Firman, Inovator Alat Pengusir Babi Hutan dari Sulbar

Firman, Inovator Alat Pengusir Babi Hutan dari Sulbar

Firman (Foto: SHNet)

SHNet –  Setidaknya tiga warga kampung terpanggang sengatan listrik kabel telanjang di kebun kacang dan jagung milik warga di Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) tahun 2017 lalu. Kabel telanjang itu sengaja dipasang sebagai ranjau bagi babi hutan. Sayangnya malang tak bisa dielak, manusia juga ikut meregang nyawa kena ranjau itu.

“Itu terjadi di kampung tetangga. Tiga orang meninggal di kebun. Maksudnya ranjau listrik itu untuk jerat babi hutan. Tapi, karena pemiliknya lupa dan tidak cepat matikan, orang juga yang jadi korban,” kata Firman di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Ungasan, Badung-Bali beberapa waktu lalu.

Hama babi hutan menjadi salah satu masalah bagi petani di Majene, Sulbar. Jika masuk dalam kebun kacang atau jagung, dalam semalam jagung atau kacang sehektar ludes diobrak-abrik. Warga kewalahan mengusirnya. Tidak mungkin akan selalu terjaga hingga dini hari setiap hari, mengingat babi hutan berkeliaran terutama malam hari.

“Ada orang yang mencoba dengan menggunakan listrik kabel telanjang. Kalau babi hutan kena sengatan bisa langsung mati. Setidaknya membuat babi lari menghindar. Tapi, itu resikonya tinggi bagi sesame petani,” kata guru honorer di SMK Negeri 7 Majene itu.

Firman pun mencoba mencari cara yang lebih efektif dan tidak beresiko apa-apa. Selama dua malam ia melakukan observasi di kebun milik warga di Kecamatan Malunda, Majene. Observasi itu untuk memastikan apa saja yang ditakuti babi hutan di malam hari. Secara sederhana, ia menyimpulkan dua hal yakni bunyian yang keras dan cahaya yang membuat babi hutan kaget. Ketika kaget, babi hutan bereaksi dengan belari menjauhi sumber bunyi dan cahaya hingga ke tempat mereka merasa aman.

Berbekal pengetahuannya saat sekolah menengah di SMK V Majene, pria asal kampung Luaor, Desa Bonde, Kecamatan Pamboang, Majene mencoba melakukan inovasi yang memadukan dua hal tersebut. “Saya coba gunakan program micro-controller. Kalau ada benda yang lewati dan terpantau sensor, program bekerja. Ternyata bisa berhasil,” kata Firman.

Cahaya dan suara diaktivasi dengan sensor ultrasonic. Sensor itu akan membuat program alat pemukul gentong bergerak dan memukul gentong dengan keras dalam beberapa saat. “Bunyi pukulan itu akan mengangetkan babi hutan dan hama-hama lain. Ada timer-nya yang bisa menyetel berapa lama sensor bekerja,” ujarnya.

Saat gentong dipukul oleh alat penggerak, cahaya juga muncul. Cahaya itu akan mengarah kepada orang-orangan yang didesaian seakan bergerak mengejar babi hutan. “Jadi orang-orangannya itu melengkapi teknologi cahaya dan penghasil bunyi tadi. Dengan itu, babi hutan lari menjauh,” katanya.

Firman mengaku temuannya itu efektif dan beberapa warga mulai menggunakannya. Hanya saja, jika ingin mengembangkannya lebih jauh, Firman memerlukan uluran dan bantuan berbagai pihak. Beruntung ia dilirik oleh Pemda Kabupaten Majene untuk ikut dalam ajang Temu Karya Nasional Gelar Teknologi Tepat XX dan Pekan Inovasi Perkembangan Desa dan Kelurahan (PINDesKel).

“Saya juara di tingkat propinsi, makanya saya bisa ikut pameran ini. Tak menyangka. Niat saya Cuma ingin bantu warga kampung saya agar tidak ada lagi yang meninggal karena kena arus kabel telanjang,” katanya.

Prototype alat pengusir babi hutan di Majene, Sulbar.

Niat Lama

Semasa kuliah di Univeritas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, katanya, keinginan untuk menemukan teknologi guna membantu warga mengatasi hama babi hutan selalu ada. Bahkan setelah lulus kuliah tahun 2009, niat itu tak pernah surut.

Tak hanya sekali atau dua kali ia mendengar bagaimana petani di kampung halamannya dan kampung tetangga berjuang mengusir babi hutan di kegelapan malam. Banyak warga harus tertunduk lesu karena jagung atau kacang-kacangan yang mereka tanam rusak diserang babi hutan. “Sudah habis tenaga, musim tanam sudah lewat, mereka bisa habiskan saja dalam semalam,” katanya.

Namun, keterdesakan memenuhi kebutuhan hidup sendiri membuat konsentrasi Firman lebih terarah pada usaha service elektronik yang sudah sejak SMK dirintisnya. “Tahun 2016 saya jadi honorer sudah di SMK Negeri. Tahun lalu ide sederhana saja muncul. Tapi ternyata menarik,” katanya.

Untuk mengembangkan alat pengusir hama babi hutan itu, katanya, setidaknya petani mengeluarkan biaya Rp 5 juta. Biaya itu, katanya, jauh lebih murah dari biaya pemasangan kabel telanjang yang beresiko tinggi. Selain itu, akan menjadi lebih murah jika beberapa petani yang kebunnya bersebelahan bisa patungan. “Kalau difasilitasi untuk membeli peralatannya oleh pemerintah, akan sangat membantu, karena jadinya petani tinggal bayar buatnya saja,” ujar Firman. (Inno Jemabut)