Siapa Yang Pernah Sembunyikan Teks Proklamasi Yang Asli Dan Surat Wasiat Bung...

Siapa Yang Pernah Sembunyikan Teks Proklamasi Yang Asli Dan Surat Wasiat Bung Karno

Jakarta, 10 Agustus 1970 – Sayuti Melik salah satu pergerakan perjuangan kemerdekaan, tiga tahun masa hidupnya di jaman Jepang dihabiskan di dalam penjara Ambarawa, Jawa Tengah, karena sikapnya yang terang-terangan melawan pemerintahan pendudukan Jepang waktu itu.

Dalam suatu wawancara dengan wartawan SH, diterangkan bahwa dalam permulaan Jepang menduduki Indonesia yang berarti berakhirnya penjajahan Belanda. Ia bersama Dr. Buntaran, Ki Hajar Dewantara dan lain-lainnya mendirikan suatu Panitia Kemerdekaan di Semarang, yang ternyata tidak dibenarkan atau diterima oleh Jepang.

Kemudian Sayuti Melik ditangkap dan ditahan. Setelah diadili, divonis 3 tahun penjara sehingga keluarnya sampai hampir proklamasi kemerdekaan.
Bersama Sayuti Melik yang ditangkap kurang lebih sebanyak 300 orang di Semarang dan maikin hari makin banyak orang yang ditangkap karena yang telah ditahan tersebut dipukuli terus suruh mengaku ini-itu, sehingga semakin hari jumlah tahanan tersebut semakin bertambah.

Dikatakan, bahwa ia termasuk kuat dipukuli dan sekalipun demikian jawabannya tetap seperti sikap semula, sehingga akhirnya salah seorang kenpeitei Jepang disana menemuinya meminta apakah Sayuti Melik bersedia memeriksa kawan-kawannya. Ia menyatakan bersedia, asal hasil pemeriksaan itu dianggap benar dan sebelumnya akan menanya kepada kawan-kawannya apakah mereka mau ia periksa.

Sayuti Melik melakukan pemeriksaan semua tahanan. Tadinya diperiksa beberapa bulan oleh Jepang, dianggap ada gerakan rahasia untuk menghancurkan Jepang. Oleh karena itulah makin lama makin bertambahnya orang yang ditahan dan tidak diberi penjelasan apa sebab mereka ditahan. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Sayuti Melik. Pihak Kenpeitei bisa mengerti dan penjelasan hasil pemeriksaan itu cukup beralasan.

Sebelumya sudah diatur oleh “jaksa sukarelawan” itu, apa pertanyaannya dan bagaimana harus dijawabnya. Pertanyaan itu antara lain : “apa betul tuan atau nyonya akan menjatuhkan Jepang ?. Dijawabnya oleh tahanan : “Ya……”.
Kena apa ?, tanya Sayuti Melik, jaksa sukarelawan itu. Tahanan menjawab : “karena Jepang imperialis”. Sayuti Melik menjelaskan seolah-olah : “Jepang bukan imperialis”. Dijawabnya oleh tahanan : “Yah…..kalau bukan imperalis ya tidak dilawan. Kalau akan memberi kemerdekaan ya kami tidak melawan”.

Demikian sandiwara pemeriksaan tahanan oleh Sayuti Melik, sehingga hasilnya ratusan tahanan dilepaskan oleh Jepang, atas permintaan Sayuti Melik. Tinggal 13 orang yang dihukum, termasuk Sayuti Melik sendiri. Sayuti Melik mengusulkan kepada pengadilan militer Jepang, bahwa kalau kawan-kawannya itu dihukum, maka ia meminta supaya ia sendiri hukumannya yang paling berat. Akhirnya ia divonis 3 tahun penjara di Ambarawa.

Keluar penjara setelah ada janji kemerdekaan
Selanjutnya Sayuti Melik menjelaskan bahwa kira-kira tahun pertengahan tahun 1945 Mantri Penjara Ambarawa memberi tahu adanya perlombaan menulis karangan di penjara dan menanyakan apakah Sayuti bisa mengarang. Sayuti kemudian mengarang sebuah artikel berjudul “Kemerdekaan dan Kebudayaan ” atas nama Mantri Penjara tadi. Waktu itu sudah ada pernyataan dari pihak Kaisar Jepang suatu janji kemerdekaan kepada Indonesia.

Karangan tersebut terpilih nomor satu, tetapi menurut Sayuti Melik bukan karena baiknya tulisan tersebut, tetapi karena jurinya Mr. Moch. Yamin yang waktu itu bekerja di Sendebu (Bagian Propaganda Jepang) dan Bung Karno di Hookookai sebagai ketua juri. Kedua orang tersebut sudah kenal gaya bahasanya dan sebelumnya mereka sudah tahu kalau Sayuti Melik berada di penjara Ambarawa.

Atas kemenangan karangan tersebut maka Mantri Penjara mendapatkan hadiah, dipanggilnya ke Jakarta untuk menerima hadiahnya berupa pakaian, uang, dan lain-lainnya. Teks pidato sambutan penerimaan hadiah yang diusulkan minta ditambah seorang yaitu Syahrir. Karena tambah Syahrir lalu Bung Karno usulkan tambah Wongsonegoro dan Subardjo latah juga minta Sumantri, sehingga surat wasiat itu memuat 4 orang.

“Entah siapa, entah orang apa, lantas testament itu dibawa bersama dengan teks proklamasi. Kemudian kembali kepada Bung Karno, tapi sudah belakangan ini dan yang menyampaikan kepada Bung Karno melalui tangan DN. Aidit, testament dan semuanya itu”.

Demikian kata Sayuti Melik yang selanjutnya mengatakan orang PKI itu pintar, bisa kesana kemari dan sesudah itu testament tersebut dihancurkan karena Tan Malaka benci kepada PKI, sedang teks proklamasi yang asli masih ada.

Diterangkan bahwa pada tahun 1967 pada peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus tahun itu, AH. Nasution-lah yang membaca teks proklamasi ini sebagai pembaca yang kedua kalinya, sebab yang pertama di Pegangsaan Timur 56 oleh Bung Karno. Dan sekarang pada tiap tahun dibacakan teks aslinya tersebut. Pada teks asli itu tanggalnya 17 Agustus 05 tahunnya Jepang.

Atas pertanyaan bagaimana teks lengkapnya testament (surat wasiat) itu, Sayuti Melik mengatakan tidak pernah baca dan Mr. Subardjo yang tahu. Tetapi pertama kali yang didengar dari Bung Karno sewaktu pertemuannya di rumah Dr. Suharto sebagai berikut : “Kalau saya terhalang, pimpinan Revolusi dan Negara akan kami serahkan kepada Tan Malaka…….”.

Testament tersebut memang tidak diumumkan hanya kalau saatnya perlu maka yang bersangkutan menunjukkan “ini surat wasiatnya”…….. tetapi orang yang bersangkutan itu ingin mengumumkannya.

Dalam masalah testament itulah Sayuti Melik bertentangan pendapat dengan Bung Karno, melainkan milik pun negara bukan milik negara melainkan milik rakyat dan mengenai pimpinan terserah kepada rakyat siapa yang disetujui, bukan main testament-testamentan. Atau waktu itu KNI (Komite Nasional Indonesia) sebagai wakil rakyat dan begitulah kalau sistem demokrasi.

Mengenai pelaksanaan upacara pengumuman proklamasi kemerdakaan, dikatakan bahwa upacara tersebut berjalan lancar, tidak ada insiden apapun. Yang hadir lumayan, karena menurut rencana semula tempat pengumuman itu tidak di Pegangsaan Timur, melainkan di IKADA. Sambutan rakyat luar biasa secara spontan dan kemudian dibentuk Barisan Barani Mati, penyebaran berita proklamasi kemana-kemana, seluruh pelosok kota dan ke daerah.

Disana-sini kantor jawatan ditulisi “Milik RI” dan penyerahan kekuasaan secara resmi tidak ada. Berita pengumuman proklamasi tersebut juga diusahakan disiarkan melalui kantor berita Domei dan radio.
Sayuti Melik kemudian ditugaskan supaya kembali ke Semarang, sehingga peristiwa selanjutnya di Jakarta tidak diketahui. (SH)