GDUI Bukan Ormas Parpol Atau PSI

Sidang Lanjutan Perkara Hariman

GDUI Bukan Ormas Parpol Atau PSI

Jakarta, 14 September 1974 – Seorang dosen UI dimintai kesaksiannya dalam perkara mahasiswa Hariman Siregar yang dituduh melakukan tindak pidana subversif dan makar yang sedang diperiksa oleh pengadilan negeri Jakarta Pusat, hari Jum’at menyatakan bahwa semua keterangannya dalam berita acaranya itu hanya merupakan suatu penafsiran dan penilaian pribadi sekali semata.

Saksi itu Dra. Yowono Sudarsono MA, seorang dosen Fakultas Ilmu Sosial UI menilai tidak adanya campur tangan Partai Sosial Indonesia (PSI) dalam tubuh Group Diskusi UI.
Tapi anggota dapat diasumsikan nama Syahril SE, seorang dari GDUI yang didirikan tanggal 2 Juli 1968 itu dengan nama tokoh PSI, Sutan Syahril, penjelasan saksi dalam berita acaranya itu.

Selain itu memang banyak tokoh Ikatan Mahasiswa Jakarta (Ikada) yang duduk menjadi anggota GDUI seperti Dorodjatun dan Syahril sendiri, katanya.

Drs. Yuwono menilai pula anggapan masyarakat beralasan bahwa GDUI adalah wadah kecil PSI selain anggotanya kebanyakan tokoh Imada juga karena Hariman adalah menantu Prof. Sarbini serta hubungan Sayahril sebagai asisten Prof. Sarbini dalam mata kuliah “Strategi pembangunan ekonomi”.

Harmonis
Saksi itu menyebut pula memang terasa ada keharmonisan dalam kerjasama antara GDUI dan DMUI setelah Hariman pada pertengahan 1973 dipilih sebagai ketua dewan.
Betul perubahan iklim tersebut karena Hariman, dia (Hariman) adalah mahasiswa yang disenangi teman-temannya dan mau banyak belajar dalam masalah yang bukan vak-nya, kata saksi Yuwono.

Ia bicara pula bahwa ia tahu betul pada waktu itu bahwa Hariman adalah seorang Golkar (Golongan Karya) dan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Yuwono yang bertindak sebagai moderator atas permintaan Syahril dalam panel diskusi tanggal 24 Oktober 1973 dengan tokoh Adam Malik, Soediro, Cosmos Batubara dan BM. Diah menerangkan pula bahwa syarat keanggotaan GDUI hanyalah terbatas pada peminat yang besar pengetahuannya lumayan dan berkepribadian.

Ia menjelaskan acara diskusi GDUI terbagi dua yakni secara reguler dan non-reguler.
Secra reguler pemrasaran adalah saya sendiri, Syahril dan Dorodjatun, kata saksi pula.

Syahril orang yang paling senior di GDUI pada tahun 1972 meminta kepada saksi agar duduk sebagai koordinator bidang sosial politik di GDUI yang diterima baik oleh saksi, sedangkan Dorodjatun Koatjorojakti menjadi koodinator bidang ekonomi di group tersebut.

GDUI bukan ormas
Dikatakan oleh saksi bahwa GDUI bukanlah ormas dari sesuatu parpol atau PSI. Memang kesan kebanyakan mahasiswa dan masyarakat luar, asal ada orang yang kumpul membicarakan sesuatu secara ilmiah, terus mudah saja di cap sebagai PSI. Saya kira itu tidak benar dan GDUI hanya membicarakan sesuatu dalam rangka kebebasan ilmiah. (SH)