Direktur IMF Berkunjung ke Desa Pemilik Air Terjun Geripak

Direktur IMF Berkunjung ke Desa Pemilik Air Terjun Geripak

Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde, mencicipi pisang goreng di Desa Guntur Macan

SHNet, LOMBOK – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut  Pandjaitan, Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo didampingi Gubernur NTB Zulkieflimansyah mengunjungi Desa Guntur Macan, Kabupaten Lombok Barat, Senin (8/10).

Guntur Macan adalah salah satu desa terdampak gempa yang terparah pasca gempa pada Juli-Agustus lalu. Kunjungan Luhut dan rombongannya adalah bagian dari hari pertama rangkaian pertemuan Tahunan IMF-WBG di Bali, 8-14 Oktober 2018. “Saya datang ke sini untuk menunjukkan kami tidak melupakan Lombok, bukan karena ada gempa di Sulawesi, kami jadi lupa. Presiden (Joko Widodo) juga akan berkunjung ke sini setelah dari Bali,” tegas Luhut.

Ia menjelaskan, pemerintah sudah membangun sekitar 23.000 untuk korban bencana di NTB. Jika ada bantuan yang belum diterima warga, katanya, itu masalah administrasi yang belum selesai saja. “Mungkin masalah pertanggungjawabannya belum selesai, karena jangan sampai karena dana bantuan ini ada yang masuk penjara. Jadi, tidak betul kalau kami lupakan Lombok,” kata Luhut.

Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunung Sari termasuk salah satu desa terpencil di Lombok Barat. Letaknya di bawah kaki bukit, di atas ketinggian sekitar 400 meter dari permukaan laut. Hanya berjarak 2,5 km dari ibukota kabupaten. Desa ini tergolong cukup baru dan diapit oleh dua sungai, yakni Sungai Guntur Macan di bagian selatan dan Sungai Barat Kokoq di sebelah utara.

Di desa kecil dan paling muda di Kecamatan Gunung Sari ini terdapat air terjun geripak. Letaknya sekitar 10 km dari pusat pedesaan tersebut. Cukup banyak wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata tersebut. Selain untuk menikmati keindahannya, juga tempat adu nyali berkendara, bersepeda maupun sepeda motor.

Air terjen Geripak memiliki tinggi sekitar 50 meter. Di pusaran tempat air jatuh terdapat bebatuan yang besar tetapi tidak berbahaya, dan disekitar air terjun terdapat beberapa kolam kecil yang terbentuk dari bebatuan besar secara alami. Pemandangan indah dan menawan disertai dengan pergerakan ikan-ikan kecil dalam air yang bening.

Luhut mengunjungi desa tersebut untuk menunjukkan simpati kepada para korban yang terkena gempa.  “Ini bentuk dari simpati dan solidaritas dari peserta pertemuan IMF-Bank Dunia kepada para korban gempa di Lombok ini, kemarin kan kami dan Sekjen-nya (IMF) sudah ke Palu. Dari peristiwa ini kami akan memberikan usulan topik pembicaraan yaitu bagaimana penanganan masalah bencana yang kalau bisa pendanaannya itu bukan saja dari negara bersangkutan, seperti kita asuransikan. Formatnya sedang disusun oleh Menteri Keuangan dan kebetulan juga ada Ibu Lagarde ikut ke sini jadi beliau bisa bantu menyampaikannya di pertemuan tersebut,” katanya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani, katanya, telah menyampaikan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk bencana dalam satu tahun bisa Rp 22 triliun. Nah, menurut Luhut, sedang dilihat apakah bisa diasuransikan sehingga biaya itu bisa ditanggung bersama.

Sri Mulyani sendiri mengatakan pemerintah mengelola untuk dana tanggap bencana dengan sangat hati-hati. Sekalipun ada uang, tetapi tetap harus sesuai prosedur mengeluarkannya. “Apakah dengan bencana Palu dana pemerintah habis? Jawabannya, tidak. Untuk Palu sesuai kebutuhan, untuk Lombok tetap untuk Lombok. Untuk dana IMF-WB Pak Luhut sudah menggunakannya dengan hati-hati,” tegas Sri Mulyani.

Air Terjun Geripak, Lombok Barat (Ist)

Ia mengatakan bantuan akan dicairkan bertahap dengan rincian bagi rumah yang bangunannya rusak berat mendapat Rp 50 juta, rusak sedang bantuannya Rp 25 juta dan rusak ringan Rp 10 juta.  “Tujuannya uangnya bukan karena uang tidak boleh diambil. Yang terjadi adalah kita harus ada bahan bangunan dulu karena pemerintah tidak ingin uang untuk bantuan perumahan sudah habis sebelum rumahnya terbangun. Jadi bukan karena uangnya tidak bisa diambil. Masalah uang jaminan hidup, akan dibayarkan kalau sudah jadi rumah yang sifatnya permanen,” katanya.

Diapresiasi IMF

Ms. Lagarde mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia dalam menangani kedua bencana yang terjadi beruntun tersebut, Lombok dan Palu. “Kami mengagumi penanganan yang dilakukan pemerintah, melihat anak-anak bisa kembali ke sekolah agar bisa mencapai apa yang dicita-citakan menjadi ilmuwan dan ahli di bidangnya masing-masing,” kata Lagerde. Dalam kunjungan ke Desa Guntur Macan, ia menyaksikan sejumlah perempuan sedang mengolah kedelai untuk dijadikan tempe dan mencicipi pisang goreng yang dijual di oleh seorang di antaranya.

“Luar biasa, “katanya. Ia memastikan sidang tahun IMF di Bali bukan ajang untuk berpesta, seperti yang dikatakan sebagian orang. Lagarde yakin ekonomi Indonesia saat ini tidak membutuhkan utang. “Apakah Indonesia mau menerima pinjaman dari IMF? Jawabannya tidak, karena ekonomi Indonesia sekarang ini berada di tangan yang sangat baik,” tegasnya.

Ia menegaskan ketika memutuskan Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan tahunan IMF, tidak ada yang memprediksi bakal terjadi bencana di Indonesia. “Kami tidak akan pernah tahu bahwa Gunung Agung di Bali akan erupsi, gempa akan melanda Lombok dan Sumbawa, dan gempa disertai tsunami akan melanda Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah. Yang kami tahu Indonesia adalah yang terbaik dan ketua tim, Pak Luhut yang merencanakan ini, betul-betul dapat kami percayakan untuk penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali,” tambahnya. (IJ)