Pohon Beringin Perbatasan Bung Karno

Pohon Beringin Perbatasan Bung Karno

Foto: Ino/SHNet

SHNet, ATAMBUA – Selasa (18/9) lalu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo, meletakan batu pertama pembangunan miniatur Patung Seokarno di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembangunan Patung Soekarno tersebut dilakukan pada HUT VIII Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) sebagai tanda dilakukannya pembangunan patung serupa di tujuh PLBN lain di Indonesia saat ini.

Pemilihan PLBN Motaain sebagai lokasi puncak HUT BNPP, menurut Tjahjo Kumolo, bukan tanpa alasan mendasar. Tahun 1955, Presiden Soekarno berkunjung ke Atambua. Selama semalam proklamator kemerdekaan Indonesia itu berada di Atambua dan menyempatkan diri berpidato di Lapangan Umum Atambua, depan rakyatnya.

Kunjungan semalam itu tak akan hilang dari ingatan warga Atambua, kota perbatasan dengan Timor Leste. Ia memberi tanda, simbol yang penuh makna dan bersejarah. Presiden Soekarno menanam pohon beringin di salah satu sudut lapangan.

Pohon itu tumbuh dan kokoh hingga sekarang. Usianya kini sudah 63 tahun. Ketika pohon-pohon lain daunnya berguguran karena kemarau, pohon beringin Bung Karno tetap rindang dan hijau di sudut selatan lapangan. “63 tahun lalu Bung Karno tanam pohon beringin di Atambua ini. Mari kita jaga, kita teruskan semangat Bung Karno untuk menjaga NKRI dan Bhineka Tunggal Ika,” kata Tjahjo Kumolo.

Di bawah pohon beringin itu, banyak warga berkumpul agar tidak kepanasan ketika menononton kegiatan di lapangan. Sekelilingnya dicor semen agar nyaman untuk menjadi tempat duduk. Sambil duduk, bisa memandang dengan jelas monument A.A. Bere Tallo, bupati pertama Belu (1960-1969) yang berdiri kokoh di sebelah utara.

Tjahjo Kumolo, politisi PDI Perjuangan sangat berharap warga Belu bisa menjaga pohon beringin tersebut hingga selama-lamanya. Namun, saat bersamaan semangat dan cita-cita Bung Karno dalam membangun Indonesia harus terus digelorakan. “Perbatasan ini harus hidup. Kita wujudkan Nawacita Presiden Jokowi. Kita bangun dengan sungguh-sungguh,” katanya.

Jika dulu Presiden Soekarno menanam pohon, kali ini Tjahjo membangun Patung Soekarno untuk menghormatinya. Ia menjelaskan, semua daerah yang pernah dikunjungi ayah Megawati Seokarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut, akan dibangun patungnya. Keberadaan patung tersebut diharapkan akan menjadi salah satu daya tarik wisata.

PLBN ke depan, katanya, tidak hanya untuk pos jaga, tetapi menjadi kawasan wisata baru, kawasan ekonomi baru. Pelaksana Tugas Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Widodo Sigit Pudjianto, mengatakan di semua PLBN memang akan dibangun PKSN (Pusat Kawasan Strategis Nasional). PKSN ini akan menjadi puat kegiatan ekonomi daerah perbatasan.

Lapangan Utama Kota Atambua (Foto: Ino/SHNet)

Karena itu berbagai fasilitas di perbataan akan dibangun secara modern. Bahkan menurut  Tjahjo Kumolo, Polsek, Koramil akan dibangun dengan standar tersendiri. Demikian juga sekolah, puskesmas, pasar, sanitasi dan air bersih, kantor imigrasi, kantor bea cuku dan semua yang tekait akan dibenahi dan ditargetkan akan selasai tahun depan. Pemerintah, kata Tjahjo, kini mewujudkan lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke berjajar menjadi satu. Tidak ada lagi yang terpisah, merasa kurang atau tidak diperhatikan.

Menginspirasi

Bupati Belu, Willybrodus Lay, mengatakan apa yang dilakukan pemerintah saat ini sangat menginspirasi mayarakatnya. Menurutnya, negara ini tumbuh karena perbuatan seperti yang dulu digelorakan oleh Soekarno. Ia terkesan dengan apa yang disampaikan Tjahjo Kumolo tentang pohon beringin Bung Karno di Lapangan Utama Kota Atmbua. Ia bahkan ingin menjadikan pohon beringin tersebut menjadi salah satu ikon Kota Atambua dan Kabupaten Belu. “Kami di Belu akan menjaga pohon beringin ini sampai kapanpun,” kata Willybrodus.

Perjuangan Soekarno untuk sampai di Atambua beberapa waktu setelah pemilu 1955 tersebut tentu tidak mudah. Ia mendarat di Atapupu, dengan mengguanakan pesawat Amfibi Catalina. Dari Atapupu ia menuju Atambua dan disambut dengan acara adat. Kain tenun Belu dibentangkan di sepanjang garis pantai hingga ke mobil yang membawanya ke Atambua.

Bung Karno kala itu sangat mengagumi dan menghormati budaya Belu. Ia menanam pohon beringin sebagai simbol menghargai dan menghormati serta melindungi masyarakat Atambua dan Belu umumnya. Hingga saat ini foto kunjungan Soekarno ke Atambua masih tersimpan di Pemerintah Kabupaten Belu.

Hanya saja anak muda di Atambua tidak banyak yang tahu kalau pohon beringin di Lapangan Utama itu adalah hasil tangan dingin Bung Karno. Yans, siswa SMA Negeri I Atambua yang ditemua SHNet, Rabu (19/9) misalnya mengaku tak tahu sejarah pohon beringin itu. “Tidak tau. Itu pohon beringin sa,” kata Yans.

Helena, seorang pegawai negeri sipil di Atambua juga demikian. Helena mengaku lahir dan besar di Atambua. Bahkan telah belasan tahun menjadi PNS di kota tersebut. “Iya kah ini ditanam Soekarno? Tidak tau lai,” katanya.

Pemerintah memang berkomitmen untuk menggali sejarah perjuangan pendiri negeri ini. Negara yang besar adalah negara yang tidak lupa akan sejarahnya. Mungkin itulah tujuan jangka panjang dari pembangun patung di daerah perbatasan tadi. Agar Indonesi menjadi negara besar yang maju dan sejahtera. (Inno Jemabut)