Jenazah Disambut Kebesaran Militer

Singapura Laksanakan Hukuman Mati Terhadap 2 Anggota KKO

Jenazah Disambut Kebesaran Militer

Merah Putih Setengah Tiang Selama 3 Hari

Jakarta, 17 Oktober 1968 – Hukuman gantung yang dijatuhkan terhadap dua orang anggota KKO ALRI oleh pemerintah Singapura, hari Kamis subuh telah dilaksanakan, demikian RRI-Pusat mengabarkan hari Kamis pagi. Sementara itu menurut berita terakhir kedua jenazah akan diambil jam 09:00 pagi ini oleh Kedubes RI di Singapura dan diharapkan tiba di Kemayoran jam 15:00 dengan pesawat khusus.

Kedua orang anggota KKO tersebut masing-masing prajurit KKO Osman bin Moh. ALi dan Kopral KKO Harun bin Said alias Tahir, telah ditahan oleh pemerintah Singapura semenjak tahun 1965 ketika sedang hebat-hebatnya masa konfrontasi Indonesia-Malaysia waktu itu.

Kuasa usaha RI di Singapura Letkol. Ramli hari Kamis telah menelpon berita pelaksana hukuman mati tersebut ke Jakarta.
Dua jenazah prajurit Indonesia (KKO) diharapkan Kamis jam 3 siang ini tiba di lapangan terbang Internasional Kemayoran, Jakarta dari Singapura.

Menurut Puspenal jenazah kedua prajurit Indonesia itu akan disambut sebagai pahlawan dengan suatu upacara kebesaran militer dengan Panglima ALRI Laksamana Muljadi sebagai Inspektur Upacara.

Prajurit Indonesia dari KKO masing-masing Oesman bin Said telah dijatuhi hukaman mati oleh pemerintah Singapura dan pelaksanaannya telah dilakukan jam 6 WIB pagi tadi di Singapura.

Hari ini diseluruh Ibukota, terutama instansi pemerintahan telah dinaikkan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung rakyat Indonesia.
Dari Kemayoran jenazah akan diserahkan kepada Menteri Hankam dan kedua jenazah diistirahatkan di Aula Hankam.
Jum’at siang jam 13:00 kedua jenazah akan dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata dan bertindak selaku Inspektur Upacara, Letjen Sarbini, Menteri Veteran mewakili Menteri Hankam.

Menurut sumber tersebut, kedua prajurit KKO tersebut sebelum menaiki tiang gantungan, telah menyampaikan pesan terakhir kepada Presiden Soeharto dan Pangad Jenderal M. Panggabean, kedua prajurit itu telah menyampaikan ucapan terima kasih serta penghargaan yang setinggi-tingginya atas usaha yang telah dijalankan oleh kedua pemimpin Indonesia tersebut, agar mendapat keringanan hukuman bagi kedua prajurit tersebut.

Permintaan Tengku
PM Malaysia Abdul rachman pada hari Rabu, telah meminta kepada Singapura supaya mengabulkan keinginan pemerintah Indonesia agar meringankan hukuman terhadap kedua orang prajurit KKO Indonesia tersebut, demikian BBC London mengabarkan hari Kamis pagi.
Menurut sumber tersebut permintaan Tengku tersebut telah ditolak oleh pemerintah Singapura.

Tetap menolak
Utusan khusus Presiden RI, Brigjen Tjokro Pranolo, dan Kuasa Usaha RI di Singapura, Letkol Ramli, Rabu siang telah menemui acting PM Singapura, Dr. Goh Seng Kwee untuk memintakan perubahan hukuman mati tersebut menjadi hukuman seumur hidup, tetapi jawaban yang diterima “tetap menolak”.
Kepada kedua pejabat pemerintah RI itu hanya diberikan kesempatan untuk menemui Presiden Singapura, Jusuf bin Ishak, mengenai keputusan terakhir.

Rabu petang Brigjen Pranolo dan Kuasa Usaha Letkol. Ramli telah bertemu dengan Presiden Singapura yang didampingi oleh acting PM Dr. Goh Seng Kwee. Dalam pertemuan yang berlangsung hanya 20 menit itu, Presiden Singapura menyatakan, bahwa permintaan dari utusan khusus yang dikirim oleh Presiden SOeharto itupun ditolak sehingga kedua prajurit ABRI itu tanggal 17 Oktober pagi jam 06:00 harus menjalani hukuman mati.

Kata Brigjen Pranolo, setelah pemerintah Singapura menolak untuk merubah hukuman mati itu menjadi hukuman seumur hidup, Brigjen Pranolo dan Kuasa Usaha RI Letkol. Ramli telah memintakan langsung kepada Presiden Singapura agar hukuman mati tersebut dapat ditunda sepekan, sehingga keluarga mereka yang berada diluar Jakarta dapat didatangkan ke Jakarta. Permintaan penundaan hukuman mati itupun telah ditolak oleh Presiden Singapura tersebut.

Pesan terakhir
Sebelumnya Brigjen Tjokro Pranolo katakan, bahwa ia merasa sangat bangga ketika ia bersama Letkol. Ramli siang tadi mengunjungi kedua prajurit Indonesia itu dirumah penjara Changi.

Kebanggaan itu disebabkan sikap mereka yang masih sempat menyatakan dengan nada yang tegas dan penuh kepercayaan atas diri sendiri, agar salam dan terima kasih mereka disampaikan kepada Presiden Soeharto dan usaha seluruh pejabat RI, dan mereka menyatakan pengertiannya, bahwa usaha sungguh dilakukan dengan segala daya upaya untuk menyelamatkan mereka.

Juga lewat Brigjen Pranolo dan Letkol Ramli, kedua prajurit Indonesia juga menyampaikan salam mereka kepada sarjana hukum Indonesia yang menaruh perhatian dan melakukan usaha menyelamatkan nasib mereka yang kesemuannya itu diketahi mereka lewat radio.

Brigjen Pranolo menyatakan “Saya bangga atas sikap dan keberanian serta ketabahan mereka”.
Dalam pada itu Menteri Penerangan dalam instruksinya yang disiarkan melalui berita RRI Kamis jam 09:00 telah menginstruksikan kepada seluruh masyarakat agar mengibarkan bendera sang saka Merah Putih selama 3 hari, sebagai tanda berkabung.

Menpen Laksda (U) Budiardjo hari rabu kemarin memperingatkan kepada pemerintah Singapura, jika hukuman mati terhadap 2 orang Indonesia yang tertangkap ketika konfrontasi dahulu jadi dilaksanakan, maka pemerintah Indonesia terpaksa harus meninjau hubungan baiknya dengan Singapura.

Pemerintah Indonesia sampai hari Rabu masih berusaha untuk mendapatkan keringanan hukuman mati dari pemerintah Singapura terhdap 2 orang Indonesia, Harun bin H.M. Ali (Kopral KKO) dan Usman bin Said alias Tahir (Kopral KKo) yang telah dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Singapura.

Masalah penjatuhan hukuman mati tersebut dan ditolaknya permintaan Presiden Soeharto oleh pemerintah Singapura tentang keringanan hukuman terhadap kedua orang Indonesia itu telah dibicarakan dalam sidang lengkap Kabinet Pembangunan hari Rabu yang dipimpin sendiri oleh Presiden Soeharto.
Pemerintah Indonesia sampai saat ini tidak mengerti atas dasar pertimbangan dan motif apa pemerintah Singapura menolak dan tidak dapat memberikan keringanan hukuman terhadap kedua orang Indonesia itu.

Jika hukuman mati itu jadi juga dilaksanakan, maka Indonesia tidak melihat kemungkinan lain kecuali meragukan kemurnian sikap Singapura dalam hubungan baiknya dengan Indonesia selama ini, Menpen sekali lagi menyatakan harapannya agar pemerintah Singapura dapat mempertimbangkan untuk memberikan keringanan atas hukuman tersebut guna tidak terganggunya hubungan baik antara kedua negara. (SH)