Desa Cibiru Wetan, Penghasil ‘Saladah’ Terbaik Di Bandung

Desa Cibiru Wetan, Penghasil ‘Saladah’ Terbaik Di Bandung

SHNet, Jakarta –  Desa Cibiru Wetan yang berada di Kecamatan Cileunyi, Bandung, Jawa Barat, kini tidak seindah artinya lagi yaitu mata air pohon biru dimana sebelumnya Desa ini indah dengan banyak.lahan kosong yang hijau akan tetumbuhan sayu sayuran dengan dedaunan nan hijau. Namun kini, Desa inI sudah banyak berubah. Perubahan ini terlihat, sejak beberapa tahun lalu.

Perubahan ini, menurut Kepala Desa Cibiru Wetan, Asep Hasan Sadeli yang menjabat sebagai Kades di Desa Cibiru Wetan sejak tahun 2012 ini dikarenakan lahan lahan kosong dulu itu kini sudah berubah menjadi perumahan perumahan dan pertokoan yang kini marak di Desanya.

Dulu kata Pak Kades Aep, begitu dirinya disapa, dari desanya ini bila pagi akan terlihat gunung Manglayang. Dimana gunung Manglayang ini merupakan salah satu aset Kabuoaten Bndung (Cibiru Wetan).  Gunung Manglayang ini sering dijadikan tempat pendakian bagi para hiking pemula maupun profesional.

” Sekarangpun masih tetap terlihat, namun sudah tidak ada lagi lahan hijau yang indah selayang pandang bila meta memandang gunung Manglayang ini. Ya itu tadi, sudah berubah fungsi lahan hijaunya dengan banyak berdiri perumahan di sana sini,” ujar Pak Kades Aep kepada SHNet.

Untuk mencapai puncak Gunung Manglayang ini, pendaki bisa naik melalui tiga jalur yang berbeda untuk sampai puncak gunung  tersebut. Yaitu, kqta Pak Kades Aep lagi, melalui jalur Batu Kuda di Cibiru, Oalintang di Ujung Berung dan Baru Berwum di Kiara Payung Jatinangor.

Gunung Manglayang ini terletak di dua  Kabupaten yaitu, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Gunung Manglayang ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian pegunungan yang mengelilingi Kabupaten yaitu Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang dan  Bukit Tunggul. Menurut Kades Aep, dari tiga gunung itu gunung Manglayang lah yang memiliki ketinggian paling rendah yaitu 1818 mdpl.

 

Kampung Saladah

Digagas Kepala Desa dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD)  maka terciptalah Desa Cibiru Wetan sebagai kampung Saladah.  Ini mendukung program menjadikan Bandung Seribu Kampung’  dengan mengbangkan kampung saladah di Desa Ckbiru Wetan, dengan menggunakan program kawasan rumah pangan lestari. Menurut Kades Aep, ini dilakukan agar masyarakat desa ini dapat terus berkembang dan menghindari kemiskinan yang ada.dengam makin hilangnya lahan penghijauan.

Untuk diketahui, kegiatan KRPL Cibiru Wetan ini dimulai sejak tahun 2015 dari dua kelompok wanita tani yang kemudian berkembang menjadi  tujuh kelompok wanita tani. Dan kini kelompok wanita tani ini sudah berkembang lagi menjadi 13 kelompok wanita tani yangbteraebar di 13 RW yang ada dengan melibatkan sedikitnya 250 orang khususnya kaum perempuan dan remaja.

” Jadi kini deaa.Cibiru Wetan terkenal dengan desa saladah air. Dimana desa ini kini dapat memberikan manfaat untuk mendukung ketahanan gizi keluarga. Dimana panen perdana saladah tepatnya pada 18 Mei 2017 lalu, dari hasil panen ini dapat menghasilkan 2 juta rupiah. Dan hasil saladah ini  sudah ada yang peminat tetapnya,” papar Pak Kades Aep lagi.

Saladah yang siap panen itu, selanjutnya sudah terus dapat didistribisikan dengan pemasaran. Makanya, warga Desa Cibiru Wetan tidak ragu untuk terus melakukan cocok tanam saladah air ini hingga desa ini semakon inovatif dalam menciptakan ikonik desa tematik. Semua hasil tanam salah ini sudah dapat didistribusikan dan sudah dapat menghasilkan pendapatan bagi warga desa Cibiru Wetan.

” Semua ini merupakan program Gubernur Jawa Barat, agar  Desa.Cibiru Wetan serta desa yang lainnya walaupun sudah tidak ada lagi lahan kosong untuk dijadikan tanaman sayur mayur dan bertani namin tetap harus bisa menjadikan desa yang jauh dari kemiskinan. Makanya segala upaya kami lakukan agar warga desa bisa bercocok tanam dan contohnya ini desa saladah,” katanya lagi.

 

Kampung Wisata

Seperti diketahui Cibiru Wetan  Kecamatan Cileunyi, Bandung, Jawa Barat merupakan bagian dari Desa Cibiru, Kecamatan Ujungberung. Namun terjadi pemekaran atas desa yang dilakukan pada tahun 1982 yang hingga membuat pemekaran menjadi Cibiry Wetan, Cibiru Kulon dan Cibiru Hilir dan menjadi desa tersendiri. Dengan kata lain, desa Cibiru dipecah menkadi tiga.

Secara keseluruhan luas desa ini mencapai 295 Ha, dimana luas wilayah ini sebagian besar berupa tegalan atau ladang yang terbentang di sekitar puncak gunung Manglayang tepatnya di wilayah Kampung Cikoeng dan Pamubasan.

Menurut Kades Cibiru Wetan, Asep Hasan Sadeli, Cikoneng sendiri terdiri dari dua kata yaitu Cai yang berarti air dan Koneng yang artinya Kuning. Nama Cikoneng berasal dari “zama dalem” (eyang dalem) yang dulu masyarakatnya memproduksi gula.

“Karena banyaknya gula di sana, Cikoneng, hingga membuat air menjadi kuning. Nah, sejak itulah dinamakan Cikoneng,” paparnya lagi.

Bandung, tepatnya di  Desa Cibiru Wetan ini terdapat tempat wisata yang selalu banyak dikunjungan oleh masyarakat khususnya dari luar kota kembang ini. Salah satunya adalah tempat wisata situs Batu Kuda yang terdapat diperbukitan gunung Manglayang. Menilik dari namanya situs Kuda Batu, sebuah tempat wisata yang sangat indag dan segar karena trmpatnya diperbukitan. Situs Kuda Batu ini merupakan aset Perum Perhutani yang letaknya berada di wilayah Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Ciulengi, Bandung.

Menurut cerita Kades Cibiru Wetan, mitos dari Kuda Batu ini adanya seekor kuda yang bisa terbang dengan cepat. Dimana kuda itu beradal dari Gunung Kidul yang dikenal dengan nam Kuda Semprani. Saat kuda ini tengah melintas di gunung Manglayang, pada saat itu dalam perjalananya dari Cirebon menuju Banten.

” Tiba-tiba kuda Semprani itu terjatuh dan terperosok disebuah tempat yang berada tidak jauh dari titik sanghiyang atau kaki gunung. Dimana kuda itu jatuh cukup lama hingga membentuk kubangan dan kuda itu berubah jadi batu. Makanya, warga desa kami menyebutkan Kuda Batu,” jelas Pak Kades Aep .

Kembali dijelaskan Aep, untuk menuju situs Kuda Batu dapat melalui beberapa jalur. Dan jalur yang sangat mudah untuk dicapai adalah lewat jalur Cibiru. Dibutuhkan waktu sekitar 7 kolimeter perjalanan untuk mencapai ke Kuda Batu dari desa. Untuk mencapai puncak gunung Manglayang dan situs Kuda Batu, ada aturannya yaitu warga atau masyarakat luas lainnya dilarang untuk datang pada hari Senin dan Kamis. Menurut kepercayaan setempat, pada hari itu merupakan hari berkumpulnya para lelihur dan roh halus. Tidak itu saja, bagi masyarakat yang ingin ke gunung Manglayang, juga dilarang dalam jumlah ganjil.

Wisata lainnya yaitu ada yang namanya “tangga seribu”, dari wisata yang terbilang baru ini kita dapat melihat dengan indahnya kota Bandung. Lokasi wisata tangga seribu ini, masih satu wilayah dengan Gunung Manglayang yang lokasinya berada di antara Kabupaten Bandung dan Sumedang.

Masyarakat, kata Kades Cibiru Wetan ini lagi, harus menaiki tangga alami di kaki gunung Manglayang. Obyek wisata tangga seribu ini ,dibangin oleh warga diatas lahan milik Perhutani. “Biasanya masyarakat yang akan menuju wisata tangga seribu, banyak yang datang dan melihat pada malam hari untuk dapat melihat kota Bandung yang indah pada malam hari dan melohat mata hari terbit dari ketinggian tangga seribu. (Maya Han)