Gerakan Mahasiswa Sudah Didalangi Unsur Politik

Saksi Ketua Dm-IAIN Berkesan

Gerakan Mahasiswa Sudah Didalangi Unsur Politik

Jakarta, 26 September 1974 – Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam sidang ke-36 pemeriksaan Hariman Siregar, Kamis pagi telah mendengarkan pembacaan berita acara pemeriksaan pendahuluan atas saksi Slamet Efendy Yusuf – Ketua Dewan Mahasiswa (DM) IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Jaksa Ph. Rompas SH bacakan : “Pemeriksaan dilakukan oleh Soehadibroto SH dan Drs. Gatot Hendarto tanggal 8 Juni 1974 Slamet Efendy Yusuf diperiksa di bawah sumpah memberikan keterangan sebagai berikut : Saya bersumpah akan memberikan keterangan mengenai apa yang saya lihat, dengar, ketahui dan saya rasakan dalam hubungannya dengan perkara Hariman Siregar”.

Saya jelaskan bahwa karir saya tahun 1966-1969 menjadi anggota IPNU (Ikatan Pelajar Nahdhalatul Ulama) cabang Purwokerto tahun 1972-1973 Ketua PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia) cabang Yogyakarta dan tahun 1973-1975 menjabat sebagai Ketua Dewan IAIN (Institut Agama Islam Indonesia) dan duduk di Fakultas Syariah di Institut tersebut.

Saya mengenal Hariman Siregar pada tanggal 12 Desember 1973 jam 12:00 di kantor DM-IAIN Yogya pada pertemuan DM yang mendapat undangan menghadiri konferensi Menteri Kebudayaan Asia di Yogya. Pada waktu itu Hariman Siregar ke DM-IAIN bersama Fauzi Rizal, Sampurno dari Fakultas Farmasi UGM dan Sarwoko, penulis DMUI.

Dia datang (tertuduh sekarang) untuk menanyakan maksud gerakan mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogya ketika Menteri Agama Prof. Mukti Ali berkunjung ke Institut tersebut Hariman mendapat jawaban dari IAIN bahwa gerakan mahasiswa IAIN sekitar RUU Perkawinan, soal judi dll. Secara bergurau Hariman mengomentari.

Mengapa bukan Soeharto ?, Kami jawab “Bagi kami Soeharto merupakan kondisi obyektif di Indonesia. Kami hanya bergerak untuk meluruskan hal yang kami pandang tidak benar, bukan mempersoalkan perseorangan”.

Kesan kami waktu itu, Hariman hendak mengajukan pancingan kepada IAIN, apakah akan mempertahankan Soeharto atau tidak. Kesan lain, mahasiswa hendak mempersoalkan Soeharto sebagai titik final. Tetapi sulit juga karena sewaktu Hariman mengatakan “mengapa bukan Soeharto” hal itu dikatakannya dalam keadaan bergurau, jadi tidak serius. Mungkin pancingan belaka.

Mendengar keterangan tertulis saksi tersebut tertuduh Hariman bantah, bahwa ia tidak benar mengatakan “mengapa bukan Soeharto”.

Pemeriksa : “apakah waktu pertemuan itu Hariman membacakan suatu konsep kebudayaan ?”.
Ya, memang dia bacakan konsep kebudayaan yang agaknya sudah diketik.

Dikatakan dalam konsep itu bahwa kebudayaan kita masih bermewah-mewah dengan timbulnya nite club dimana-mana, sementara rakyat tetap saja menderita. Seperti restorasi Borobudur misalnya hanya dinikmati oleh orang lain. Tetapi konsep itu yang disodorkan Hariman tidak mendapat tanggapan sama sekali dari DM sehingga Hariman pulang dengan muka murung.

Dalam pertemuan itu saksi minta uang dari Hariman karena saksi tahu Hariman ada menerima uang dari Panitia Konferensi Kebudayaan se-Asia, begitupun Undip Hariman memberikan uang Rp. 2000.

Akhirnya kesan kami sesudah peristiwa “15 Januari” gerakan mahasiswa sudah didalangi unsur politik dan kami hanya mengharapkan agar yang berwajib berhasil mengungkapkan persoalan ini sebaik-baiknya.

Hariman dalam memberikan komentarnya mengatakan bahwa ia belum mengetik konsep kebudayaan yang dibacakan pada pertemuan itu tetapi hanya ditulisnya dengan tangan.
Ketika Tasrif hendak menanyakan kepada tertuduh, apakah yang dimaksud dengan konsep kebudayaan yang disnggung oleh saksi, Hakim Ketua keberatan karena saksi harus hadir.

Setelah terjadi debat antara Hakim Ketua dan Pembela, akhirnya Jaksa/Penuntut Umum Ph. Rompas SH yang semula berpendapat kesaksian Selamet Effendy Yusuf cukup dibacakan, berkesimpulan bahwa saksi ini perlu juga didatangkan karena Jaksa hendak menanyakan lagi hal yang dianggap perlu.

Kesediaan Jaksa mendatangkan saksi diterima baik oleh Pembela. Majelis Hakim anggap perlu menskor sidang sekitar kesediaan Jaksa ini.

Setelah sidang dibuka kembali, Hakim Ketua mengatakan bahwa dalam sidang selanjutnya semua saksi supaya didatangkan ke persidangan untuk memberikan kesempatan kepada Penuntut Umum mendatangkan saksi dari Yogyakarta, sidang dilanjutkan hari Sabtu. (SH)