Diperlukan Ketajaman Mata Pekerja Pabrik Kratingdaeng

Diperlukan Ketajaman Mata Pekerja Pabrik Kratingdaeng

SHNet, Jakarta –  Tepat pukul 12.00 wib waktu Sukabumi tepatnya di pabrik minuman ringan Kratingdaeng, hanya terlihat beberapa truk yang parkir tengah mengepak minuman ringan yang selalu menjadi brand di dunia olahraga morocrros. Pabrik  di Cicurug, Sukabumi seluas 8 hektar dari 12 hektar tanah tersebut,  hanya terlihat beberapa karyawan pabrik yang terlihat pada Rabu (19/9/2018) siang itu.

Tampak enam drum ukuran besar yang tidak.lain adalah air dari mata air Cidahu adalah air kwalitas terbaik,  yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar minuman ringan suplemen berenergi ini. Memasuki pabrik semua karyawan diharuskan mencuci tangannya terlebih dahulu.

Tampak terlihat deretan botol berwarna coklat yang masih kosong berbaris dengan rapihnya. Dimana barisan botol-botol dengan enam lambang banteng itu, tengah diperiksa kerusakannya oleh seorang pekerja. Apabila ada kerusakannya dengam ciri-ciri bergelembung, maka pekerja tersebut dengan cekatan akan mengambilnya.

” Dalam satu hari, botol yang rusak atau bergelembung itu sekitar satu persen tepatnya ada 100 botol. Yang kemudian akan diolah kembali,” ujar Sutarno, Deputi Factory Manager PT Asia Health Energi Beverages.

Seperti diketahui, untuk mengambil botol yang rusak itu diperlukan keahlian tersendiri bagi mata seorang pegawai di pabrik Kratingdaeng. Siang itu tampak terlihat ada tiga pegawai perempuan yang harus menatap botol yang berbaris itu.

 

Dua Jam Lihat Barisan Botol

Diperlukan waktu dua jam lamanya, seorang pegawai pabrik itu untuk dapat melihat adanya cacat di botol minuman berenergi itu. Sesudah dua jam lamanya, pegawai pabrik itu diharuskan beriatirahat.

” Mata harus istirahat, makanya kami harus menggantikan karyawan itu untuk istirahat matanya. Kasihan matanya pegel,” ujar Sutrisno lagi.

Tidak hanya mata yang memandang botol-botol yang tengah berbaris itu, namun tangan juga harus cekatan untuk mengambil botol yang berbaris dan terus melaju mengikuti irama mesin.

Sepertii diketahui, untuk meneliti botol yang cacat, SDM PT AHEB harus mendidik pegawainya yang perempuan selama tiga bulan lamanya. Dalam pendidikan itu, karyawan diharuskan mengambil botol-botol yang cacat yang sepintas tidak akan terlihat. Namun, berkat pendidikan singkat selama tiga bulan itu akan diketahui adanya cacat dari botol kosong tersebut.

“Sepintar memang tidak terlihat, namin bila diamati akan tambak gelembung dari botol tersebut. Tidak yanya botol, namun juga lapel yang rusak yang sudah ditempel juga harus ditarik,” papar Sutrisno lagi.

Sesudah mengikuti pendidikan, karyawan perempuan itu langsung diterjunkan atau dipekerjakan sesuai bidangnya yaitu melihat botol berbaris yang cacat. Dan setiap karyawan dipekerjakan setiap dua jam sekali,  di mana setengah jam diharuskan untuk istirahatkan matanya dari barisan botol tersebut. PT AHEB sendiri, setiap tahunnya selalu memberikan obat mata khususnya Vitamin A bagi karyawan yang mendapatkan tugas melihat barisan botol yang rusak.

Seperti diketahui,  PT AHEB memperkerjakan sebanyak  630 orang. Dimana jumlah tersebut ada sekitar 70 persen hingga 80 persen yang semuanya berasal dari warga sekitar pabrik. Namun ada juga karyawan dari luar Sukabumi, diantaranya ada yang dari Jakarta dan Jawa Tengah.

Pabrik Kratingdaeng ini berdiri sejak tahun 1996, namun memulai produksi di Indonesia tepat pada tahun 1997. Menurut Sutrisno, pada saat itu hanya Kratingdaeng rwguler dan Kraingdaeng super yang ada pada saat itu. Namun kini produk minuman makin beragam dengan hadirnya minuman cup Torpedo. (Maya Han)