Menristekdikti Tekankan Pentingnya Rencana Induk Riset Nasional

Menristekdikti Tekankan Pentingnya Rencana Induk Riset Nasional

Kemenristekdikti tekankan pentingnya Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). (Ist)

SHNet, Jakarta – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi telah menetapkan Rencana Induk Riset nasional (RIRN) Tahun 2017-2045. Hal tersebut disampaikan oleh Menristekdikti Mohamad Nasir pada pembukaan Forum Riset Life Science Nasional (FRLSN) di Hotel Pullman Central Park, Jakarta (13/9).

Menristekdikti mengungkapkan RIRN menjadi penting karena pembangunan nasional membutuhkan perencanaan dari setiap bidang untuk mengintegrasikan langkah-langkah yang terpadu dan terintegrasi, khususnya antar Kementerian/Lembaga, untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya. Menristekdikti mengungkapkan ada 10 bidang strategis yang menjadi perhatian pemerintah, yakni :

– Energi – Energi Baru dan Terbarukan
– Kebencanaan
– Kemaritiman
– Kesehatan – Obat
– Material Maju
– Pangan – Pertanian
– Pertahanan dan Keamanan
– Sosial Humaniora – Seni Budaya – Pendidikan
– Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
– Transportasi

“Kami telah mengajukan membuat roadmap riset kedepan kepada Presiden Jokowi, yang dinamai Rencana Induk Riset Nasional (RIRN)/National Masterplan Research. Dari 10 bidang ini salah satunya adalah bidang kesehatan dan obat-obatan. Kami berharap Forum Riset Life Science Nasional (FRLSN) dapat berjalan secara berkelanjutan guna mendukung program pemerintah tersebut,” ucapnya.

Direktur Utama PT. Bio Farma Rahman Roestan mengapresiasi dukungan perhatian pemerintah kepada Forum Riset Life Science Nasional (FRLSN). Ia mengajak peneliti untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak guna menciptakan kemandirian farmasi nasional sebagai bentuk kontribusi untuk Indonesia.

Pada kesempatan ini juga dilaksanakan launching prototype Kit HBsAg dan anti HBsAg untuk mendeteksi keberhasilan imunisasi hepatitis b. Rahman Roestan berharap forum nasional ini dapat menginspirasi forum-forum internasional lainnya, seiring ditunjuknya Indonesia sebagai Centre of Excellence (CoE) The Organization Of Islamic Cooperation (OIC) atau Pusat Riset Vaksin Organisasi Kerjasama Islam (OKI). (Stevani Elisabeth)