga nomal seperti sedia kala karena dampak bencana tidak terlalu parah.

“Kami di Parigi Moutong lebih banyak karena korban hoax. Tiba-tiba ada informasi beredar di media social, akan ada gempa kekuatan sekian. Jadi, orang-orang pada lari ke tempat yang aman,” kata Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu di Parigi Moutong, Jumat (12/10).

Namun, di wilayahnya ada juga kerusakan yang terjadi akibat gempa 15 hari lalu. Hanya tidak separah di Sigi, Palu ataupun Donggala. Kantor-kantor pemerintah hanya mengalami retak-retak kecil. Kantor desa yang rusak parah tidak mencapai 10 unit. Sedangakan rumah warga yang rusak berat 362 unit. Aparatur sipil negara (ASN) yang meninggal sebanyak 10 orang karena kebetulan sedang berada di Palu.

“Sekarang kami normal. Kantor-kantor pemerintah sudah normal dari minggu lalu. Pelayanan publik seperti biasa. Malah kalau di Palu ada kantor pemerintah yang tidak berfungsi, bisa pindah ke sini (Parigi-red) untuk sementara waktu,” katanya.

Di Donggala, selain warga yang tinggal di pesisir pantai yang rumahnya terkena bencana, warga kini mulai beraktivitas nomal. Namun, aktivitas di kantor pemerintah kabupaten, kantor bupati Donggala masih lumpuh. Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Donggala, Aidil Nur, Kamis (11/10) hal itu disebabkan karena sebagian besar aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Donggala tinggal di Kota Palu.

Mobil pemda yang biasa antar jemput ASN dari Palu ke Donggala dan sebaliknya Donggala ke Palu belum jelas keberadaannya. Demikian juga sopirnya, apakah masih ada atau tidak. “Kalaupun ada ASN yang mau datang, kita juga belum tahu kondisi mobil dan sopirnya,” kata Aidil Nur. Beberapa wilayah di pedalaman, katanya, memang masih ada yang belum bisa diakses karena jalur transportasi putus.

Sahrun, Camat Banawa Tengah-Kabupaten Donggala, kepada SHNet di Donggala, Kamis (11/10) mengatakan banyak warga masih trauma dan takut adanya reruntuhan susulan. “Bantuan mungkin sudah sampai di Palu. Tapi, tidak bisa sampai ke kecamatan sini. Dapat bantuan cuma beras 5 kg. Itu dua kali makan satu keluarga, selesai,” kata Sahran. Di kecamatan yang memiliki delapan desa tersebut ada 3.700 kepala keluarga. Data sementara, katanya, sebanyak delapan orang dinyatakan meninggal karena gempa dan tsunami.

Afid Ruklin, perangkat desa Lolidondo, Kabupaten Donggala berharap pemerintah segera menegaskan situasi di Palu, Donggala dan Sigi, sudah aman. Selain itu, pastikan tidak terjadi penjarahan dan pencurian sehingga pemilik warung, pemilik tempat belanja mau membuka tempat usahanya. “Kalau tidak ada jaminan keamanan, siapa yang mau buka took? Siapa yang jualan. Sekarang harus ditegaskan kalau transaksi jual beli sudah aman,” tegas Afid Ruklin.

Tenda pengungsi di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Sigi, Sulawesi Tengah

Penegasan dari pemerintah juga penting untuk memastikan apakah warga masih aman untuk menempati struktur tanah yang bergeser. Penjelasan seperti itu, kata Afid, akan mengurangi ketakutan dan kecemasan warga. Kalau dinyatakan tidak aman, perlu segera diberi penjelasan ke mana mereka akan diungsikan. “Kami memang ada trauma, tapi tolong pemerintah tegaskan apakah situasi udah aman atau bagaimana?” katanya. Tidak mungkin, tambahnya, warga akan bisa bertahan hidup dengan menggantungkan diri dari bantuan pemerintah atau pihak lain.

Di Desa Lolidondo, sebanyak 29 unit rumah rusak parah. Hampir separuh dari 1486 penduduknya memilih mengungsi, meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang dianggap lebih aman.  Hal serupa disampaikan Kepala Desa Loli Saluran, Kecamatan Banawa, Alimin. Ia mengatakan, warganya bisa menerima keputusan pemerintah jika harus direlokasi. Hanya saja, harus ada jaminan keamanan dari pemerintah.

“Saya sekarang minta solusi saja. Kalau bisa secepatanya, supaya kami bisa kerja lagi. Kita tidak bisa apa-apa kalau tidak aman,” kata Alimin. Di desanya terdapat 178 rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 48 unit di antaranya bahkan tidak meninggalkan puing apapun karena dengan cepat orang mengambil sisa-sisa besi bekasnya. “Saya juga heran, siapa yang dengan cepat ambil barang-barang beka itu. Itu kan pemilik rumahnya lari semua,” katanya.

Situasi ini kata Alimin dan Sahrun perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Mereka ingin aparat keamanan bertindak tegas dengan tidak membiarkan ada pihak atau kelompok tetentu yang mengambil keuntungan dari situasi bencana. (Inno Jemabut)