Berduyun-Duyun Orang Mengantar Pemakaman Kedua Pahlawan KKO

Jenazah Dimakamkan Di Taman Pahlawan Kalibata

Berduyun-Duyun Orang Mengantar Pemakaman Kedua Pahlawan KKO

Jakarta, 18 Oktober 1968 – Jum’at siang ini jam 13:00 kedua jenazah dari prajurit KKO Kopral KKO Anumerta Usman bin Said alias Tahir dan Sersan II KKO Anumerta Harun bin H.M. Ali yang telah disemayamkan semalam di Aula Hankam, dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata dengan upacara kebesaran militer.

Rakyat yang sejak Kamis sore telah menunggu kedatangan jenazah kedua pahlawan itu telah berjajar kembali disepanjang jalan yang dilalui dengan perasaan duka yang mendalam. Ibu-ibu bahkan gadis-gadis tak kuasa membendung lelehan airmata tatkala mobil yang mengangkut jenazah tersebut melintas pelan sepanjang jalan.

Iringan jenazah yang panjang menuju Taman Pahlawan itu bukan saja diiringi oleh pembesar pemerintahan dan pejabat tinggi militer, tapi juga tokoh politik, para pelajar, mahasiswa serta pemuda ikut mengantarkan pemakaman ini, berderet dalam barisan yang panjang. Terik sinar matahari yang panas membakar tidak mengurangkan sambutan rakyat sepanjang jalan yang mengelu-elukan perjalanan terakhir pahlawan nasional yang masih muda belia itu.

Kedatangan jenazah
Setelah ditunggu lebih dari 2 jam lamanya, maka tepat pada jam 17:22 WIB, mendaratlah pesawat AURI Avia T-418 membawa 2 jenazah prajurit KKO yang dihukum mati gantung di Singapura hari Kamis pagi.

Lapangan terbang Kemayoran yang penuh sesak oleh penjemput baik militer, mahasiswa, pelajar maupun rakyat jelata, untuk beberapa saat lamanya telah hening tiada bersuara sementara kedua peti jenazah diturunkan dari pesawat untuk diterima oleh Inspektur Upacara Pangal Mulyaadi dan kemudian diserahka kembali kepada Panglima KKO Mayjen Mukiyat.

Tampak menjemput di Kemayoran Menlu Adam Malik, Pangad Jenderal Panggabean beserta isteri, Pangdam V Amir Machmud, Gubernur Ali Sadikin serta beberapa Menteri Kabinet Pembangunan dan Pimpinan DPRGR.

Pelayanan Singapura tidak simpatik
AKBP Soewarno sebagai salah satu perwira AK yang ikut menjemput kedua jenazah ke Singapura, atas pertanyaan pers menyatakan bahwa kelambatan yang terjadi adalah disebabkan karena pelayanan dari pemerintah Singapura yang tidak simpatik.
Pesawat AURI tersebut tidak diperbolehkan mendarat di lapangan terbang sipil Singapura, melainkan di lapangan terbang militer dan para awak kapal tidak diperkenankan keluar lapangan.

Bahkan penjagaan disekitar lapangan nampak sangat ketat. Brigjen Tjokropranoto sebagai utusan Presiden Soeharto yang sekaligus menjemput kedua jenazah bersama dengan Kuasa Usaha Indonesia di Singapura Letkol Ramli, atas pertanyaan pers menyatakan kebanggaannya atas ketabahan sampai akhir menjelang ajal betul-betul mereka itu adalah prajurit Indonesia yang baik.

Letkol Ramli, ketika ditanya oleh para wartawan menyatakan bahwa untuk sementara tidak bersedia untuk memberikan keterangan pers sebelum melaporkan kepada pimpinan. (SH)