Jaringan Pendidikan Alternatif Bakal Gelar “Pertemuan Nasional II”

Jaringan Pendidikan Alternatif Bakal Gelar “Pertemuan Nasional II”

Panitia Penyelenggara Pertemuan Nasional II Pendidikan Alternatif melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada Rabu (3/10), di Jakarta. [SHNet/Ist].

SHNet, Jakarta – Sejumlah lembaga pegiat pendidikan alternatif akan kembali menggelar pertemuan nasional. Pertemuan Nasional II tersebut rencananya akan digelar pada 26-28 Oktober 2018 mendatang. Terkait rencana pertemuan nasional tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyatakan dukungannya.

Ganjar mendukung penyelenggaraan Pertemuan Nasional II Pendidikan Alternatif yang dilaksanakan di Desa Genting, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah tersebut. Ganjar menyatakan hal itu ketika menerima Panitia Penyelenggara Pertemuan Nasional II Pendidikan Alternatif di Jakarta, Rabu (3/10).

Direktur Sanggar Anak Akar, Susilo Adinegoro, menyampaikan dalam rilisnya bahwa Pertemuan Nasional II Pendidikan Alternatif mengusung tema Pendidikan Kebangsaan. Yang berarti, Pertemuan Nasional kali ini dapat menjadi momen reflektif untuk menguatkan sumbangsih pendidikan alternatif pada gerakan menuju perubahan budaya bangsa yang lebih toleran, demokratis, dan berkeadilan.

“Oleh karena itu, Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif II juga memfasilitasi penyelenggaraan pertemuan anak-anak yang menjadi bagian dari pelaku pendidikan alternatif. Salah satu kegiatan anak yang akan difasilitasi dalam Pertemuan Nasional adalah Kongres Anak Merdeka,” demikian keterangan Susilo Adinegoro yang populer dengan panggilan “Pakde Sus” ini.

Menurut Pakde Sus, pelaksana berharap rencana Temu Nasional Pendidikan Alternatif II dapat menjadi stimulan yang menggerakkan para penyelenggara pendidikan alternatif di berbagai daerah untuk melakukan persiapan dengan menyelenggarakan kegiatan pra Temu Nasional di daerah masing-masing. Tujuannya, di samping konsolidasi daerah juga untuk mempertajam kajian atau refleksi kritis atas pengalaman masing-masing daerah dalam menyelenggarakan pendidikan alternatif.

Tiga Kegiatan Inti
Pakde Sus menjelaskan, Pertemuan Nasional Jaringan Pendidikan Alternatif II ini memiliki 3 kegiatan inti, yaitu: Seminar Nasional Pendidikan Kebangsaan, Kongres Pegiat Pendidikan Alternatif, dan Kongres Anak Merdeka. Di mana Ganjar Pranowo juga akan hadir sebagai keynote speaker dalam seminar tersebut.

Pada Oktober 2016, para penggerak pendidikan alternatif dari berbagai organisasi terkait telah menyelenggarakan Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif di Yogyakarta. Inisiatif kegiatan itu berawal dari keprihatinan atas kondisi pendidikan nasional yang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan kualitas pendidikan di berbagai daerah. Kewajiban konstitusional pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan sejauh ini masih berputar di sekitar kebijakan penyediaan akses pendidikan formal bagi anak-anak.

Istilah pendidikan alternatif sendiri merupakan istilah generik dari berbagai program pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. Menurut Jery Mintz (1994) pendidikan alternatif dapat dikategorikan dalam empat bentuk pengorganisasian, yaitu; sekolah public pilihan (public choice); sekolah/lembaga pendidikan publik untuk siswa bermasalah (student at risk); sekolah/lembaga pendidikan swasta/independent dan pendidikan di rumah (home-based schooling).

Masih Terdiskriminasi
Keberadaan penyelenggaraan pendidikan alternatif masih cenderung diperlakukan diskriminatif. Kebijakan pendidikan nasional belum mengampu dan belum mengakui prestasi anak-anak yang berkembang di jalur pendidikan alternatif. Anak-anak yang belajar di sekolah alternatif tidak berhak mengikuti Ujian Nasional tetapi harus mengikuti ujian persamaan atau kesetaraan yang pada praktiknya tuntutannya tidak jauh berbeda dengan jalur pendidikan formal.

Anak-anak dari pendidikan alternatif juga sering dipersulit ketika ingin berpindah ke sekolah reguler karena tidak adanya sistem bridging yang baik. Diskriminasi ini juga menyebabkan anak-anak yang memilih atau harus berada di pendidikan alternatif tidak mendapatkan hak-hak sebagaimana yang diperoleh mereka yang bersekolah di sekolah reguler.

Berangkat dari hal tersebut, para penggerak dan penyelenggara pendidikan alternatif bermaksud untuk menyelenggarakan Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif II. Kegiatan nasional yang rencananya diselenggarakan di Desa Genting Kabupaten Semarang pada 26-28 Oktober 2018 tersebut diharapkan dapat menjadi momen untuk mengukur seberapa jauh intensitas pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi dari Temu Nasional sebelumnya.

Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan diselenggarakan atas kerja sama lembaga-lembaga pegiat pendidikan alternatif yaitu Sanggar Anak Akar, Yayasan Setara, Sanggar Akar Institute, Erudio School of Art, Komunitas Peduli Musik Anak, Rumah Inspirasi, Sanggar Anak Alam, Yayasan Festival film Pelajar Jogja. (PR/whm)