Manusia Perlu Moral Dan Tata Tertib Baru

Presiden Pada Konferensi Regionalisme Asia Tenggara

Manusia Perlu Moral Dan Tata Tertib Baru

Jakarta, 22 Oktober 1974 – Presiden Soeharto mengatakan kekokohan dan keberhasilan ASEAN tidak cukup hanya dijamin oleh kesamaan pandangan dan tindakan diantara pemerintah negara anggotanya, melainkan perlu dukungan dan keikut sertaan yang sadar dari masyarakatnya.

Memberikan sambutannya pada pembukaan seminar ASEAN yang diselenggarakan oleh “Centre for Strategic and Internasional Studies” Selasa pagi di gedung Bina Graha, Presiden selanjutnya mengatakan bahwa dunia kita sedang berkembang sehingga untuk menjamin keselamatan dan kebahagian bersama diperlukan pemikiran yang mendalam dan menjangkau jauh ke depan.

Sentimen
Dikatakan bahwa dibagian dunia dimana kita hidup dewasa, kita menyaksikan suatu perubahan progesif di dalam mentalita yaitu bila di tahun lima puluhan ditandai oleh peralihan dari persoalan penjajahan kepersoalan kemerdekaan, dewasa ini ditandai oleh peralihan dari persoalan kesadaran nasional ke persoalan sentimen regional dan mondial.

Menurut Kepala Negara, sentimen semacam ini sebagian timbul berkat kelancaran lalu lintas manusia.
Ditegaskan bahwa sangkut paut ekonomi bangsa sudah begitu rupa sehingga dapat dikatakan bahwa kini praktis tidak ada satu bangsa pun yang benar-benar berdiri sendiri, setidaknya tidak disemua sektor dibidang ekonomi.

Berkata Presiden : “Saling ketergantungan diantara negara di dunia ini kiranya jelas terlihat pada krisis yan melanda dunia akhir-akhir. Krisis tersebut menjadi bertambah sulit untuk ditanggulangi sebagai akibat ketidak siapan daketidak teraturan yang terdapat pada masa lampau, dimana masing-masing bangsa atau negara lebih banyak memperjuangkan kepentingan nasionalnya sendiri dari pada kepentingan bersama dalam hidupnya di dunia yang serba terbatas ini”.

Moral dan tata tertib baru
Dalam hubungan ini Kepala Negara menegaskan agar menghadapi pertumbuhan sentimen pada masyarakat manusia yang lebih luas daripada masyarakat nasionalnya sendiri ini, manusia kiranya memerlukan moral dan tata tertib baru yang dapat menuntun dan mengatur mentalitas serta sikapnya mencari dan merumuskan moralitas tersebut merupakan kewajiban kita semua.

Yang dimaksud bahwa pada azasnya kita mempunyai tanggung jawab kolektif, kata Presiden, dan bahwa kemajuan akan lebih banyak datang dari perpaduan pikiran orang-orang dari berbagai fungsi, jabatan dan disiplin. Daripada jikaorang ini berpikir secara terpisah menyendiri di dalam kelompoknya masing-masing.
Menyambut pertemuan tersebut Presiden mengatakan bahwa mereka yang berseminar itu justru untuk mencari, menemukan dan menguji gagasan dan konsep yang mendalam dan konstruktif.

Dianjurkan oleh Kepala Negara agar pertemuan semacam ini bisa diadakan secara teratur dan bergiliran agar dengan demikian semakin menjadi luas dan merata “sense of belonging” anggota masyarakat kita pada ASEAN serta semakin menyakini bahwa ASEAN bukan sekedar satu kebetulan sejarah tetapi benar suatu karya berdasarkan kebutuhan bersama dan karenanya milik bersama yang harus dibina bersama-sama, demikian Presiden.

Dari seminar ini Presiden mengharapkan dapat dihasilkannya gagasan dan konsep yang kiranya diperlukan bagi perkembangan ASEAN yang makin sehat. Setidaknya dapat menunjukkan kearah mana gagasan dan konsep ini harus dicari dan melalui cara pendekatan yang bagaimana.

Dikatakan bahwa gagasan dan konsep tersebut juga diperlukan sebagai bekal dan pegangan di dalam menghadapi perubahan dibidang politik, sosial dan ekonomi baik pada taraf nasional, regional maupun mondial.

Bagi negara yang sedang berkembang seperti negara ASEAN sangat terang bahwa pembangunan bangsa bukan sekedar penggarapan satu sisi dibidang ekonomi belaka. Pembangunan merupakan proses “nation building” ialah pengembangan kepribadiannya sendiri di atas nilai dasar yang dianggap luhur, kata Presiden.

Justru untuk menjamin keselamatan proses “nation building” ini suatu proses pengembangan kepribadian untuk menjawab tantangan dan pembangunan masyarakat modern itu diperlukan “ketahanan nasional”.

Dikatakan bahwa “ketahanan nasional” yang dimaksud adalah jauh melampaui masalah kemampuan pertahanan keamanan dalam pengertian konvensional yang hanya dihubungkan dengan kekuatan militer dan karena itu pula, kata Presiden, tidak ada sangkut pautnya dengan persiapan agresi kepada negara lain.

Berkata Presiden selanjutnya “Ketahanan nasional tidak lain adalah ke dalam kemampuan untuk bertahan terhadap perubahan masyarakat yang diperlukan dengan tetap mempertahankan kepribadiannya sendiri dengan segala kerawanannya dan keluar kemampuannya bertahan terhadap segala bentuk ancaman dari luar.

Karena itu ketahanan nasional mencakup penguatan unsur penting dari pada pembangunan satu bangsa secara utuh, ketahanan dibidang ekonomi, ketahanan dibidang sosial, budaya dan ketahanan dibidang militer”.

Akhirnya Presiden mengatakan bahwa dengan masing-masing anggota mengembangkan ketahanan nasionalnya maka pada gilirannya akan terwujudlah ketahanan regional, ialah kemampuan bangsa anggotannya secara bersama-sama menyelesaikan masalah mereka dan mengurus masa depan dan keselamatan mereka sendiri. (Sinar Harapan)