Wakapendam: Berita Ribuan Masyarakat Korowai Kelaparan Itu Tak Benar

Wakapendam: Berita Ribuan Masyarakat Korowai Kelaparan Itu Tak Benar

DISKUSI - Pangdam XVII Cenderawasih bersama Kasdam dan sejumlah Perwira Menengah diskusi ringan menyangkut suku Korowai di Kodam XVII Cenderawasih, Rabu (15/8) siang. (SHNet/Nonnie Rering)
SHNet, JAYAPURA – Wakapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Dax Sianturi, secara tegas membantah adanya berita yang menyebutkan adanya ribuan orang suku Korowai menderita kelaparan imbas dari penutupan tambang liar di wilayah itu.

“Saya sudah mengecek langsung kepada salah satu kepala suku di Korowai, Bapak Adonia Yalengkatu, beliau dengan tegas menyatakan kalau info tersebut tak benar,” jelas Dax.

Bahkan Bapak kepala suku sangat mengapresiasi langkah tegas Pangdam XVII Cenderawasih, George E. Supit melarang heli terbang. Pasalnya, selama ini heli tersebut disewa oleh para penambang liar yang datang dari luar Korowai.

Dengan pelarangan  tersebut otomatis supply logistik penambang liar itu terputus dan mereka berangsur-angsur akan meninggalkan lokasi tersebut. Sementara, bagi masyarakat Korowai, pelarangan tersebut sebenarnya tak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup mereka.
Masyarakat Suku Korowai di Papua. (Ist)

“Kami ini sudah terbiasa makan betatas, ubi dan sagu yang tumbuh di alam sekitar kami. Bagaimana mungkin hanya karena satu atau dua heli rak terbang lalu mereka bilang ribuan suku Korowai menjadi kelaparan? Jelas berita itu tidak benar,” sambung Adonia, yang juga menjadi salah satu ketua Lembaga Masyarakat Adat di Boven Digul.

Adonia juga mendukung langkah pemerintah Provinsi untuk menutup penambangan ilegal tersebut dan mendorong pemerintah mengeluarkan regulasi  jelas yang dapat melindungi hak-hak masyarakat Korowai sebagai pemegang hak ulayat.

“Saat ini kami dari LMA sedang menyusun draft usulan tentang regulasi tersebut, mudah-mudahan dalam waktu dekat draft tersebut sudah bisa kami kirim ke Provinsi,” tambahnya.

Adonia menduga berita bohong tentang kelaparan tersebut sengaja dihembuskan oleh kelompok pendulang ilegal. “Sekali lagi kami berterimakasih kepada bapak Pangdam yang telah bertindak tegas untuk menutup lokasi penambangan ilegal tersebut,” katanya yang dihubungi melalui sambungan telepon.  (Nonnie Rering)