Apel Di Monas Batal Karena Mahasiswa Tak Mau Dicap Makar

Sidang ke-31 Perkara Hariman

Apel Di Monas Batal Karena Mahasiswa Tak Mau Dicap Makar

Jakarta, 20 September 1974 – Persidangan ke-31 perkara Hariman Siregar hari Jum’at masih mendengarkan kesaksian Remi Leimena.

Menjawab pertanyaan Hakim Ketua BH. Siburian SH, saksi katakan bahwa pada tanggal 15 Januari 1974 gerakan mahasiswa untuk adakan apel di Trisakti dengan mengambil Monas sebagai garis menyerap maksudnya untuk dapat menyedot massa yang kemungkinan besar sudah berkumpul di sana karena sebelumnya mahasiswa sudah menetapkan di Monas akan diadakan apel menyambut Tanaka. “Karena kami tidak mau dicap bermaksud mengadakan makar” dan mengganggu ketertiban umum maka secara mendadak mahasiswa memutuskan apel diadakan saja di kampus Trisakti.

Hakim Ketua : Bagaimana caranya melakukan penyerapan yang saudara maksud ?.
Jawab : Ya, kami waktu itu dengan jalan mengadakan barisan mahasiswa berjalan melalui Monas, dengan demikian jika massa sudah berkumpul di Monas akan dapat bergabung dengan barisan mahasiswa tersebut.
Tanya : Apakah saudara juga turut dalam barisan ?.
Jawab : Saya tidak turut, cuma saya mengutus saudara Pasman Simanjuntak untuk memimpin delegasi UKI.

Tanya : Tapi saudara hadir juga di Trisakti bukan ?.
Jawab : Ya, saya hadir dan mengikuti acara dari ruang Dewan Mahasiswa Trisakti karena waktu itu kami mendapat berita pembakaran dan pengrusakan sudah terjadi.
Tanya : Apa acaranya ?.
Jawab : Cuma pidato saja.

Saksi menggambarkan banyak sekali yang hadir di Trisakti termasuk yang non-kampus. Dalam pembicaraan saksi dengan DM lain di ruang DM Trisaksti diputuskan agar sehabis apel mahasiswa kembali ke kampus masing-masing untuk mencegah hal yang tidak diingini.

Sambut Tanaka
Dalam rapat BKSDM Jakarta tanggal 13 Januari 1974, saksi hadir dan dikatakan bahwa yang pimpin rapat adalah Hariman Siregar. Diketahui oleh saksi bahwa sebelumnya sudah ada undangan dari Sekneg kepada mahasiswa untuk bertemu berdialog dengan PM. Tanaka akan tetapi saksi berpendapat bahwa undangan itu hanya ditujukan kepada mahasiswa UI oleh karena itu DM di luar UI berpendapat bahwa dalam menyambut Tanaka perlu diadakan koordinasi mahasiswa untuk menyambut bersama dengan cara mahasiswa, bukan karena puas atau tidak puas dengan pertemuan bersama Presiden tanggal 11 Januari tetapi sambutan kepada Tanaka adalah untuk menunjukkan bahwa kita mempunyai kedaulatan negara.

Tanya : Apa maksud bahwa memorandum pada apel di Trisaksti dibacakan dihadapan mahasiswa ?.
Jawab : Supaya mahasiswa dan masyarakat mengetahui.
Tanya : Bagaimana masyarakat juga busa mengetahui itu ?.
Jawab : melalui media massa.
Tanya : Memorandum itu ditujukan kepada siapa ?.
Jawab : Kepada pemerintah Jepang dan Indonesia bahwa penanaman modal Jepang di Indonesia lebih banyak merugikan rakyat.
Tanya : Kenapa tidak disampaikan kepada Kedubes Jepang dan kepada pemerintah Indonesia misalnya melalui seorang menteri ?.
Jawab : Dalam rapat tidak dibicarakan hal itu.

Suasana tegang
Menilai situasi tegang dan panas waktu itu, Hakim Ketua bertanya : Apakah tidak terpikir oleh mahasiswa bahwa suasana hangat waktu itu dapat bertambah panas dengan adanya aksi mahasiswa ?.
Jawab : Kami menilai suasana biasa saja karena kami tidak bermaksud mengadakan makar seperti dituduhkan.

Tanya : Bukankah pengetahuan umum waktu itu dimulai Desember 1973 berdasarkan koran dan media massa lainnya suasana di Jakarta sudah hangat ?.
Jawab : Saksi tidak bersedia memberikan penilaian dan menganalisa suasana waktu itu karena menganggap tidak relevan.

Hakim Anggota Hungudidoyo SH bertanya : Apa sebabnya ada maksud mahasiswa adakan apel menyambut Tanaka di Monas ?.
Jawab : Saya kira tempat di mana saja sama, pokoknya untuk diketahui mahasiswa dan masyarakat karena kami tidak bermaksud “nakal” maka tempat tidak menjadi soal.
Jaksa : Apa sebabnya pada rapat BKSDM se-Jakarta di UI 13 Januari dalam rangka penyambutan Tanaka juga hadir unsur pelajar ?.
Jawab : Pada waktu kami rapat tiba-tiba mereka muncul karena itu rapat BKSDM bukan DM maka sifatnya terbuka jika ada yang mau hadir dengan keinginan mereka sendiri, yah boleh saja karena sifatnya tidak ada yang dirahasiakan.

Datuk Singo Mangkuto dari Pembela : Kenapa saudara bertemu Pak Soedomo tanggal 16 Januari pagi ?.
Jawab : Saya bersama Theo dari UI dan Pataniari dari Usakti ingin mengetahui lebih jauh, kenapa sampai terjadi pengrusakan dan pembakaran tanggal 15 Januari untuk mengharapkan penjelasan yang lebih mendetail.

Talas Sianturi SH : Apakah soal penanaman modal Jepang yang banyak dikritik sudah berkembang sebelum 11 Januari (pertemuan mahasiswa dengan Presiden).
Jawab : Menurut saya sudah berkembang.
Demikian pokok keterangan saksi Remi Leimena mengakhiri kesaksiannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (SH)