Pemugaran Candi Borobudur Sejak Abad XIX Hingga Sekarang

Menjelang Peresmian Pemugaran 10 Agustus Oleh Presiden Soeharto

Pemugaran Candi Borobudur Sejak Abad XIX Hingga Sekarang

Oleh : Drs. R. Soekmono

Sinar Harapan, 9 Agustus 1973 – Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800 Masehi. Tidak diketahui berapa lama candi itu berfungsi sebagai bangunan suci agama Budha, dan tidak pula diketahui sejak kapan candi itu lenyap dari ingatan bangsa kita.

Baru dalam tahun 1814 Candi Borobudur dikenal kembali sebagai bangunan purbakala, berkat usaha Sir Thomas Stamford Raffles yang memerintahkan mengadakan pembersihan guna menampakannya kembali. Ketika itu yang nampak hanyalah sebuah bukit yang tertutup oleh semak belukar. Hanya disana-sini kelihatan adanya susunan batu.

Cornelius, yang mendapat tugas membersihkan Candi Borobudur, mengerahkan tidak kurang dari 200 orang penduduk selama hampir 2 bulan untuk menebangi pohon dan semak dan membakarnya sekali. Runtuhan batu yang memenuhi lorong disingkirkan dan ditimbun disekitar kaki candi, sedangkan tanah yang menimbunnya dibuang ke lereng bukit. Namun pembersihan tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena banyak dinding yang dikhawatirkan runtuh.

Dalam tahun 1834 Residen Kedu menyuruh bersihkan sama sekali bangunannya sehingga candinya nampak seluruhnya.
Sekitar tahun 1850 dilakukan berbagai usaha untuk memindahkan relief Borobudur keatas kertas melalui gambar dan untuk lebih memperkenalkan lagi bangunan ajaib itu melalui uraian sehingga dalam tahun 1873 dapat terbit monografi yang pertama tentang Candi Borobudur.

Usaha penyelamatan
Dalam tahun 1882 ada usul untuk membongkar saja seluruh bangunannya dan memindahkan reliefnya ke suatu museum. Keadaan Candi Borobudur sudah terlalu rusak dan mengkhwatirkan sehingga dirasa sayang kalau relief yang begitu indah itu akan hancur.

Usul tadi tidak mendapat sambutan langsung tetapi menimbulkan pikiran untuk mencari usaha menyelamatkan Borobudur itu dari bahaya musnah. Yzerman mengadakan berbagai penyelidikan dan dalam tahun 1885 ia mendapatkan bahwa dibelakang batur kaki candi ada lagi kaki candi lain yang ternyata dihiasi dengan pahatan relief. Batur itu dibongkar sebagian demi sebagian, untuk kemudian ditutup kembali setelah relief tadi diabadikan melalui pemotretan.

Dalam tahun 1900 terbentuk suatu panitia yang bertugas untuk merencanakan penyelamatan Candi Borobudur. Gagasan seorang anggota untuk melingkupi bangunannya dengan sebuah kubah raksasa dari seng tidak mendapat sambutan. Pun pemikiran lama untuk memindahkan relief Borobudur ke museum tidak mendapat perhatian.

Beberapa tahun kemudian (1905) keluarlah putusan pemerintah dari negeri Belanda, yang menyetujui usul dari panitia dan menyediakan biayanya sekali sebesar FI. 48.800. Sebagai pelaksana ditunjuk Van Erp yang sebagai anggota panitia telah mengetahui betul masalahnya.

Van Erp memulai tugasnya dalam bulan Agustus 1907. Selama 7 bulan pertama dilakukanlah penggalian, baik dibagian atas bangunan maupun dihalaman candi. Sejumlah besar batu candi ternyata dapat melengkapkan berbagai bagian penting candinya sehingga dalam tahun 1809 Van Erp mengusulkan diadakannya tindakan yang merupakan langkah lebih lanjut dari rencananya semula.

Usul ini disetujui dengan disertai tambahan biaya sebesar FI. 34.600, sehingga dapat dilakukan restorasi terhadap pagar langkan, dinding lorong pertama, saluran air dibawah bukit, tangga bagian bawah, gapura dan relung beserta stupa kecilnya. Bagian Arupadhatu dengan lingkaran stupanya bahkan dibongkar sama sekali untuk kemudian dibangun kembali lagi. Demikian pagar langkan yang paling atas.

Borobudur pulih
Pekerjaan Van Erp selesai dalam tahun 1911. Borobudur telah pulih kembali dalam kemegahannya semula, meskipun masih ada berbagai kekurangannya. Sebuah “controlevoeg” (sambungan pengaman) antara dua buah batu pada bagian dinding yang paling miring disebelah Barat tangga Utara tingkat pertama menjadi petunjuk selanjutnya akan adanya perubahan mengenai keadaan dindingnya. Bilamana “controlevoeg” itu patah, ini berarti Borobudur dalam keadaan bahaya.

Sebagai lanjutan dari usaha Van Erp secara terus-menerus dilakukan pengamatan baik terhadap keadaan bangunannya maupun terhadap keadaan batu-batunya, sedangkan pada waktu tertentu diadakan pengukuran terhadap kemiringan dindingnya.
Betapa pentingnya pengamatan yang ketat terbukti kebenarannya sewaktu dalam bulan Januari tahun 1926 dapat diketahui adanya pengrusakan sengaja yang dilakukan oleh beberapa wisatawan asing yang rupanya ingin memiliki tandamata dari Borobudur.

Peristiwa ini mengakibatkan diadakannya penelitian terhadap keadaan batu-batunya khusus dari reliefnya. Ternyata banyak relief memperlihatkan retak-retak baru. Timbullah pertanyaan apakah yang menjadi sebab : tangan jahil atau proses alamiah ?.

Sebab kerusakan
Perbandingan antara keadaan reliefnya dengan fotonya yang diambil dalam tahun 1910, batu demi batu, akhirnya memberi kesimpulan bahwa retak-retak baru tadi tidak disebabkan karena vandalisme. Pun tidak karena kikisan air dan tumbuhnya lumut ataupun karena besarnya tekanan vertikal.

Penelitian menunjukkan bahwa yang menjadi sebab utama adalah pergantian suhu yang terlalu cepat (panas terik yang segera disusul oleh hujan) dan yang berlangsung terus-menerus.
Bagaimana mencegah pengaruh buruk dari iklim itu tidak dapat diketahui dengan pasti. Maka kenyataan bahwa dari 120 bidang relief Lalitawistara ada 40 yang mengalami kerusakan menimbulkan rasa prihatin khusus pada awal tahun 1929.

Tiga macam kerusakan
Penelitian panitia ini menghasilkan kesimpulan akan adanya 3 macam kerusakan, yang masing-masing disebabkan karena
a) korosi
b) kerja mekanis
c) kekuatan tekanan

Korosi disebabkan karena pengaruh iklim dan sebagian besar dari kerusakan jenis ini terdapat pada batu-batu yag kurang baik kwalitasnya. Lapisan oker kuning yang dahulu dimaksudkan untuk meratakan warna relief demi keperluan pemotretan, ternyata menjadi pelindung bagi batu-batu yang keras tetapi sebaliknya menyebabkan batu-batu yang lunak mengelupas.

Cendawan dan lumut mengakibatkan korosi juga tetapi sebab yang pokok dan terkuat adalah banyaknya air yang keluar dari dalam bangunannya melalui celah batu dan melalui pori-pori batunya sendiri.

Kerusakan mekanis disebabkan batu-batunnya berupa retak atau kekuatan lain yang berasal dari luar. Terdapatkannya pada bagian relief yang timbul atau menonjol. Sebagian besar mungkin sudah terjadi sebelum pemotretan tahun 1870 atau 1910, tetapi perbandingan foto itu dengan keadaannya dalam tahun 1929 menunjukkan bahwa kerusakan itu telah bertambah.

Kerusakan karena tekanan bobot batu-batunya berua retak bahkan pecah-pecah, yang vertikal. Terjadinya kebanyakan pada dinding yang melesak, adapula beberapa tempat yang batunya praktis remuk atau bergeser yaitu pada sambungan horizontal.
Mengenai tekanan ini dikemukakan bahwa kekuatannya dapat berubah sejalan dengan makin melesaknya bagian dinding. Proses ini lambat sekali tetapi dapat juga berubah cepat bilamana ada gempa bumi.