Menristekdikti : Tak Ada Dikotomi antara PTN dan PTS

Menristekdikti : Tak Ada Dikotomi antara PTN dan PTS

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir saat berkunjung ke Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Sabtu (15/9). (Dok: Fatimah Larasati Harahap-Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristekdikti)

SHNet, Salatiga- Kemajuan di era globalisasi sudah tidak dapat terbendung di Indonesia karena perkembangan teknologi yang semakin canggih pada era revolusi industri 4.0, dimana menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation semakin memacu dan meningkatkan persaingan secara positif bagi perguruan tinggi.

Hal itu disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, saat kuliah umum di Universitas Kristen Satya Wacana, Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu (15/9).

“Menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0 tersebut, pengajaran di perguruan tinggi pun dituntut untuk berubah, termasuk dalam menghasilkan dosen berkualitas bagi generasi masa depan, dan melalui pembelajaran berkelanjutan yang diperoleh melalui proses PSH (Pembelajaran Sepanjang Hayat), tidak hanya dengan pengakuan terhadap perolehan gelar (degree), tapi lebih bersifat sebagai cara memasuki sebuah program pendidikan (entry requirement) ke jenjang yang lebih tinggi,” ujarnya.

Nasir menyoroti mengenai perubahan yang terjadi di era ini. Pembelajaran kini mulai melampaui batas-batas fisik. Ia menyampaikan dengan melakukan hybrid/blended learning, kita dapat menjalin kerjasama antara perguruan tinggi dalam negeri dengan perguruan tinggi luar negeri yang tidak memiliki batasan dalam proses perkuliahan. Bahkan menurut Nasir rasio mengajar ke depannya memungkinkan menjadi 1:1000 pada setiap perkuliahannya.

Dalam menghadapi itu pula, Ia menyatakan bahwa tidak perlu lagi mempermasalahkan dikotomi antara PTN dan PTS. Yang saat ini dilihat oleh masyarakat luas, ujarnya, adalah soal kualitasnya.

“Saya ingin menghilangkan dikotomi penguruan tinggi negeri dan swasta, dan menyakinkan kepada publik bahwa penguruan tinggi swasta juga bisa bersaing dengan perguruan tinggi negeri,” tegas Nasir.

Nasir mengingatkan tingginya kompetensi era revolusi industri 4.0, dan dukungan bimbingan teknisnya dalam menyiapkan pembelajaran, telah dilakukan dengan cara daring dalam bentuk hybrid atau blended learning melalui SPADA-IdREN dengan fleksibilitas dan otonomi kewenangan kepada unit didalamnya untuk mendorong kreativitas dan inovasi, serta memberi kesempatan untuk beroperasinya universitas unggul dunia di Indonesia. Bidang pembelajaran dan kemahasiswaan dilakukan perubahan dilakukan dengan reorientasi kurikulum untuk membangun kompetensi era revolusi industri 4.0. (Stevani Elisabeth)