Bantuan Pendidikan UNICEF untuk Sulteng

Bantuan Pendidikan UNICEF untuk Sulteng

Tenda untuk ruang belajar anak-anak korban bencana di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Foto oleh Yoko Masturrait dari Komunitas Tlatah Bocah beberapa waktu yang lalu.[SHNet/Ist].

SHNet, Jakarta – The United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyerahkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bantuan untuk memulihkan pendidikan pascabencana di Sulawesi Tengah (Sulteng). Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud menyampaikan hal ini dalam keterangannya kepada media, Rabu (17/10).

Bantuan pendidikan tahap pertama tersebut diserahkan secara simbolis oleh Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Debora Comini kepada Sekretaris Jenderal Kemendikbud Didik Suhardi selaku Koordinator Tim Penanganan Bencana Kemendikbud, Selasa (16/10) di Kantor Kemendikbud, Jakarta.

BKLM menyampaikan bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengapresiasi dukungan UNICEF untuk mempercepat penyelenggaraan pembelajaran melalui kelas-kelas darurat di wilayah terdampak. Pemulihan akses ke layanan pendidikan menjadi sangat penting, karena memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk memulihkan dan membangun kembali kehidupan mereka pascabencana.

“Seluruh anak Indonesia tanpa kecuali harus mendapatkan hak atas layanan pendidikan, termasuk mereka yang terdampak bencana. Proses pembelajaran yang terjadi dapat sekaligus menjadi terapi bagi anak-anak yang terdampak, serta membantu keluarga untuk bangkit kembali,” kata Mendikbuddalam sambutannya.

Kemendikbud menerima dukungan pemulihan pendidikan pascabencana Sulteng berupa 450 tenda sekolah darurat, 300 kotak peralatan sekolah dan permainan, 50 unit perlengkapan pendidikan anak usia dini, dan 363 paket kembali sekolah.

Tenda untuk Ruang Kelas
Kedatangan tahap pertama paket bantuan pendidikan seberat 30 ton meliputi 65 tenda untuk ruang kelas sementara yang didatangkan dari lokasi suplai di Dubai, Uni Emirat Arab. Kemudian, 135 tenda tambahan dan 200 perlengkapan sekolah tiba pada Rabu (17/10) dan hari ini, Kamis (18/10).

Pada tahap berikutnya, sebanyak 250 tenda pendidikan segera tiba dari Kopenhagen, Denmark. Tenda pendidikan standar UNICEF dengan kapasitas dua ruang kelas dikabarkan baru saja tiba di Kalimantan dan akan langsung dikirimkan ke wilayah terdampak dalam beberapa hari ke depan.

BKLM menyebutkan, Kemendikbud bersama UNICEF serta para mitra bahu-membahu memulihkan pelayanan pendidikan di area-area terdampak bencana. Tenda-tenda darurat yang memenuhi standar mutu UNICEF segera didirikan sebagai ruang kelas sementara di tempat-tempat terdampak gempa dan tsunami Sulawesi Tengah.

“Kita tahu bahwa pendidikan adalah alat pemulihan penting dalam situasi darurat seperti ini, saat anak-anak bersekolah dapat dirawat, dipastikan keberadaannya, dan dilindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Debora Comini, Perwakilan UNICEF Indonesia.

Rp 24 Miliar
Kemendikbud telah mengalokasikan 246 miliar rupiah untuk pemulihan pendidikan pascabencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Langkah strategis yang telah dilaksanakan di antaranya adalah aktivasi pos pendidikan yang berpusat di Kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP). Pos terus memantau perkembangan temuan di lapangan terkait jumlah satuan pendidikan, peserta didik, sertya tenaga pendidik dan kependidikan terdampak. Selain itu, di masa tanggap darurat, Kemendikbud juga telah mendistribusikan logistik berupa makanan, air mineral, obat-obatan, susu dan makanan bayi, selimut, serta bahan bakar minyak.

Menurut data dari Sekretariat Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 16 Oktober 2018, terdapat 1.185 sekolah, serta sebanyak 177.166 peserta didik mulai dari pendidikan usia dini sampai menengah dan 12.410 guru di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong yang terdampak langsung bencana. Cukup banyak sekolah di wilayah tersebut yang masih ditutup. Penilaian situasi dan kondisi masih berjalan, sehingga angka-angka tersebut masih dapat berubah.

Sejauh ini, sebanyak 21 tenda telah didirikan sebagai ruang kelas sementara. Dan sebanyak 910 ruang kelas darurat segera tersedia. “Pendidikan adalah alat utama untuk pemulihan. Dengan membangun kembali rutinitas harian dan membantu mengembalikan rasa normal, sekolah menjadi suatu bentuk ruang terapi di tengah-tengah kehancuran akibat bencana,” ujar Debora Comini. (whm/PR)