Besarnya Potensi Beras Analog Sagu dari Papua

Besarnya Potensi Beras Analog Sagu dari Papua

Beras Analog Sagu (Ist)

SHNet – Tingkat kebutuhan beras bagi masyarakat Indonesia sangat tinggi. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, nasi adalah makanan pokok warga Indonesia.

Besarnya kebutuhan beras bagi masyarakat Indonesia membuat negara ini selalu mengimpor beras dari Thailand, Vietnam, dan bahkan Pakistan. Jumlah impor beras juga selalu mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2015, Indonesia mengimpor beras sebanyak 569.620 ton beras. Tahun 2016 sebanyak 1,28 juta ton atau setara dengan 531,84 juta dollar AS. Tahun 2017 impor beras mengalami penurunan cukup drastic, yakni hanya sekitar 256.560 ton atau setara dengan 119,78 juta dollar AS.

Sementara tahun 2018, BPS mencatat impor beras sebanyak 865.519 ton. Data ini memang masih diperdebatkan karena Badan Urusan Logistik (Bulog) hanya mengakui kalau mereka mengimpor sebesar 500.000 ton saja.

Hal itu menunjukkan Indonesia sangat tergantung pada beras sebagai makanan pokoknya. Artinya Indonesia akan selalu mengimpor beras jika tidak dilakukan ekstensifikasi lahan persawahan dan mencari sumber lain sebagai pengganti beras. Padahal alih fungsi lahan persawahan belakangan ini makin tinggi dan pertumbuhan penduduk terus meningkat.

Beras Analog Sagu

Nah, Papua memiliki sumber pengganti beras. Sagu! Sagu menjadi salah satu alternatif yang bisa dikembangkan, karena Indonesia mempunyai wilayah yang luas dan cocok untuk perkembangbiakan sagu.

Di Indonesia, selain dikenal hidup dan berkembang di Papua, pohon sagu juga terdapat di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau dan Kepulauan Mentawai. Namun demikian, mayoritas pohon sagu terdapat di Papua. Menurut data Kementerian Pertanian (Kementan), pohon sagu yang hidup di hutan alam Papua dan Papua Barat saat ini mencapai luas 1,2 juta ha. Sementara di Maluku ada 50.000 ha.

Sementara pohon sagu yang merupakan hasil semibudidaya (sengaja ditanam/semicultivation) mencapai luas 158.000 ha. Rinciannya, 34.000 ha di Papua dan Papua Barat, 10.000 di Maluku, 30.000 di Sulawesi, 20.000 di Kalimantan, 30.000 di Sumatera, 20.000 di Kepulauan Riau dan 10.000 di Kepulauan Mentawai.

Namun, Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) memiliki data yang sedikit berbeda dan bahkan menyebut luas lahan yang jauh lebih besar. Data UP4B tahun 2014 menyebut luas lahan sagu dunia sebesar 6,5 juta ha. Dari luas lahan tersebut, Indonesia memiliki pohon sagu seluas 5,5 juta ha. Sebesar 5,2 juta di antaranya berada di Papua dan Papua Barat dengan hasil pati sagu 25 ton/ha/tahun.

UP4B mencatat, setidaknya ada 125 juta ton/tahun sagu yang bisa dihasilkan saat ini. Sementara untuk tiga tahun ke depan, jika bisa dikembangkan dengan baik, Indonesia bisa produksi beras analog sagu sebesar 2, 4 juta ton/tahun. Jumlah yang sangat besar. Bahkan jika mencapai produksi tersebut, Indonesia menjadi negara penghasil dan pengekspor beras analog sagu terbesar dunia.

Keungulan

Beras analog sagu adalah beras yang diolah dari bahan non padi yang memiliki kandungan karbohidrat hampir sama atau lebih dari beras. Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Kementan menyebutkan komposisi rasio pati sagu adalah demikian. Air (1:3) merupakan rasio terbaik untuk menghasilkan beras analog sagu. Pada rasio tersebut pati sagu dapat tergelatinisasi sempurna, adonannya dapat dicetak dan hasil ekstrusi terpisah sempurna.

Perlakuan penambahan protein menghasilkan beras analog sagu yang berwarna kekuningan. Penambahan protein sebesar 2,5% menghasilkan beras analog sagu yang memiliki kekerasan hampir sama dengan beras komersial.

Sifat fisikokimia beras analog yang diformulasi dengan kondisi tersebut, yaitu kadar air (8,94%), abu (0,43%), lemak (0,56%), protein (1,66%) dan karbohidrat (88,62%). Artinya, sagu sangat baik, lebih sehat, cocok untuk yang melakukan program diet. (Inno Jemabut)