Pertama Kali, Kemensos Libatkan Disabilitas Rungu Wicara dalam Bibliobattle

Pertama Kali, Kemensos Libatkan Disabilitas Rungu Wicara dalam Bibliobattle

Untuk pertama kalinya Kementerian Sosial melibatkan penyandang rungu wicara dalam Bibliobottle. (Dok. Humas Kemensos)

SHNet, Jakarta- Perpustakaan Kementerian Sosial (Kemensos) pada 2018 ini menyelenggarakan Bibliobattle#3 dengan sasaran ana-anak dan remaja di lingkungan Balai Rehabilitasi Sosial Bambu Apus, Jakarta.

Untuk pertama kalinya, Perpustakaan Kemensos akan menggelar Bibliobattle dengan melibatkan anak-anak dan remaja disabilitas rungu wicara

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita dijawalkan hadir dalam acara yang akan digelar, di Balai Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza (BRSKPN), Bambu Apus, Jakarta Timur, Rabu (26/9). Dalam acara bertajuk “Bibliobattle Goes to Balai” ini, Mensos direncanakan akan mendongeng di hadapan anak-anak dan remaja disabilitas rungu wicara.

Semua kegiatan ini sejalan dengan komitmen Perpustakaan Kemensos untuk mewujudkan perpustakaan inklusif bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan bahwa masyarakat berhak mengakses layanan perpustakaan tanpa melihat keterbatasan dan kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan sosial. Layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial menjadi salah satu Kegiatan Prioritas Nasional pada RKP 2019.

Acara ini juga dihelat dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional 2018 dan Hari Bahasa Isyarat Internasional, pada 23 September 2018.

Perpustakaan Kementerian Sosial (Perpustakaan Kemensos) merupakan perpustakaan khusus bidang kesejahteraan sosial. Visi Perpustakaan Kemensos tidak hanya sebagai Pusat Informasi Kesejahteraan Sosial, melainkan juga sebagai wahana terapi.

Untuk itu, peran Perpustakaan Kemensos sebagai wahana pembelajaran terus didorong sebagai wahana bersama mengembangkan potensi para pegawai Kementerian Sosial dan juga penerima manfaat di panti sosial.

Sebagai salah satu pusat pembelajaran, perpustakaan punya peran sentral meningkatkan literasi (dalam arti sederhana dimaknai sebagai minat baca) masyarakat. Budaya literasi menjadi faktor penting memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, dan masyarakat itu sendiri, yang pada ujungnya mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan survei UNESCO minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya, hanya satu dari seribu orang yang memiliki minat baca. Riset Central Connecticut State University Maret 2016 menyatakan minat baca masyarakat Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara.

Dalam kaitan itu, Perpustakaan Kemensos mengembangkan Bibliobattle. Perpustakaan Kemensos sudah menyelenggarakan Bibliobattle dua kali yaitu pada 2016 dan 2017 dengan sasaran pegawai di Kantor Pusat Kementerian Sosial, Jakarta. Kegiatan ini mendapat sambutan antusias serta respon positif dari para pegawai. Perpustakaan Kemensos merrupakan perpustakaan kementerian pertama yang menyelenggarakan Bibliobattle.
Bibliobattle adalah permainan mereview buku yang dikembangkan oleh Graduate School of Informatics di Universitas Kyoto di Jepang. Permainan ini booming di Jepang sekitar tahun 2013 dan sudah menyebar di seluruh dunia. Orang yang menyajikan buku dalam bibliobattle disebut bibliobattler atau presenter buku.

Motto Bibliobattle : “Know People through Books, Know Book Through People” (Mengenal orang melalui buku, mengenal buku melalui orang)

Bibliobattle merupakan kompetisi mereview buku yang telah dibaca dalam waktu terbatas. Review buku disampaikan secara lisan tentang isi buku yang paling menarik supaya audiens juga berkeinginan mengetahui isi lengkap buku yang dimaksud.

Kegiatan bibliobattle ini melibatkan beberapa peserta dan kepada pemenang biasanya mendapatkan hadiah sebagai stimulus. Diharapkan dari kegiatan bibliobattle ini, penerima manfaat mau meluangkan waktunya untuk ke perpustakaan dan membaca buku

Semua kegiatan ini sejalan dengan komitmen Perpustakaan Kemensos untuk mewujudkan perpustakaan inklusif bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan bahwa masyarakat berhak mengakses layanan perpustakaan tanpa melihat keterbatasan dan kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan sosial. Layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial menjadi salah satu Kegiatan Prioritas Nasional pada RKP 2019.

Acara ini juga dihelat dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional 2018 dan Hari Bahasa Isyarat Internasional, pada 23 September 2018. (Stevani Elisabeth)