ABRI Tidak Ingin Kuasai Golongan Lain

Presiden Soeharto Pada HUT ABRI Ke-24

ABRI Tidak Ingin Kuasai Golongan Lain

Harus Dicegah Persaingan Tak Sehat

Jakarta, 5 Oktober 1969 – Presiden dalam amanatnya pada Hari Peringatan ke-XXIV Angkatan Bersenjata RI menegaskan, bahwa peranan ABRI adalah sebagai stabilisator dan dinamisator yang berarti ABRI tidak ingin menguasai golongan lain.

Ditekankan pula bahwa ABRI tidak ingin memonopoli kursi di Lembaga Legislatif ataupun Eksekutif dan tidak bernafsu menjadi “Diktator” yang memaksakan kehendaknya atas golongan yang lain.

Oleh sebab itu dalam jangka dekat ini, peranan ABRI sekaligus ditujukan pada dua arah ialah pertama stabilisasi nasional yang dinamis dan kedua suksesnya pelaksanaan pembangunan lima tahun.

Berkatalah Presiden selanjutnya, bahwa sebagai kekuatan sosial politik, ABRI menempatkan diri sejajar dengan kekuatan sosial poltik lainnya, akan tetapi sebagai kekuatan sospol yang sadar, ABRI tetap sadar pada dasar negara, tujuan perjuangan ialah Pancasila dan UUD 45.

Oleh karena itu maka ABRI punya konsepsi yang jelas, dan konsepsi diperjuangkan secara demokratis dan konstitutionil. Jalan inilah yang dilaksanakan ABRI karena menurut pengalaman, tidak ada satu kekuasaan diktator-pun yang tahan terhadap ujian jaman.

Cita-cita ABRI
Presiden Soeharto selanjutnya mengatakan, bahwa cita-cita ABRI adalah kemerdekaan bangsa dan kesejahteraan rakyat yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45. Semangat ABRI adalah semangat perjuangan untuk mewujudkan cita-cita itu tanpa mengenal menyerah. Dan untuk semua ini ABRI bertindak dengan nyata demi mewujudkan cita-cita dan kepentingan seluruh rakyat.

Mengenai Dwifungsi dikatakan, bahwa ABRI bukan hanya merupakan “alat mati”, bukan hanya merupakan alat pertahanan, melainkan juga merupakan salah satu kekuatan perjuangan bangsa, dan justru itulah ABRI melaksanakan peranannya sebagai kekuatan sosial politik yang sadar, dimana ABRI dilahirkan dari kekuatan rakyat yang punya kesadaran dan tanggung jawab masa depan bangsa Indonesia.

Bangkitnya ABRI menumpas G-30-S/PKI dan merintis perjuangan Orde Baru, justru karena kesadaran sebagai kekuatan perjuangan bangsa.
Mengenai peranan sosial politik ABRI, Presiden katakan, bahwa dewasa ini memang besar, dan hal ini dalam rangkulan perjuangan menegakkan Orde Baru ditahun 1966.

Perjuangan Orde Baru bukan saja menumpas G-30-S/PKI, meruntuhkan Orde Lama, melainkan yang terpenting mewujudkan stabilitas nasional yang dinamis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Prioritas pada pembangunan
Ketahanan nasional dibidang sosial ekonomi ini,menurut Presiden Soeharto harus dibangkitkan, oleh karena pada masa lampau bidang ini sangat terbengkalai hingga melemahkan ketahanan nasional dibidang yang lain.

Dilain pihak, dengan berhasilnya pembangunan lima tahun ini, berarti sekaligus merupakan landasan yang kuat bagi pembangunan dibidang pertahanan-keamanan nasional. Dengan keadaan sosial tidak mungkin kita membangun Pertahanan-Keamanan yang kuat.

Presiden menghargai kesadaran slagorde ABRI ya tulus ikhlas memberikan prioritas pembangunan ekonomi.
Reorganisasi
Untuk mewujudkan stabilisasi nasional guna mensukseskan Pelita dan pembangunan pertahanan keamanan nasional dimasa depan, Presiden Soeharto mengatakan, kita telah dan terus akan mengadakan penyempurnaan organisasi dala tubuh ABRI sendiri.

Menurut Presiden, penyempurnaan ini merupakan bagian yang mutlak dari perombakan sikap mental dalam semangat Orde Baru.

Presiden menekankan bahwa beberapa waktu yang lalu telah diambil langkah yang penting ialah mengembalikan Kepolisian Negara Republik Indonesia kepada fungsi dan tugas pokoknya sebaga alat penertiban masyarakat dan alat penegak hukum, serta menertibkan sebutannya bukan merupakan Angkatan Kepolisian, tetapi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Peningkatan tugas pokok dan sebutan, demikian Presiden Soeharto tidak mengurangi kedudukan Kepolisian RI sebagai Angkatan Bersenjata, dengan demikian Angkatan Bersenjata kita terdiri dari Angkatan Bersenjata Kepolisian Republik Indonesia.

Dengan demikian maka Angkatan perang akan dapat memusatkan kegiatannya melakukan konsolidasi kedalam rangka usaha terus meningkatkan mutunya meningkatkan tugas dimasa depan terutama tugas dibidang strategis.
Konsolidasi kedalam sekarang ini lebih leluasa dilakukan ABRI, sebab gangguan keamanan bersenjata yang strategis sifatnya teratasi.

Petahanan keamanan nasional dimasa datang, menurut Presiden Soeharto, titik tolaknya kita gunakan “wawasan nusantara” yang artinya “Indonesia harus kita bina bersama-sama sehingga menjadi kesatuan pertahanan keamanan disamping kesatuan mental dan kesatuan ekonomi”. (SH)