Generasi Muda Harus Jadi Pengusaha Pertanian

Generasi Muda Harus Jadi Pengusaha Pertanian

Ist

SHNet, JAKARTA – Banyaknya dana desa yang dialokasikan pemerintah saat ini harus bisa membendung keinginan muda-mudi di desa untuk mencari pekerjaan di kota. Desa harus menjadi daerah yang memberi lapangan kerja lebih banyak. Karena itu, kreasi dan inovasi mempergunakan dana desa oleh masyarakat desa sangat dibutuhkan.

Kader Partai Demokrat, Iwan Arifin Manasa, di Jakarta, Senin (10/9) mengatakan pembangunan desa dengan menggunakan dana desa harus bisa ditangkap sebagai peluang untuk melakukan usaha oleh generasi muda. “Kalau jalan, jembatan di desa sudah dibangun, generasi muda perlu memanfaatkan dengan membuka usaha. Kalau sebelumnya menanam sayur dianggap susah dijual karena akses transportasi buruk, sekarang setelah jalan dan jembatan bagus, coba lakukan usaha sayuran. Generasi muda perlu diarahkan untuk menjadi pengusaha di sector pertanian,” kata Iwan.

Sektor pertanian adalah peluang usaha yang sangat potensial untuk dikembangkan generasi muda di desa. Jika di waktu lalu, sektro pertanian dipandang sebelah mata karena dianggap tidak mampu menopang masa depan, menurut Iwan Manasa, hal tersebut sebuah kekeliruan.

“Sekarang hasil pertanian seperti kopi menjadi primadona dunia. Semua minum kopi, tak pandang usia. Apakah tanam kopi tidak bisa menopang masa depan? Sekarang tren masyarakat perkotaan jadi vegetarian. Itu peluang bisnis yang besar untuk kembangan sayur-sayuran,” jelas calon anggota DPR Partai Demokrat daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) I tersebut.

Sektor pertanian, katanya, tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi apapun. Karena resiko gagal karena terjadi krisis ekonomi sangat rendah. Dalam keadaan krisis sekalipun, orang tetap minum kopi dan makan sayur, minum juice. Ancaman krisis pangan dunia, yang sudah dilansir FAO beberapa waktu lalu, harus dilihat sebagai peluang usaha yang besar oleh generasi muda Indonesia. Apalagi Indonesia adalah negara agraris terbesar di dunia.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat memberikan kuliah kepada mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Hasanudin (Unhas), Makasar, Jumat (7/9) memotivasi mahasiswa agar menjadi pengusaha sukses yang bergelut di sektor pertanian. Menurutnya, delapan dari 10 atau 80 persen pengusaha terkaya bergerak di sektor pertanian. “Tekad kuat dan kerja keras, mengubah nasib mereka, sehingga mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi masa lalu. Mahasiswa Fakultas Unhas harus jadi pengusaha. Kami akan bantu permudah izinnya,” tegas Amran.

Ia berharap mahasiswa memiliki karakter yang kuat dan cerdas sehingga mampu menjadi pemimpin dan pengusaha bidang pangan yang sukses di masa depan. Kunci paling utama yang harus dilakukan adalah berinovasi. “Dulu saya tinggal di kos-kosan ukuran 4×6 meter dan di desa terpencil, 12 bersaudara. Umur 9 tahun saya sudah cari uang, gali batu di gunung. Kami lahir dalam keadaan miskin, tapi kami tidak ingin dikuburkan dalam keadaan miskin. Saya kerja keras di bidang pertanian. Dulu saya tahun 1989 pinjam uang Rp 500.000, dalam waktu 8 tahun menjadi Rp 3 triliun. Kalau kita kerja keras pasti bisa sukses,” katanya.

Berkat kerja keras dan kebijakan yang tepat, jelasnya, pembangunan sektor pertanian selama pemerintahan Jokowi-JK menuai banyak keberhasilan. Program dan kebijakan tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, akan tetapi mendorong pertumbuhan ekonomi, ekspor dan meningkatkan investasi. “Kami menghapus aturan yang menghambat investasi dan ekspor di sektor pertanian. Totalnya ada 191 aturan yang sudah dicabut. Hasilnya investasi di sektor pertanian, dari sebelumnya Rp 23 triliun, menjadi Rp 46 triliun saat ini dan ekspor pangan kita naik,” sebutnya.

Berdasarkan data BPS, total ekspor pertanian di 2017 mencapai Rp 441 triliun atau naik 24,47 % dibandingkan 2016 yang sebesar Rp 355 triliun. Tak hanya itu, pada Maret 2018 persentase penduduk miskin di Indonesia turun 0,30% (630.000 orang) menjadi 9,82% (25,95 juta orang), yang awalnya sebesar 10,12% (26,58 juta orang) pada September 2017.

“Ini pertama kali Indonesia mendapatkan tingkat angka kemiskinan satu digit,” kata Amran.

“kontribusi sektor pertanian pun dalam menyumbang pertumbuhan Produk Domestik Bruto pada Triwulan II 2018 dibandingkan Triwulan I 2018 sebesar 9,93% (q to q). Kontribusi ini tertinggi dibanding sektor lainnya seperti jasa perusahaan,” tambahnya. (ino)