Kemenpar Luncurkan Sayembara Pusat Cenderamata Pariwisata 2018

Kemenpar Luncurkan Sayembara Pusat Cenderamata Pariwisata 2018

Kementerian Pariwisata berkolaborasi dengan Bekraf dan PT Propan Raya meluncurkan Sayembara Desain Cenderamata Nusantara 2018, di Jakarta, Jumat (5/10). (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berkolaborasi dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan PT Propan Raya meluncurkan Sayembara Pusat Cenderamata Pariwisata 2018, di Jakarta, Jumat (5/10).

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dadang Rizki Ratman menjelaskan, sayembara tahun ini sudah yang kelima kalinya dan emapt diantaraya merupakan kolaborasi kemenpar dengan Bekraf dan PT Propan Raya.

Pada 2014 diselenggarakan Sayembara Desain Desa Wisata Nusantara. Kemudian, Sayembara Desain Bandar Udara Nusantara (2015), Desain Rumah Wisata (Homestay) Nusantara (2016) dan Desain Restoran Nusantara (2017).

Menurut Dadang, sayembara ini bertujuan untuk menggugah semua pihak untuk berkiprah dengan arsitektur yang lebih kreatif dan dinamis. “Semua diajak untuk memajukan arsitektur Nusantara serta mendukung pengembangan 10 destinasi wisata di Indonesia,” ujarnya.

Kesepuluh destinasi prioritas adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Kota Tua, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi dan Morotai.

Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungkari mengatakan, kalau mengunjungi destinasi wisata di Indonesia, kita melihat rata-rata cenderamata dijual di tenda-tenda dan tidak menarik. “Tempat itu harus jadi tujuan wisatawa. Wisatawan tidak cukup melihat gunung dan danau saja. Kita mengharapkan mereka membelanjakan uangnya. Semakin lama mereka tinggal di destinasi wisata, semakin banyak uang yang mereka keluarkan,” ungkap Hari.

Ia menambahkan, Bekraf telah melakukan pembinaan di beberapa desa di Indonesia khusus untuk cenderamata. “Kita harus menciptakan cenderamata yang membuat turis berkesan terhadap daerah yang dikunjunginya. Tidak harus besar-besar ukurannya. Cenderamata itu juga bisa berupa kain dan makanan,” kata Hari.

Sementara itu Yori Antar, arsitek yang juga juri dari Sayembara Desain Cenderamata Nusantara 2018 menjelaskan, arsitektur Nusantara harus bisa dibawa ke masa depan.

Menurutnya, selama ini kita lupa belajar mencintai arsitektur tradisional kita sendiri yang teruji oleh waktu dan tahan gempa. “Sayembara ini merupakan sayembara gagasan dan hasilnya boleh dipakai oleh siapapun,” ujarnya.

Direktur PT Propan Raya Yuwono Imanto menambahkan, pendaftaran dimuali pada 5-31 Oktober 2018. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada 30 November 2018. Para peserta yang ikut sayembara ini adalah sarjana arsitektur.

Menurutnya, yang dilombakan adalah arsitektur bangunan, tetapi bukan rumah adat. “Nanti kami akan menetapkan 10 pemenang dari 10 detinasi wisata. Masing-masing pemenang akan memperoleh hadiah berupa uang sebesar Rp 50 juta. Setiap pemenang akan kami adu lagi dan juara umumnya akan memperoleh hadiah sebesar Rp 100 juta,” kata Yuwono. (Stevani Elisabeth)