Bertekad Membina Kestabilan Bangsa

Sejak 1 Oktober 1965 Kita

Bertekad Membina Kestabilan Bangsa

Jakarta, 1 Oktober 1974 – Menhankam/ Pangab Jenderal TNI M. Panggabean mengatakan setelah belajar dari sejarah bangsa sendiri, maka makna Pancasila sebagai filsafat yang mengintegrasikan kehidupan nasional secara demokratis dan yang dibina oleh kaidah Ketuhanan Yang Maha Esa mempunyai arti yang lebih dalam lagi dan sangat fundamental sifatnya bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

Hal tersebut dikatakan pada upacara memperingati Hari Kesaksian Pancasila 1 Oktober 1974 di halaman Departemen Hankam bertindak sebagai Inspektur Upacara Kasdep Hankam Letjen TNI Hasnan Habib.

Menhankam selanjutnya menekankan bahwa menjadi kewajiban kita semua untuk memahami dan menghayati makna Pancasila sedalam-dalamnya serta mengamalkan dalam kehidupan nasional kita.

Dengan menyadari akan kesaktian dan kekuatan Pancasila itulah kata Menhankam kita mempunyai tugas dan kewajiban untuk senantiasa mengamankan dan mengamalkannya.

Dalam awal amanatnya Menhankam telah menguraikan sejarah pemberontakan PKI dengan serangkain pembunuhan secara kejam dan biadab terhadap pimpinan beserta pejabat teras Angkatan Darat.

Ditegaskan selanjutnya oleh Panggabean bahwa sejak 1 Oktober 1965 kita bertekad untuk menciptakan dan membina stabilitas nasional yang mantap dan dinamis yang memberikan ruang gerak bagi pembangunan dan kemajuan berdasarkan Pancasila.

Sesuai dengan tujuan itulah maka pemerintah Orde Baru berusaha menumbuhkan kehidupan politik dan ketatanegaraan Pancasila dan UUD 45 sehingga dapat benar-benar melembaga dan menjadi sistem yang mantap, demikian Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Panggabean.

Di Lobang Buaya
Hari Peringatan Kesaktian Pancasila 1 Oktober 1974 diperingati dengan suatu upacara khidmat di Lobang Buaya, Jakarta, dengan Presiden Soeharto sebagai Inspektur Upacara tanpa mengucapkan amanat.

Presiden Soeharto mengenakan setelan kehitam-hitaman memasuki tempat upacara tepat pukul 08:00 WIB diiringi Ny. Tien Soeharto, Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Panggabean. Sedang barisan hadirin yang terdiri dari Wakil Presiden, para menteri, Wapangab Jenderal TNI Soerono, Kas Kopkamtib Laksamana TNI Soedomo, para Kepala Staf Angkatan dan Kapolri, Pangkostrad, Pangdam V Jaya, Pangkodau V, para dubes dan negara sahabat serta undangan lainnya telah siap mengikuti upacara sejak pukul 07:00.

Upacara
Pada upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tersebut Presiden Soeharto memimpin acara mengheningkan cipta kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Pancasila oleh Wakil Ketua DPR/MPR Kartidjo dan Pembacaan Mukadimah Undang-Undang Dasar 4 oleh Menteri Sekretaris Negara Soedarmono.

Sedang pembacaan dan penanda tanganan ikrar oleh Wakil Ketua DPR/MPR Moh. Isnaeni dan pembacaan do’a oleh Menteri Agama RI Mukti Ali.
Selesai upacara pokok Presiden Soeharto diikuti para tamu mengadakan peninjauan ke Cungkup, patung ketujuh Pahlawan Revolusi yang kemudian dilanjutkan dengan peninjauan Gedung Paseban.

Tema
Maksud memperingati Kesaktian Pancasila adalah untuk mengambil manfaat positif yan sebesar-besarnya dari hasil mawas diri yang dijadikan tema dari upacara Hari Peringatan Kesaktian Pancasila 1 Oktober.

Sebagai tujuan adalah membulatkan tekad untuk meneruskan perjuangan mengawal serta mengamalkan dan tetap mempertahankan Pancasila secara gigih sesuai dengan naluri amal bhakti para Pahlawan Revolusi dengan senantiasa memusatkan perhatian prinsip antara lain memelihara terus-menerus kewaspadaan dan daya juang terhadap ancaman khususnya terhadap bahaya laten PKI yang sudah melakukan pengkhianatan dua kali terhadap negara bangsa dan Pancasila. (Sinar Harapan)