Riset dan Inovasi Harus Sesuai kebutuhan Industri

Riset dan Inovasi Harus Sesuai kebutuhan Industri

Mantan Presiden RI ketiga, B J Habibie (tengah). (Dok. Humas Kemenristekdikti)

 

SHNet, Pekanbaru- Mantan Presiden RI ketiga B J Habibie mengatakan, riset dan inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dan lembaga litbang harus sesuai dengan kebutuhan industri.

Habibie menerangkan bahwa kemampuan anak bangsa dalam penguasaan teknologi telah terkonfirmasi oleh keberhasilan penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkaca produksi di IPTN Bandung pada 10 Agustus 1995.

B.J Habibie berpesan kepada pemuda untuk mengisi kemerdekaan Indonesia dengan kerja nyata yang inovatif. “N-250 adalah hadiah saya untuk ulang tahun Indonesia yang ke-50 waktu itu. Anak muda Indonesia sekarang harus lebih hebat dari Habibie, karena segala fasilitas untuk berinovasi saat ini sangat lengkap,” tuturnya, kemarin.

Pemuda juga diharapkan bekerja sama membangun bangsa. “Kita konsolidasi, lebih kerja sama, bekerja sebagai satu tim, dari Sabang sampai Merauke, Kita arahkan kepada kebutuhan rakyat itu akan berkembang jikalau Kita mengembangkan dasar-dasar pemikiran dari ekonomi pasar Pancasila,” pungkasnya.

Ke depan, Indonesia menghadapi era industri 4.0, dimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semakin mengglobal, sehingga prioritas kebijakan pendidikan tinggi harus direformulasi secara cepat, tepat, dan relevan sesuai dengan tren perkembangan global. Kualitas pendidikan tinggi dan lembaga litbang dituntut secara aktif beradaptasi, mampu menggagas dan inovatif dalam memanfaatkan peluang dan mengatasi tantangan di era industri 4.0, khususnya dalam menopang penguatan struktur industri kita sebagaimana 10 strategi roadmap “Making Indonesia 4.0.” yang telah dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Program riset dan pengembangan sepatutnya diarahkan pada penciptaan teknologi-teknologi masa depan yang mendukung revolusi industri 4.0, yang bertujuan mempercepat hilirisasi dan komersialisasi hasil riset untuk memenuhi kebutuhan industri. Pemerintah juga mendorong kontribusi riset sektor privat dengan berbagai stimulus dan insentif, hingga anggaran riset pemerintah dan swasta secara proporsional.

Saat ini, Kemenristekdikti terus berupaya menata kebijakan yang menjadi bagian peta jalan (roadmap) pengembangan iptek dan inovasi nasional, antara lain meningkatkan tenaga terdidik, terampil dan berpendidikan tinggi; meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan lembaga litbang; meningkatkan sumber daya litbang dan mutu pendidikan tinggi; meningkatkan produktivitas penelitian dan pengembangan, serta meningkatkan inovasi bangsa.

Selanjutnya, Pemerintah secara bertahap akan meningkatkan jumlah anggaran penelitian dari 0,9 % hingga mencapai lebih dari 1% dari APBN. Pemerintah akan terus menata anggaran dan kinerja riset dan pengembangan yang terintegrasi dan bersinergi agar lembaga riset di kementerian dan lembaga tidak berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah akan menata anggaran dan kinerja riset dan pengembangan yang terintegrasi dan bersinergi antar kementerian dan lembaga sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri. Hal ini terangkum dalam Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017-2045 yang disusun untuk menyelaraskan kebutuhan riset jangka panjang dengan arah pembangunan nasional terkait ilmu pengetahuan dan teknologi. (Stevani Elisabeth)