Belajar Berani Lewat Festival Seni

Belajar Berani Lewat Festival Seni

Penampilan anak dalam Festival Tlatah Bocah, festival seni budaya rutin di kawasan Jawa Tengah dan sekitarnya. Festival tahunan ini diikuti sejumlah grup kesenian anak dari kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Perbukitan Menoreh, dan daerah-daerah sekitarnya, bahkan dari luar Jawa dan luar negeri. Festival Tlatah Bocah XII tahun ini pada 15-20 Oktober 2018 (di SMK Pangudi Luhur, Magelang) dan 24-28 Oktober 2018 (di Dusun Sumber, Magelang)

SHNet, Jakarta – Tengah hari baru saja lewat, saat dua sepeda motor beriringan memasuki jalan kecil panjang menuju sebuah dusun di lereng Gunung Merapi. Jalanan nan rindang itu awalnya menurun, lalu segera kembali menanjak, sebelum memasuki pintu gerbang dusun kecil bernama Ngandong.

Pengendara motor, Gunawan Julianto bersama rekannya, Lim Wen Sin, keduanya adalah pegiat komunitas Tlatah Bocah. Kedatangan mereka berdua langsung disambut teriakan sapaan dari beberapa penduduk dusun–bukan teriakan warga dusun yang dewasa lho, melainkan dari warga kanak-kanak. Mereka sepertinya sudah menunggu-nunggu kedatangan keduanya ke dusun mereka.

Tak butuh waktu lama, anak-anak yang tadinya hanya terdengar suaranya, kini mulai bermunculan dari rumah-rumahyang berjajar di sepanjang jalan dusun kecil itu. Mereka berdatangan dengan muka-muka ceria ke salah satu rumah tempat Gunawan dan Lim memarkir motor mereka.

“Ini boleh Pak Gun?”
“Kalau yang ini boleh?”
“Saya boleh dua?,” tanya mereka berebut sambil mengacung-acungkan kaus yang mereka bawa dari rumah, tak sabar ingin mendapat jawaban.

“Bisa, boleh, yang penting ada bagian yang bisa disablon,” kata Gunawan beberapa kali.

Oh, rupanya anak-anak di dusun ini sedang menunggu saat-saat kaus mereka bakal disablon oleh Gunawan.

Lelaki asal Kota Muntilan yang langsung sibuk menurunkan peralatan sablon dari motornya ini rupanya masih juga mendapatkan pertanyaan dari beberapa anak yang baru datang kemudian. Ia dengan sabar menjawab. Bahkan, jawabannya kadang diselingi canda yang menyebabkan gelak tawa. Paling tidak, caranya itu cukup mampu menenangkan kegelisahan anak-anak yang terlihat tak sabar menunggu.

“Bocah Dudu Dolanan, Bocah Kudu Dolanan”
Gunawan meminta anak-anak mempersiapkan kaus-kaus yang akan disablon. Sebagian anak yang agak besar berinisiatif membantu merapikan tumpukan kaus, sambil menerima kaus-kaus yang terus berdatangan dari anak-anak yang kembali ke rumah mereka untuk mengambil lebih banyak kaus lagi untuk disablon. Tampaknya, mereka mengambil kaus kepunyaan orang-orang di rumah mereka, mulai dari yang berukuran kecil sampai ada yang berukuran agak besar.

Gunawan Julianto menyablon kaus anak-anak di Dusun Ngandong, Magelang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. [SHNet/Ist]

Sebagian anak malah ada yang tampak segera melepas kausnya dan bertelanjang dada, lalu menyerahkan kausnya untuk ikut antre dalam tumpukan yang siap disablon.

“Kaus warna gelap dipisahkan dari kaus berwarna terang,” kata Gunawan dan Lim mengingatkan anak-anak yang sibuk mengatur kaus menurut ukurannya.

Pemisahan itu supaya pemilihan warna sablon bisa disesuaikan dengan warna kausnya. Kaus warna gelap disablon lebih dulu dengan warna terang, dan kemudian kaus warna terang disablon dengan warna gelap.

Tak sampai satu jam kemudian, Gunawan dan Lim sudah terlihat sibuk menyablon kaus-kaus berbagai ukuran. Setiap kali satu kaus selesai disablon, kerumunan anak-anak yang mengelilingi kedua penyablon ini langsung bersorak, senang dengan hasil sablon yang mereka lihat.

Mereka pun secara reflek membaca tulisan dalam bahasa Jawa yang kini tertera di kaus mereka: “Bocah Dudu Dolanan, Bocah Kudu Dolanan”, yang artinya, “Anak Bukan Mainan, Anak Harus Bermain”.

Anak-anak menunggu kaus kering. [SHNet/Ist]

Segera, Festival Tlatah Bocah XII!
Kalimat ini merupakan salah satu yang identik dengan Tlatah Bocah. Penyebabnya, mungkin karena kalimat tersebut pernah menjadi tema Festival Tlatah Bocah beberapa tahun sebelumnya. Atau mungkin, semenjak menjadi tulisan di kaus Tlatah Bocah, kalimat “Bocah Dudu Dolanan, Bocah Kudu Dolanan” lantas menjadi semacam jargon yang lekat dengan komunitas Tlatah Bocah itu sendiri.

Bukan hanya para “donatur” dari berbagai kota yang selama ini mengenakan kaus bertuliskan kalimat tersebut, kini anak-anak Ngandong dalam waktu tak berapa lama pun telah bisa mengenakan kaus dengan tulisan yang sama. Bahkan, mereka bisa berulang-ulang membaca, lalu mengucapkan dan meneriakannya di luar kepala.

Beberapa anak kecil yang baru belajar membaca bahkan tampak beberapa kali mengeja tulisan yang tersablon di kausnya. Sementara, para balita yang belum mengenal huruf berusaha menirukan kakak-kakaknya yang meneriakkan kalimat berima itu berulang-ulang.

“Bocah Dudu Dolanan, Bocah Kudu Dolanan,” kata seorang anak berlagak seperti guru, seolah-olah menasihati teman-temannya. Gayanya itu pun menular, membuat anak-anak lain menirukan, beberapa dengan gerakan dan nada kanak-kanak yang terdengar lucu.

Berbagai ekspresi kegembiraan muncul di wajah anak-anak. Mereka mondar-mandir di tempat kaus mereka yang telah disablon dibentangkan, tampak menunggu hasil sablonan mengering.

Beberapa anak tampak tak beranjak dari lantai, ada yang tepekur, seperti menikmati warna-warni tulisan hasil sablon di kaus mereka itu. Beberapa balita mengekspresikan kegembiraan menunggu dengan menirukan gerakan tarian Soreng yang mereka lihat di acara-acara seni di desa mereka.

“Hokya, hokya! Hokya hokya!” seru para balita itu sambil menari-nari dengan gerakan yang mirip Soreng, tampak menggemaskan.

Belajar Berani
Tari ala grup band remaja Korea mungkin menarik bagi sebagian anak di kota. Tapi di sini, di Ngandong–mungkin juga di sebagian dusun-dusun lereng Merapi, berbeda. Bukan hanya tari Soreng, jenis tari-tari lain tampaknya cukup memikat perhatian anak-anak setempat untuk ikut menarikannya. Berbagai tarian, mulai dari Reog, Topeng Ireng, Grasak, Campur, juga ditarikan anak-anak dengan meniru gerakan dari para penari dewasa.

Kegiatan anak-anak Tlatah Bocah antara lain menjelajah alam dan menanam pohon di kawasan sekitar tempat tinggal mereka [SHNet/Ist]

Festival Tlatah Bocah sendiri merupakan ajang bagi para bocah ini menampilkan tari-tarian tersebut dengan gaya mereka. Sejumlah grup seni dan tari yang tampil di festival tahunan ini umumnya datang dari kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Perbukitan Menoreh, dan beberapa daerah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sekitarnya. Bahkan, ada kalanya pengisi acara adalah grup kesenian anak, baik dari luar Jawa maupun luar negeri.

Gunawan Julianto, inisiator festival menjelaskan, Tlatah Bocah dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “area bermain anak”. Selain mengadakan kegiatan tahunan, yakni Festival Tlatah Bocah, komunitasnya juga sering mengajak anak melakukan berbagai kegiatan positif, seperti menanam pohon, menjelajah alam, belajar berkegiatan koperasi, dan memelihara ayam.

Anak-anak Tlatah Bocah menjelajah alam di kawasan sekitar tempat tinggal mereka [SHNet/Ist]

Gallant, yang sejak di bangku sekolah aktif mengikuti kegiatan Tlatah Bocah mengatakan, kegiatan Tlatah Bocah sangat bermanfaat bagi anak-anak. Gadis cantik yang sekarang telah menjadi guru di SDK Kanisius, Sumber, Magelang ini menyebutkan, banyak kegiatan positif yang dilakukan anak dalam kegiatan Tlatah Bocah, termasuk saat anak mengikuti penyelenggaraan festival.

“Kegiatan Tlatah Bocah kan tidak hanya pementasan kesenian, tapi pasti ada kegiatan lokakarya-nya,” kata Gallant.

Menurutnya, para siswanya pasti dia anjurkan untuk mengikuti lokakarya. Pasalnya, selain bisa menambah keterampilan, dengan mengikuti lokakarya para siswanya juga bisa berlatih untuk bekerja sama dan melatih keberanian mereka saat bertemu orang baru.

“Karena dalam acara tersebut mereka kan bertemu dengan orang-orang baru,” kata Gallant.

Gunawan menyebutkan, kurang lebih seminggu lagi Festival Tlatah Bocah akan hadir kembali. Festival Ke-12 kali ini bertema Holopis Kuntul Baris, seruan yang dipopulerkan Presiden Pertama RI, Soekarno, di masa awal Kemerdekaan RI. Tujuannya untuk menggugah semangat masyarakat Indonesia agar mau selalu bergotong royong dalam membangun negeri.

Salah satu pertunjukan teater di Festival Tlatah Bocah XI, tahun 2017 lalu. [SHNet/Ist]

Festival Tlatah Bocah XII menurut Gunawan, rencananya diselenggarakan di dua tempat, yakni SMK Pangudi Luhur Muntilan, Magelang (15-20 Oktober 2018) dan di Dusun Sumber, Magelang, Jawa Tengah (24-28 Oktober 2018). Menariknya, pada festival tahun ini, para hadirin dapat mengurus administrasi kependudukan, seperti melakukan perekaman e-KTP, mengurus Akte Lahir, Kartu Keluarga, dan Kartu Ibu Anak (KIA).

“Ada petugas dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang siap melayani warga,” katanya. (whm)