Australia Bisa Bebas Kanker Serviks

20 Tahun ke Depan

Australia Bisa Bebas Kanker Serviks

Ilustrasi tes Pap Smear di Rumah Sakit / ist

SHNet, Perth – Kanker serviks adalah jenis kanker yang paling sering dialami oleh kaum hawa. Secara global, setiap dua menit satu perempuan di dunia meninggal karena penyakit ini, sementara di Indonesia sendiri angkanya juga lumayan tinggi sebab setiap satu jam ada satu perempuan Indonesia yang menjemput ajal karena kanker ini. Masalah ketidaktahuan atau meremehkan tanda-tanda dari gejala kanker serviks di tahap awal menjadi penyebab terbesar kematian wanita akibat penyakit tersebut. Padahal kanker itu bisa disembuhkan secara total jika dideteksi secara dini.

Perawatan pencegahan dini inilah yang telah membantu Australia membuat penyakit ini menjadi langka. Negara tetangga kita berada di jalur yang tepat untuk menghilangkan kanker leher rahim, demikian sebuah kajian baru mengungkapkan. Saat ini, tujuh dari 100.000 wanita Australia didiagnosis dengan penyakit ini, dan lewat kajian tersebut menunjukkan bukti bahwa jumlah ini akan jauh berkurang yakni enam kasus baru dari 100.000 pada tahun 2020.

Pada tingkat ini penyakit ini boleh dikatakan berada di bawah klasifikasi ‘langka’. Penelitian menunjukkan jumlah kasus akan terus menurun, dengan mengatakan bahwa akan ada kurang dari satu kasus baru per 100.000 pada 2066.

Jika penelitian membuktikan benar, Australia akan menjadi negara pertama di dunia yang mampu mengeliminasi kanker serviks dari penduduknya. Kanker serviks adalah kanker paling umum keempat pada wanita.

Sekitar 500.000 wanita di seluruh dunia didiagnosis dengan penyakit pada 2018 saja. Para penulis penelitian ini menunjukkan upaya terkonsentrasi di Australia dalam perawatan pencegahan sebagai faktor utama dalam pengurangan kanker yang luar biasa.

Pada tahun 1991, Australia mulai merekomendasikan bahwa wanita antara usia 18 dan 70 menerima Pap smear setiap dua tahun. Pemeriksaan pap smear dilakukan oleh dokter umum atau dokter kandungan.

Dokter memasukkan sebuah perangkat metal atau plastik (spekulum) ke dalam vagina wanita untuk menahan dinding vagina terbuka sementara sampel kecil sel diambil dari serviks. Prosedurnya tidak nyaman tetapi tidak menyakitkan bagi pasien.

Sampel kemudian dikirim ke laboratorium untuk analisis. Pengenalan pap smear reguler untuk wanita menurunkan tingkat kanker serviks sebesar 50% pada wanita yang lebih tua dari usia 25 tahun.

Pada tahun 2007 Australia memperkenalkan program vaksin human papillomavirus (HPV) yang didanai secara nasional. Australia menjadi negara pertama yang memperkenalkan secara nasional program vaksin HPV.

HPV adalah infeksi menular seksual yang menyebabkan hampir semua kasus kanker serviks. Dan lewat program nasional tersebut, vaksin ini juga berhasil melindungi terhadap kondisi pemaparan virus HPV lainnya, seperti kutil di kelamin dan kanker tenggorokan, penis, anus, vulva dan vagina.

79 persen gadis Australia telah divaksinasi pada tahun 2016. Kemudian tahun lalu, di tahun 2017, pemerintah Australia mengubah rekomendasi Pap smear dari setiap dua tahun proses pemeriksaan screening (uji tapis) HPV menjadi setiap lima tahun untuk wanita antara usia 25 hingga 74 tahun.

Proses evaluasi ini memberikan hasil yang lebih baik saat mencari kelainan sel yang terkait dengan infeksi HPV. Para peneliti memodelkan data vaksinasi HPV, riwayat alami penyakit yang dialami dan penapisan serviks.

Para penulis kajian menyatakan kegembiraan mereka dengan temuan tersebut yang mengatakan para ahli terkejut bahwa eliminasi penyakit terjadi begitu cepat meskipun melalui upaya besar untuk pencegahannya. Namun, pertarungan melawan penyakit mematikan kaum perempuan ini belum berakhir.

Organisasi kesehatan harus terus membuat uji tapis HPV tersedia bagi wanita semudah dan semurah mungkin untuk prediksi yang luar biasa sehingga membuahkan hasil yang baik. Ini merupakan perjuangan untuk menghapus kanker serviks yang harus dilakukan ke negara lain juga.

Tingginya tingkat kematian kanker serviks terjadi di tempat-tempat di mana pemeriksaan dan tes awal tidak tersedia. “Insiden kanker serviks di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah juga dapat secara substansial dikurangi melalui kombinasi skrining dan vaksinasi,” penulis penelitian menulis, “namun, inisiatif besar diperlukan untuk mencapai cakupan vaksinasi dan skrining serviks yang tinggi.” Studi ini dipublikasikan di Lancet, sebuah jurnal medis umum.

Badan kesehatan dunia (WHO) sendiri mengajurkan untuk memberi vaksinasi awal terhadap para perempuan dengan kisaran usia 9 hingga 15 tahun, meski pada usia tersebut sebagian besar perempuan belum aktif secara seksual, namun vaksinasi dilakukan sebagai pencegahan bila kelak mereka menikah. Sebab, lebih dari 70 persen penularan HPV terjadi melalui hubungan seksual dan HPV menjadi penyebab hampir semua kasus kanker serviks. (TJE)