PKI Masih Merupakan Bahaya laten

PKI Masih Merupakan Bahaya laten

Jakarta, 13 Agustus 1968 – Presiden Soeharto setelah mendengarkan laporan Wakil Panglima Komando Pemulihan Keamanan & Ketertiban (Pangkopkamtib)/Pangad Jenderal M. Panggabean tentang hasil yang dicapai ABRI dalam penumpasan sisa G30S/PKI, pada sidang pleno Kabinet Pembangunan hari Senin kemarin, memperingatkan agar kita semua jangan merasa puas dengan kemenangan yang telah dicapai terhadap PKI, karena sikap tersebut akan melemahkan dan justru memberi peluang kepada PKI itu sendiri.

Menyambung berita “SH” kemarin, dalam pada itu dicatat bahwa Kepala Negara menjelaskan, sisa G30S/PKI masih tetap giat dan merupakan bahaya yang laten. Cara mengatasi sisa PKI, haruslah dengan membuat landasan mental nasional yang kuat, dengan Pancasila dan UUD’45 serta semangat menghancurkan sisa PKI itu sendiri.

Laporan Jenderal M. Panggabean
Jenderal M. Panggabean telah melaporkan secara perinci mengenai pelaksanaan pemulihan keamanan dan ketertiban yang dilakukan sejak terjadinya pemberontakan G30S/PKI yang gagal itu.

Antara lain dikatakan bahwa setelah Sudisman (PKI) melakukan apa yang dinamakan “Kritik dan oto-kritik” tentang kegagalan coup PKI, maka mereka dengan doktrin Tripanji-nya berusaha membangun kembali kekuatan secara ilegal. Dipakainyalah taktik Mao Tse Tung, membangun daerah basis, pertahanan strategis dan serangan strategis, yang memungkinkan pemberontakan yang digerakkan dari Desa.

Mengenai Kalimantan Barat, dikatakan bahwa kekuatan PGRS/PKI sudah tidak berarti lagi, karena sudah terpencar dan bukan melakukan hubungan untuk adakan gerakan yang kompak.
Pemulihan keamanan di Irian Barat untuk menjamin dapat dilaksanakannya “perjanjian New York” tahun 1969 juga dicatat kemajuan yang memuaskan, terutama ketertiban teritorial dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi. Suku Arfak di Irian Barat yang terperdaya sejumlah 3.539 orang telah menyerahkan diri kembali, 162 orang tewas, 138 orang ditawan dan 123 pucuk senjata dirampas.

Gerombolan PKI di kalimantan Timur yang dipimpin Max Baolo yang merampas senjata tahun 1967 di Long Bawang sudah berhasil dibersihkan.

Di Jawa Timur didapat kemajuan dalam pemulihan keamanan, yaitu dengan tertangkapnya gembong PKI di Blitar Selatan baru-baru ini oleh operasi Trisula.

Pemulihan keamanan di Jawa Tengah juga mendapat kemajuan, dan telah dilakukan operasi imbangan diperbatasan Jateng-Jatim. Sedang operasi pembersihan RPS di Sulawesi Selatan pun telah mencapai taraf terakhir, karena kekuatan RFS diperkirakan tinggal 94 orang, dan akhir tahun ini akan bersih seluruhnya. (SH)