Pers “Bandel” Akan Ditindak

Wapangkopkamtib Laksamana Sudomo :

Pers “Bandel” Akan Ditindak

Hindarkan Berita Yang Pertentangan Suku, Agama, Ras Dan Golongan

Jakarta, 15 September 1973 – Wapangkopkamtib Laksamana TNI AL Sudomo menjelaskan lagi bahwa masalah ketertiban dan keamanan bukan semata-mata tanggung jawab Kopkamtib atau Departemen Hankam saja tetapi tanggung jawab kita bersama, demikian dikemukakan kepada pers pada acara jumpa pers di Aula Hankam Jum’at pagi.

Dalam hubungan dengan keamanan dan ketertiban itu, Sudomo minta agar pers dalam pemberitaannya tidak menghasut sehingga menimbulkan ketegangan sosial yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa.

Menurut Sudomo dalam koran akhir-akhir ini dapat dibaca berita yang sebenarnya kurang dapat dipertanggung jawabkan dalam arti dapat menggelisahkan masyarakat.

Ia menunjuk beberapa contoh pemberitaan itu antara lain berita mengenai manipulasi PT. Pusri yang katanya sumbernya adalah orang yang sudah dipecat. Demikian pula berita tentang pejabat Dirjen Radio, Film dan TV yang diberitakan seolah-olah dia adalah Orla/PKI.

Selanjutnya Sudomo minta agar untuk setiap pemberitaan sebaiknya dilakukan pengecekan dulu, seandainya berita itu berasal dari sumber yang tidak berwenang.

Pers yang bandel
Dikatakan bahwa sekalipun masih ada surat kabar yang karena sifat pemberitaannya harus berurusan dengan Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban namun baru pada taraf yang paling akhir, komando akan mengambil tindakan keras seperti percabutan Surat Ijin Tertib.

Dikemukakan bahwa tindakan yang diambil terhadap sementara surat kabar hingga sekarang ini masih tetap bersifat menyakinkan dan mendidik.

Akan tetapi kalau menyakinkan dan mendidik itu tidak juga menghasilkan sesuatu maka terpaksa akan diambil tindakan keras seperti pencabutan Surat Ijin Terbit sekalipun hal itu merupakan tindakan yang baru akan diambil pada taraf yang paling akhir, kata Sudomo.

Sekalipun pers kadang-kadang dianggap “bandel” dengan cara atau sifat pemberitaannya akan tetapi menurut Sudomo komandonya itu masih tetap menganggap pers itu sebagai anaknya sendiri.

Ia melihat bahwa belakangan ini masih saja ada surat kabar yang dengan pemberitaannya hanya ingin kebebasan pers saja dengan mengesampingkan tanggung jawab. (SH)