IP6 Ditemukan untuk Cegah AIDS

IP6 Ditemukan untuk Cegah AIDS

Ilustrasi / ist

SHNet, JAKARTA – Pada tahun 2017, 940.000 orang meninggal karena terpapar Human Immunodeficiency Virus-(HIV). Sejauh ini virus tersebut telah menelan korban lebih dari 35 juta jiwa, demikian menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Swaziland, sebuah negara kecil di selatan Afrika, memiliki tingkat infeksi HIV / AIDS tertinggi di seluruh dunia, dengan total 27,20 persen penduduk menjadi pengidapnya. Sementara tetangga mereka, Lesotho, 25,00 persen penduduknya terinfeksi HIV / AIDS, yang menjadikan negeri tersebut menempati peringkat tertinggi kedua di dunia.

Menurut catatan Worldatlas, Botswana memiliki tingkat prevalensi HIV / AIDS terbesar ketiga di dunia dengan 21,90 persen dari populasi yang hidup dengan penyakit ini. Amerika Serikat berada di urutan ke-24 dalam daftar 50 negara dengan tingkat HIV / AIDS tertinggi dengan 2,40 persen penduduknya menderita penyakit ini. Indonesia sendiri memang masih berada di luar peringkat 50 dunia, tapi bahaya tertular infeksi mematikan itu selalu ada dan bisa meningkat jika tidak segera dicegah.

HIV menyerang sel CD4, sehingga mengekspos orang yang terkena menuju infeksi oportunistik. Sel CD4 adalah sel darah putih yang isinya sangat penting bagi sistem kekebalan tubuh manusia, sistem pertahanan alami tubuh terhadap patogen, infeksi, dan penyakit. Sel CD4 kadang-kadang juga disebut T-sel, T-limfosit, atau sel penolong.
Pencegahan, diagnosis dini, perawatan, dan perawatan medis merupakan faktor penting untuk manajemen dan pengendalian AIDS namun tidak menyembuhkan.

Para peneliti di Cornell University bekerja sama dengan University of Delaware (UD), Universitas Virginia dan Missouri, Laboratorium Biologi Molekuler Eropa di Jerman dan Institut Sains dan Teknologi di Austria telah mengungkapkan penemuan terbaru tentang struktur kapsid Human Immunodeficiency Virus dan bagaimana caranya berkembang.

Kapsid adalah cangkang protein yang membungkus cetak biru genetik virus. Bagian ini terdiri dari 240 protein. Studi yang dilakukan oleh tim multi-institusional berfokus pada peran molekul kecil yang disebut IP6. Studi ini mengungkapkan bahwa IP6 memainkan peran penting, baik dalam fase belum dewasa maupun matang dari siklus hidup HIV saat merakit strukturnya.

” Molekul kecil ini bertindak dalam dua langkah perakitan yang berbeda di jalur tersebut,” kata Robert Dick, peneliti postdoctoral di Cornell University dan penulis utama makalah ini. Sel dapat membuat jutaan partikel virus, tetapi jika mereka tidak melalui proses pematangan, mereka tidak menular.

Menurut penulis jurnal penelitian, Juan R. Perilla, yang merupakan asisten profesor kimia dan biokimia di Ufficity of Delaware, penemuan penting IP6 ini membuka pintu untuk pengembangan perawatan baru terhadap penanggulangan penyakit yang di-sebabkannya.

Juan Perilla dan mahasiswa doktoral, Chaoyi Xu melakukan pekerjaan komputasi dan analitis menggunakan superkomputer dari Pittsburgh Supercomputing Center dan Pusat Komputasi Texas untuk memodelkan kapsid virus HIV dan peran IP6 dalam perakitan.

Sama seperti kami menemukan bahwa HIV menggunakan IP6 untuk berkembang dan terjadi infeksi, kami ingin belajar bagaimana retrovirus, secara umum, belajar untuk menggunakan jenis-jenis molekul ini,\rdblquote kata Perilla. Virus selalu berevolusi, tetapi mekanisme khusus ini sangat penting. Pertanyaan yang tetap tidak terjawab adalah ketika virus berevolusi.

Perilla dan Xu menjalankan simulasi mereka menggunakan sumber superkomputer dari proyek Extreme Science and Engineering Environment (XSEDE) yang memungkinkan kombinasinya dengan data laboratorium untuk benar-benar melihat bagaimana’sesuatu’ itu bergerak. (TJE)