Seruan Kesetaraan Asian Para Games 2018 Bangkitkan Gairah Atlet

Seruan Kesetaraan Asian Para Games 2018 Bangkitkan Gairah Atlet

OBOR - Atlet difabel tenis meja asal Ternate, Rissal Ansor , yang membawa obor Asian Para Games di Ternate, Minggu (9/9), mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang menghadirkan ajang bergengsi Asian Para Games di Indonesia juga kepada Menpora Imam Nahrawi dan Ketua INAPGOC, Raja Sapta Oktohari yang kerap menyuarakan kesetaraan demi mengangkat harkat dan kepercayaan diri para atlet. (Dok/SHNet)

SHNet, JAKARTA – Seruan kesetaraan dan kepedulian terhadap para atlet penyandang disabilitas saat mengikuti kirab obor Asian Para Games 2018 yang dikobarkan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi dan Ketua INAPGOC, Raja Sapta Oktohari pada Kirab Obor Asian Para Games 2018 di Ternate, Maluku Utara, Minggu (9/9) benar-benar dimaknai para atlet disabilitas dengan hati.

Mereka merasa tersanjung dan gairah seolah bangkit kembali dengan hadirnya Asian Para Games 2018 di negeri sendiri yang akan digelar pada 6-13 Oktober mendatang di Jakarta. Beberapa diantara mereka benar-benar merasa begitu dihargai dan kesetaraan itu terasa benar membuat gairah untuk mengukir prestasi layaknya para atlet di Asian Games 2018 lalu terus membubung.

Seruan kesetaraan itu pun jadi pemicu luar biasa yang terus mengalir dalam darah setiap atlet disabilitas dari hari ke hari. Sebut saja atlet difabel tenis meja asal Ternate, Rissal Ansor, yang juga berkesempatan membawa obor Asian Para Games di Ternate. Rissal begitu gembira dan bangga dipercaya membawa obor Asian Para Games sehingga ia menyatakan sampai lupa dengan kondisi tubuhnya.

“Kami tak dianggap berbeda dan kesetaraan itu benar-benar nyata saya rasakan saat membawa obor Asian Para Games ini. Terima kasih buat pemerintah yang menghadirkan ajang bergengsi Asian Para Games di Indonesia juga kepada Pak Menpora dan Pak Okto sebagai Ketua INAPGOC dan seluruh masyarakan Indonesia yang melihat ajang Asian Para Games setara dengan Asian Games 2018 sehingga kami para atlet pun ikut merasakan kesetaraan itu. Ini luar biasa,” ujar Rissal kepada SHNet, di Ternate, Minggu (9/9).

Raut wajah Rissal begitu sumringah. Tak beda dengan mantan pembalap motor kawakan yang malang melintang di kelas Supersport 600 cc, M. Fadli yang juga tengah mempersiapkan diri tampil di Asian Para Games 2018.

Atlet balap sepeda, M Fadli, mengucap syukur dengan kehadiran Asian Para Games 2018 sehingga bisa ikut merasakan kembali berkompetisi dengan para atlet dunia. (Dok/SHNet)

Juara nasional bahkan tampil di sejumlah kejuaraan internasional di Malaysia, Thailand, Spanyol, hingga menjadi raja road race Indonesia. Setelah menjuarai balapan Asia Road Racing Championship (ARRC) Seri kedua di Sirkuit Internasional Sentul, Bogor, Jawa Barat, 2015 lalu, Fadli lantas mengalami kecelakaan hingga patah kaki. Semangat Fadli sempat pupus. Untungnya, ia cepat tersadar, hidup masih panjang dan banyak jalan menuju Roma.

Meski harus menggunakan kaki palsu sejak dua tahun silam, Fadli tak berkecil hati. “Ini sudah jalan hidup saya dan saya harus bangkit melakukan sesuatu. Alhamdulilah semua ada jalan hingga saya tetap bisa menjadi atlet dan menyalurkan bakat saya berusaha menjadi yang tercepat di lintasan. Semoga ada berkah dari Asian Para Games 2018 kali ini,” kata Fadli saat di hubungi SHNet, via ponselnya, Rabu (12/9).

Ketika Fadli menghentikan semua aktivitas balap motornya, impiannya untuk kembali meraih gelar juara tak pudar. Fadli pun memutuskan banting setir jadi pembalap sepeda. Dan, untuk pertama kalinya, ia mewakili Indonesia pada Kejuaraan Para-Cycling Asia, di Bahrain. Itulah awal ia membangun karir barunya sebagai atlet disabilitas.

Usai tampil di Bahrain, Fadli kembali dipercaya tampil pada ajang SEA Para Games di Malaysia tahun lalu. Ia langsung meraih medali perunggu di nomor andalannya, Individual Time Trial (ITT) kategori C4,  yang disebut sebagai salah satu nomor bergengsi di ajang paracycling. Sebagai pendatang baru, di ajang Asian Para Games 2018 ini, Fadli tak mau memberi target yang terlalu tinggi. Ia sadar,  olahraga yang ia lakoni ini masih sangat baru.

“Secara pribadi saya ingin jadi yang terbaik. Tapi saya juga tak mau muluk-muluk. Nantinya saya akan dapat saingan dari pembalap China dan Iran. Mereka sudah lama mempersiapkan diri. Sementara, persiapan saya baru awal Januari lalu. Dan, tampil di ajang Asian Para Games 2018 ini saja sudah membuat gairah hidup saya makin melambung. Terlebih karena seruan kesetaraan yang selalu dikobarkan Menpora dan sejumlah petinggi olahraga membuat harkat kami terasa menjulang,” ungkapnya.

Guna mendapatkan hasil terbaik ia mengaku berlatih intensif di bawah pengawasan pelatih Puspita Mustika Adya. “Sungguh ini bukan hal yang mudah dari balap motor ke sepeda. Apalagi, jawara-jawara ada di sini semua. Karena itu, saya tak pasang target muluk-muluk. Terpenting, berlatih keras dan ikhlas, tentu hasilnya tak akan mengecewakan. Di atas segalanya, saya mengucap syukur dengan kehadiran Asian Para Games 2018 sehingga saya pun bisa ikut merasakan kembali berkompetisi dengan para pembalap dunia. Terlebih terima kasih atas kobaran api kesetaraan kepada kami,” ujar Fadli.  (Nonnie Rering)